In the Morning

3.2K 175 2
                                        

Cause you were mine for the summer
Now we know it's nearly over
Feels like snow in September
But I always will remember
You were my summer love
You always will be my summer love

******

Bunyi burung berkicau mengisi keheningan dikamar bercat putih itu. Aisyah mengerjap-ngerjapkan matanya. Membiasakan Cahaya matahari yang masuk kedalam matanya. Ia melihat sekeliling ruangan. Ia mengangkat alisnya mendapati hanya dirinya yang berada dikamarnya. Aisyah bangkit dari ranjang menuju pintu.

"Jean?!" Teriak Aisyah. Ia ingin memastikan kalau gadis itu masih disana. Tak mungkin juga jika Jean pulang sepagi ini.

Bau harum roti panggang dengan campuran kopi memasuki Indra penciuman Aisyah. Ia merasa Jean ada didapur. Karena hanya mereka berdua yang berada diapartemen ini.

"Jean?" Panggil Aisyah. Jean yang membelakanginya memutar tumit. Melihat kearah Aisyah yang berpenampilan Berantakan Khas Bangun tidur. Dia bahkan tidak sempat mengikat Rambutnya. Sedangkan Jean,Ia sudah rapi dengan Kaos dan Celana Pendek selutut miliknya yang semalam.

"Hai Ai. Kau sudah bangun? Aku sudah membuatkanmu Sarapan. Maaf ya aku hanya membuat Roti panggang dengan kopi. Aku tak terlalu bisa memasak." Ujar Jean begitu Aisyah sudah duduk dipantry. Jean menyodorkan Piring berisi dua lembar Roti panggang dan segelas Kopi pada aisyah. Aisyah tersenyum lalu meneguk sedikit Kopi yang masih hangat itu.

"Tak apa. Lagipula,aku tidak terlalu biasa sarapan dengan Nasi Goreng atau makanan lainnya. Mungkin Roti dengan kopi tidak buruk. Dan masakanmu juga enak." Jawab Aisyah. Jean tersenyum lebar lalu Melepaskan apronnya. Ia ikut duduk dikursi pantry sebelah Aisyah. Ia juga memakan roti panggang dan meminum Kopinya.

"Ohya,kau belum bercerita tentang pertemuanmu dengan zayn kemarin. Sekarang ceritakan!" Jean memasang wajah Antusiasnya. Aisyah terkekeh lalu sedikit meneguk kopinya.

"Kami hanya berbincang. Lalu datang mantan Kekasihnya yang bernama Gigi itu. Kau tahu,Zayn mengaku pada Gigi kalau aku adalah Kekasihnya. Gila bukan?" Jean terkekeh.

"Harusnya kau senang! Kau diakui oleh Zayn sebagai kekasihnya didepan Mantannya sendiri. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan gigi saat itu."

"Tidak. Aku tidak senang sama sekali. Aku mencoba menjelaskan pada Gigi kalau dia hanya salah paham. Tapi zayn bersikeras mengakui kalau kami sepasang kekasih. Benar-benar membuatku Jengkel padanya."

"Aku mengerti." Jean meneguk Kopinya. "Zayn melakukan itu untuk membuat Gigi cemburu. Sepertinya ia ingin balas dendam." Lanjutnya seraya mengangkat bahu.

"Sepertinya begitu. Dan sialnya,aku yang harus jadi korbannya. Sangat tidak elit sekali." Ujar Aisyah sambil Tertawa.

Saat jean akan merespon,Bunyi Telepon Berbunyi. Aisyah berlari kearah kamar mengambil ponselnya. Nama 'Ayah' tertulis dilayar ponselnya. Aisyah menepuk Jidatnya pelan. Astaga,sudah berapa lama ia diLondon dan ia belum mengabarkan Pada Ayah dan bundanya sama sekali.

"Halo yah,Assalamualaikum?" Ujar Aisyah pelan. Ia siap jika harus menerima Berbagai celoteh dari Bundanya.

"Halo Sayang? Gimana kabar kamu? Kenapa gak ngabarin Bunda sama Ayah? Kamu gak tahu Bunda itu khawatir banget sama kamu." Suara Bunda Aisyah Menggema ditelinganya.

"Maaf bun. Aisyah lupa ngabarin bunda sama Ayah disana. Sumpah bun,aisyah bener-bener lupa. Maafin Aisyah Bun.." Jawab Aisyah. Disebrang sana Bundanya menghela nafas. Sepertinya ia benar-benar membuat orang tuanya begitu Khawatir.

Love You Because ALLAH [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang