"Jangan.. kau pilih dia. Pilihlah aku, yang mampu mencintamu lebih dari diaa..." lagu tersebut jadi lagu yang dinyanyikan Nadia, Ifan dan Fathin di tempat karaoke ini. Mereka masih saja asyik bernyanyi di tempat itu, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.
"Eh, Fan. Udah jam segini. Pulang yuk. Aku takut dimarahin Mama," Ajak Nadia yang menyadari bahwa ini saatnya dia pulang.
"Mmhh.. ya udah yuk," Kata Ifan.
"Thin, kita duluan ya," Kata Nadia.
"Oh, ya. Hati-hati," Kata Fathin. Tanpa membalas ucapan Fathin, Nadia dan Ifan berlalu pergi.
***
Sekarang Nadia sudah sampai di rumahnya. Saat melewati ruang keluarga, didapatinya Mama Nadia yang tertidur di sofa putih.
"Fyuh. Seenggaknya gue sekarang aman," Gumam Nadia.
Nadia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Keesokan harinya...
Hari Sabtu ini digunakan Nadia untuk mengerjakan soal latihan Ujian Nasional. Ia duduk di karpet ruang keluarga sambil membuka buku latihan soal yang ditaruh di meja. Halaman demi halaman Nadia coba kerjakan.
"Duh, kok nomer 1 susah sih. Oke deh, lewati dulu," Nadia berbicara pada dirinya sendiri
"Aduh! Nomer 2 malah tambah susah. Iihh... soalnya susah semuaaa," Kata Nadia tambah kesal.
Dreett dreett...
Handphone Nadia bergetar. Setelah Nadia meraih handphonenya, ternyata ada SMS dari Ifan.
Ifanku sayang : Hi syg, lg apa? Jalan yuk...
Nadia Indriani: Lg bljr. Jalan? Nggak ah
Setelah pesan untuk Ifan terkirim, tiba-tiba datang Mama Nadia.
Nadia pun berpura-pura sibuk mengerjakan soal latihan.
"Nah, gitu dong belajar. Nggak main mulu," Kata Mama Nadia yang berhasil membuat Nadia tersenyum bangga.
"Mama mau pergi ke pasar dulu. Kamu jangan kemana-mana ya," lanjut Mama Nadia.
"Iya, Ma. Siap," Kata Nadia. Mama Nadia pun pergi.
Dreet...dreet
Hp Nadia bergetar lagi. Nadia yakin itu pasti SMS dari Ifan.
Nadia membuka SMS itu. Sesuai dugaan, nama pengirim tersebut Ifan.
Ifanku Sayang : Kenapa? :'(
Nadia Indriani: Kan aku lg bljr..
Ifanku Sayang : Bljrnya nanti ja. Mending kita jalan-jalan dulu. Have fun gt. Bosen d rmh mulu.
'Jalan nggak ya? Kalau jalan, nanti di marahin Mama. Tapi, kalau belajar juga percuma. Soal latihannya susah semua. Apa jalan-jalan aja deh. Toh, di rumah juga lagi nggak ada siapa-siapa,' Batin Nadia
Nadia Indriani: Mmhhh... iya deh. Kita jalan-jalan. Tapi sebentar aja ya?
Sudah satu menit Nadia menunggu balasan Ifan. Tapi tak kunjung di balas.
Dreet...dreet
"Akhirnya balas juga," gumam Nadia.
Ifanku Sayang : Nah, gt donk! Jalan k taman aja yuk..
'Taman? Kayaknya asyik' pikir Nadia.
Nadia Indriani: oke. ;)
***
Nadia dan Ifan sedang duduk di bangku taman sambil menikmati es krim.
"Nad," Kata Ifan yang sedang memegang cup es krim.
"Hmm," Kata Nadia sekenanya yang masih saja memakan es krim.
"Kamu sayang nggak sama aku?" Tanya Ifan. Nadia menatap Ifan sambil mengernyitkan.
"Sa..sayang. Emang kenapa, Fan? Kok mendadak tanya kayak gitu?"
"Nggak papa. Aku cuma mau pastiin aja. Soalnya, sikap Cecep kemarin itu aneh banget. Dia kayak.. cemburu. Tapi, kamu udah putusin Cecep, kan?"
"Udah, Fan. Emang kenapa sih?"
