"Yang terburuk tidak selamanya buruk. Yang terbaik tidak selamanya baik."
Pagi-pagi sekali, Nadia sudah bangun. Hari ini, Nadia membantu Mamanya menyapu, mengepel lantai, dan menyiapkan sarapan. Hari ini, ia juga belajar memasak.
"Mau masak apa, Ma?" tanya Nadia.
"Kita masak telur dadar aja ya, Nad," kata Mama.
"Iya, Ma."
Nadia pun membantu Mama mulai dari mengiris cabai, mengiris daun bawang hingga mencoba menggoreng telur tersebut.
Disela-sela memasak, Nadia berbicara. "Ma, besok pengumuman SBMPTN. Doakan ya, Ma."
Mama tersenyum. "Iya, sayang. Pasti Mama doakan."
Nadia tersenyum, tetapi selanjutnya tampak ragu.
"Ma, kalau aku nggak keterima lewat jalur SBMPTN, mending aku ikut ujian mandiri, atau malah nggak usah kuliah?"
Mama mengernyit. "Ya... mudah-mudahan kamu keterima SBMPTN, sayang. Kalau enggak, kamu ikut jalur mandiri aja. Tapi kalau belum rezekinya, kamu bisa masuk perguruan tinggi swasta."
Nadia tersenyum. "Mudah-mudahan Nadia bisa dapat yang terbaik."
"Aamiin. Yang penting kamu jangan lupa berdoa ya."
"Iya, Ma."
Setelah makanan siap, keluarga Nadia pun menikmatinya. Kebetulan, hari ini Rena masih liburan semester dan Papa sedang cuti.
"Tadi Nadia bantu Mama masak ini, lho," kata Mama bangga.
Rena mendongak. "Oh ya? Wah, enak lho masakannya."
Nadia tersenyum. "Ah, bisa aja. Ini juga resep Mama kok. Aku cuma ngikutin. Cuma...maaf ya. Bentuk telurnya rada aneh. Ada yang gosong juga dikit."
Papa menyahut, "nggak apa-apa. Yang penting masakannya enak. Besok lagi, kamu harus sering belajar masak sama Mama. Kamu juga, Rena. Kamu juga ikut kakak sama Mama kamu belajar masak. Dengan begini, kita nggak perlu makan di restoran buat menikmati hidangan enak."
"Hahahaha, Papa bisa aja," kata Rena tertawa.
"Ya udah, dilanjutin makannya. Nanti keburu nggak enak," ujar Mama.
Semua pun tersenyum dan melanjutkan makan. Nadia senang akhirnya keluarga mereka bisa harmonis. Belum pernah sebelumnya ia merasakan kebahagiaan seperti ini di keluarganya.
Semoga, hal ini bisa berlangsung selamanya.
***
Hari ini adalah hari pengumuman SBMPTN.
Tepat pukul 17.00. Jantung Nadia berdegup dengan kencang sebelum membuka website pengumuman SBMPTN.
Nadia berada di kamarnya, berhadapan dengan laptop dan ditemani keluarganya.
"Berdoa dulu, Nad, sebelum buka websitenya," saran Papa.
Nadia mengangguk. "Iya, Pa."
Nadia pun berdoa, setelah itu, ia memberanikan diri membuka website tersebut dan memasukkan nomor peserta.
Beberapa saat kemudian...
'Selamat Anda dinyatakan lulus SBMPTN.'
Tulisan tersebut membuat Nadia beserta keluarganya bahagia. Ia tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah. Terlebih, mengetahui bahwa ia diterima di pilihan pertama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing Impossible
Fiksi Remaja[SUDAH TAMAT] Nadia selalu berada di peringkat terakhir di sekolah. Dia juga tidak punya bakat apapun. Apa-apa yang dilakukannya selalu salah dimata orang. Dia ingin seperti teman dan adiknya yang selalu jadi juara 1. Namun orang-orang sekelilingnya...
