Pagi ini mentari tampak cerah, tapi berbeda dengan Nadia yang berangkat sekolah dengan muka masam. Dia masih kesal dengan kedua orangtuanya. Sampai-sampai tidak mau mencium tangan kedua orangtuanya itu.
Di dalam mobil, ia hanya memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya.
"Non Nadia, dari tadi mang lihat Nona kok cemberut terus? Emang lagi ada masalah ya?" Tanya Mang Udin, supir Nadia.
"Iya! Tapi udah lah, gak usah dipikir. Cuma masalah biasa kok,"
"Oh. Ya udah kalau kayak gitu,"
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sekolah.
"Dah sampai, Non,"
"Iya, makasih ya Mang," Nadia pun turun dari mobil.
"Iya, hati-hati Non,"
Baru saja Nadia melangkah, tiba-tiba dia terjatuh dan tali sepatunya lepas. Nadia meringis kesakitan sambil memegangi lututnya yang terluka.
Datanglah seseorang yang berdiri di depan Nadia. Nadia mendongak ke atas dan ternyata orang itu adalah Ifan.
"Hai cantik, lo gak papa?"
"Gak papa sih, cuma lecet di lutut,"
"Itu namanya apa-apa," Ifan jongkok dan melihat lutut Nadia.
"Wah, lukanya parah nih. Kalau gak di tangani, bisa bahaya," lanjutnya.
"Gak papa kok, nanti juga sembuh," Kata Nadia.
"Gue anterin ke UKS ya,"
"Iya, tapi sebentar ya, tali sepatu gue lepas. Gue mau taliin dulu,"
"Eh, gak usah. Sini, biar gue yang taliin sepatu lo," Ifan pun menalikan tali sepatu Nadia yang terlepas.
*Ternyata, selain ganteng, Ifan juga baik banget* Batin Nadia.
"Yuk, ke UKS," ajak Ifan. Nadia hanya mengangguk sambil tersenyum.
***
"Baik, anak-anak. Sesuai janji kita kemarin, hari ini ulangan," Kata Bu Rima, guru IPA.
"Hah? Ulangan? Waduh, mampus gue! Gue belum belajar sama sekali!" Kata Fathin.
"Bu saya belum belajar. Ulangannya diundur ya Bu," Kata seorang siswa.
"Lagian ngapain ulangan sih Bu. Materinya kan belum selesai," Kata Ifan.
Kelas pun menjadi gaduh dengan keluhan para siswa.
"Sudah, sudah!! Gak ada alasan! Kalian kemarin kan sudah setuju kalau hari ini ulangan! Pokoknya hari ini ulangan!" Ujar Bu Ria.
Semua siswa mendengus kesal, termasuk Nadia.
"Thin, gimana nih. Gue belum belajar," Kata Nadia.
"Sama gue juga. Pasrah aja deh, ya," Kata Fathin.
"Iya deh,"
"Udah lah. Sebisanya aja," Kata Lia.
"Iya, pasrah lillahi ta'ala aja dah," Kata Cinta.
"Nanti contek-contekan aja ya," Kata Fathin.
"Oke," Kata Nadia, Cinta dan Lia.
Ulangan pun dimulai...
"Ssstt...ssstt.. Nad, nomer 1-5 apa?" Tanya Fathin lirih.
"a d e b c," Nadia tak kalah lirih.
"Ehm...ehm. Jangan ada yang menyontek ya, kerjakan sendiri. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri," Kata Bu Ria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing Impossible
Teen Fiction[SUDAH TAMAT] Nadia selalu berada di peringkat terakhir di sekolah. Dia juga tidak punya bakat apapun. Apa-apa yang dilakukannya selalu salah dimata orang. Dia ingin seperti teman dan adiknya yang selalu jadi juara 1. Namun orang-orang sekelilingnya...