"Ya aku takut aja kalau kamu masih sayang sama Cecep. Kamu mau pacaran sama aku dan rela putusin Cecep bukan karena terpaksa, kan?"
"Nggak kok Fan. Asal kamu tau. Sebenarnya, aku cuma pura-pura pacaran sama Cecep. Aku nggak ada perasaan apapun sama dia. Dia juga nggak cinta sama aku. Aku mau pacaran pura-pura cuma karena kasian sama dia yang waktu itu sering kamu bully. Dulu kan kamu sering ngejek dia nggak punya pacar dan nggak punya temen. Tapi aku sekarang yakin, kamu udah berubah jadi lebih baik," Kata Nadia menatap Ifan sambil tersenyum.
"Pacar pura-pura?" Tanya Ifan mengernyitkan dahinya.
"Iya. Udah, nggak usah dipikir. Yang penting kita jalanin aja apa yang ada sekarang. Yang harus kamu tau, aku sayang banget sama kamu," Kata Nadia tersenyum. Ifan membalas senyuman Nadia.
"Iya sayang. Aku juga sayang sama kamu. Aku kan berubah juga karena kamu,"
"Iya, Ifanku sayaangg,"
"Bisa aja nih Nadianya Ifan," Kata Ifan mencubit pipi Nadia dan Nadia pun memeluk Ifan. Ifan membalas pelukan Nadia.
***
Hari Senin. Hari yang tidak diinginkan sebagian orang, termasuk Nadia. Belum lagi Hari Senin sekarang ini adalah untuk pertama kalinya siswa kelas 9F melaksanakan TPM (tes pendalaman materi)
"Sukses TPM ya sayang," Kata Ifan mengelus rambut Nadia.
"Iya sayang. Semoga sukses juga ya,"
"Iya,"
Mereka segera masuk ke ruang ujian karena ujian akan segera dimulai...
Jam istirahat...
Nadia sedang asyik meminum milkshake coklat sambil duduk di bangku kantin. Tiba-tiba datang seseorang yang kemudian duduk di bangku yang ada di depan Nadia.
"Hai, Nad. Gu..Gue ganggu, nggak?" Tanya orang itu. Nadia menatap orang itu.
"Cecep?" Kata Nadia.
"Hai, Nad," Kata orang itu yang ternyata Cecep, sambil tersenyum.
"Lo ngapain ke sini?"
"Lo Ma..masih pacaran sa..sama Ifan?"
"Iya, terus?"
"Gu..Gue cu..Cuma mau ngasih tau sesuatu,"
"Apaan?"
"Lo ha..harus hati-hati sa..sama dia. Dia itu bu..bukan orang ba..baik-baik. Dia itu su..suka nyakitin hati ce..cewek. Sekarang aja u..udah banyak korban dia,"
"Hah? Apa lo bilang? Ifan suka nyakitin cewek? Lo gila? Gak mungkin Ifan kayak gitu,"
"Tapi, u..udah ba..banyak korban dia. Ba..banyak cewek yang nangis karna kelakuan dia,"
"Gue nggak percaya sama lo! Mungkin Ifan bisa aja sih, kayak gitu. Tapi itu dulu! Sekarang gue yakin Ifan udah berubah. Dia juga sayang banget sama gue! Gue yakin seyakin-yakinnya, kalau Ifan itu sekarang beda sama Ifan yang dulu!"
"Terserah kalau lo nggak percaya. Kalau Ifan nyakitin lo, lo nggak boleh nyesel," Tanpa membalas kata-kata Cecep, Nadia langsung pergi.
*****
Hay readers... akhirnya setelah sekian lama aku bisa update lagi Yeay..
Ada yang kangen sama Nadia nggak? Atau kangen sama aku? *Krik krik krik*
Oke... terserah kalian mau kritik atau kasih saran apa buat cerita ini... Jangan lupa Vote dan comment ya
Baca juga ceritaku yang lain yaaa
See you
Bye bye bye...
;)
KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing Impossible
Genç Kurgu[SUDAH TAMAT] Nadia selalu berada di peringkat terakhir di sekolah. Dia juga tidak punya bakat apapun. Apa-apa yang dilakukannya selalu salah dimata orang. Dia ingin seperti teman dan adiknya yang selalu jadi juara 1. Namun orang-orang sekelilingnya...
