Brruumm
Ciit...
Motor Ifan berhenti di depan rumah Nadia.
"Makasih ya Fan, udah anter gue pulang. Makasih juga udah mau belajar bareng sama gue, Fathin dan yang lain,"
"Iya, sama-sama sayang. Mulai sekarang, gak usah panggil Ifan, panggil aja sayang atau yayang,"
"Iya, Fan, eh--sayang,"
"Iya,"
"Pulang gih, udah malem,"
"Tadinya sih mau pulang. Tapi kalau liat bidadari cantik dihadapan gue, gue gak mau pulang. Gue mau tetep disini," Ifan tersenyum genit.
"Ih, bisa aja. Udah sana pulang. Ntar dicari sama Mama lo,"
"Iya deh gue pulang. Lo juga masuk rumah gih. Ntar camer (calon mertua) gue nyariin,"
"Apaan sih. Ya udah bye!" Nadia melambaikan tangan.
"Bye!" Ifan membalas lambaian tangan Nadia.
Ifan pun menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan rumah Nadia menyusuri jalanan.
"Assalamu'alaikum, aku pulang," kata Nadia sambil membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumussalaam. Darimana aja kamu!? Jam segini baru pulang," Kata Mama Nadia ketus sambil melihat jam berbentuk kepala kucing yang tertempel di dinding rumah. Jam itu menunjukkan pukul 21.00.
"Tadi Nadia habis belajar bareng sama temen-temen, Ma. Maaf tadi gak pamit. Soalnya tadi Mama lagi pergi,"
"Oh. Cowok yang anter kamu itu siapa?" Tanya Mama Nadia.
"Oh, itu Ifan, Ma. Dia pacar aku," Nadia tersenyum.
"Pacar?! Kamu itu masih kelas 9, Jangan mikir pacaran dulu!"
"Tapi, kok Rena boleh pacaran?"
"Rena itu beda. Mama udah kenal baik sama keluarganya Gio, pacar Rena. Selain itu, keluarga mereka juga kaya. Papanya Polisi, ibunya pengusaha dan Gio juga selain sekolah, dia personil band yang terkenal di kota ini. Kalau Rena jodoh sama Gio, Rena pasti bahagia. Gak kayak kamu! Mama sama sekali belum pernah liat cowok kayak dia. Lagian, Mama gak yakin kalau dia orang baik baik, "
"Ma, aku sama dia belum genap sehari pacaran. Baru tadi pagi di sekolah Ifan nembak aku. Ya wajarlah kalau Mama belum kenal. Besok Ifan mau ke rumah. Aku mau kenalin Ifan ke Mama,"
"Oke. Tapi, bentar lagi kamu UN. Inget itu! Awas aja kalau nilaimu jelek! Nilaimu harus bagus. Lihat tuh Rena, dia selalu dapet nilai bagus. Gak kayak kamu!"
"Ma, sebenarnya aku ini anak Mama atau bukan sih? Apa anak Mama disini cuma Rena? Mama selalu membanding-bandingkan aku sama Rena!" Nadia mulai kesal.
Mama hanya terdiam.
"Jawab, Ma. Kalau Nadia anak Mama, kenapa Mama pilih kasih? Kenapa Mama lebih sayang sama Rena, dan seolah-olah benci sama aku? Kenapa Ma? Kenapa?" Nadia mulai mengeluarkan air matanya.
"Iya, kamu itu anak Mama! Anak pertama Mama sama Papa! Kamu mau tau Mama kayak gini ke kamu itu kenapa?"
"Kenapa Ma?" Air matanya sudah mengalir ke pipi.
"Karena kamu itu beda! Beda sama anak lain! Disaat temen-temen Mama cerita tentang anaknya masing-masing yang juara ini, juara itu. Pinter ini, pinter itu. Jago ini, jago itu. Tapi Mama? Mama gak bisa cerita kelebihan kamu di depan teman-teman Mama. Mama malu! Untung aja ada Rena, jadi Mama bisa cerita kelebihan salah satu anak Mama itu,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing Impossible
Novela Juvenil[SUDAH TAMAT] Nadia selalu berada di peringkat terakhir di sekolah. Dia juga tidak punya bakat apapun. Apa-apa yang dilakukannya selalu salah dimata orang. Dia ingin seperti teman dan adiknya yang selalu jadi juara 1. Namun orang-orang sekelilingnya...
