Chapter 46

17.4K 1.3K 38
                                        

Ali Prilly Special 2.

Ali mengacak rambutnya frustasi, ditatapnya berkas-berkas yang berserakan dimana-mana. Hari ini ia sangat geram pada Papanya karena menyerahkan semua tugas serta pekerjaannya yang tertinggal. Papanya tak mau tahu, yang terpenting berkas itu sudah selesai dalam sehari.

"Papa bikin emosi aja. Udah tau pengen berduaan sama Prilly dirumah. Malah disuruh beginian. Shit! Sial banget gue." sentak Ali membuang berkas-berkas itu tak perduli.

Ia mengambil ponsel yang berada di ujung meja lalu mengetik pesan singkat untuk istrinya.

Sayang, lagi apa? Aku bosan. Kesini kek temenin aku.

Pemberitahuan muncul, pertanda bahwa pesan itu sudah terkirim. Tinggal menunggu balasan dari Prilly saja.

Aku sibuk. Maaf.

Nafas Ali tercekat. Akhir-akhir ini Prilly seperti menjauhinya, gadis itu seperti tak menganggapnya ada. Apakah Prilly frustasi? Akhir-akhir ini Ali selalu pulang larut, itu semua karena papanya yang selalu memberikan berkas-berkas yang menurutnya tak penting. Bahkan, setiap ia ada waktu luang untuk memanjakan Prilly selalu saja ada halangannya. Sampai akhirnya ia benar-benar tak punya waktu untuk menjaga ataupun memantau Prilly. Gadis itu terus merengek jika Ali pulang larut lalu berangkat terlalu pagi hingga Prilly tak bisa melihat jelas wajah suaminya yang tak kunjung dilupakan.

"Sekarang, Prilly pun menjauh dari gue." Ali merutuki dirinya sendiri. Ia meninggalkan meja kantor dan berlalu menuju restoran di persimpangan kantor Ali.

Ia memasuki restoran itu dan melihat Digo dan Kevin yang sudah menunggunya sedari tadi. Ali duduk ditengah-tengah mereka sembari melonggarkan dasi dan mengacak rambutnya asal.

"Napa lo? Frustasi?" tanya Digo sambil memakan steak yang tinggal setengah.

"Sisi sama Mila mana? Tumben gak sama lo berdua." tanya Ali mengalihkan pembicaraan.

"Sisi lagi chek-up."

"Mila lagi ngurusin pelanggannya."

Ali mengangguk, ternyata kekasih kedua sahabatnya juga tengah sibuk mengerjakan suatu hal. Namun, Mila dan Sisi menggunakan alasan. Prilly? Ia mendial nomor Prilly hingga suara lembut gadis itu terdengar di telinga Ali.

"Dimana sayang?"

Dimana aja boleh.

"Kok gitu jawabnya?"

Emang kenapa? Walaupun aku pergi juga kamu gak akan perduli kan?

"Apa sih Prill! Aku perduli sama kamu."

Gak! Kamu lebih perduli sama pekerjaanmu saja. Sampai-sampai aku sakit saja kau tak tau kan?

Learn To LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang