Aku membeku, memandang tubuh tak bernyawa Prajurit Felix disela jeritan panjang Alma.
Pandanganku berputar,
semua terjadi terlalu cepat sampai rasanya ini bukan hal yang nyata.
.
.
Aku balik memandang wajah kaku Prajurit Felix.
Sebulir air mata mengalir dari ujung kelopak mata yang terbuka, membasahi fitur pipi tirusnya.
.
.
Tidak..
Tuhan..
Kapten juga terlambat meregister apa yang telah terjadi, namun pada akhirnya ia pun mengeluarkan jerit pilu.
"AH TIDAK! TIDAK MUNGKIN FELIX!"
Belum pernah aku melihat Kapten Ryan tercekat.
"Felix!! astaga Tuhan!"
Gery yang takut melihat darah merosot lemas disebelah Kapten walau masih berusaha menahan pintu.
Kopral Agam dengan cepat membuka kemeja luarnya dan meletakkannya keatas wajah Prajurit Felix untuk menutupinya.
Tak memberi kesempatan kami untuk bernafas, zombie-zombie itu kembali berusaha mendobrak membuat Sam akhirnya juga meledak, meneriakkan kata sumpah serapah persis seperti orang yang sudah kehilangan akal.
"Luce! Alma!"
Panggil Kopral Agam yang berusaha mengambil alih situasi.
"Kalian berdua bantu tahan pintunya! Gerald dan Gery, cepat ikut aku mengambil sesuatu terdekat untuk memblokir pintunya!"
Tanpa berlama lagi, kami bertukar posisi.
Aku melompat kesebelah Kapten menggantikan Gery, dan Alma menggantikan posisi Gerald.
"Kalian bisa kan?"
Kopral Agam memastikan kembali.
Aku menjawab dengan mengangguk.
"Oke!"
Ia menggangguk sekali pada Kapten yang masih berusaha keras mengontrol diri, dan menggesturkan dua temanku itu untuk cepat mengikutinya.
BRAK!!BRAK!!GEDUBRAK!!
"OH TUHAN!"
Pekik Alma yang menahan disebelah Sam.
Aku menunduk. Menahan pintu dengan punggung, membuat badanku terus tersentak-sentak kedepan.
Kubangan darah Prajurit Felix pun dilantai terlihat semakin melebar.
"Oh--Kapt,"
Hembusku berusaha keras menahan isak tangis.
"Astaga Kapt-"
"Luce-"
Kurasakan pergelangan tangan kiriku digenggamnya hingga membuatku perlahan mendongak.
Kapten disamping memandangiku dengan sorotan mata yang sama persis seperti Briptu Malik ketika kehilangan Briptu Adam,
sahabatnya.
"Oh maafkan aku ya Kapt-"
Kubenamkan segera wajahku ke lengannya.
"Kapt, ya Tuhan, sungguh maafkan aku-"
"Sshh i-ni bu-kanlah salahmu."
Balasnya dengan tercekat.
"Lucy, ini bu-kan-"
Ia akhirnya tak melanjutkan.
Ditumpukan dagunya pelan diatas kepalaku sambil menghembuskan napas bergetar.
Akupun menelan ludah, memandang lagi bagaimana kubangan darah di lantai yang melebar,
KAMU SEDANG MEMBACA
RED CITY : ISOLATION
AkčníRasa-rasanya, diriku sudah mengalami hal-hal buruk yang umum menimpa manusia yang masih hidup di bumi. Kehilangan orang tua di usia muda? Sudah kualami. Hidup sendiri dan bermusuhan dengan kakak kandung sendiri? Sedang kualami. Aku tahu keadaan buru...
