4.2

5.4K 332 189
                                        

Justin's Point of View.

Aku selalu merasa jika ada sesuatu yang ada di dalam diri Madison yang membuatku begitu tertarik padanya. Aku selalu berpikir jika mungkin hal yang membuatku merasa begitu tertarik padanya adalah karena kepolosan dan keluguannya karena aku tak pernah bertemu dengan wanita sepolos dan selugu dirinya. Aku selalu berpikir seperti itu dan kupikir itu adalah alasan mengapa aku membawanya ke rumah ini. Namun kurasa aku salah. Ini sama sekali bukan tentang sesuatu yang ada di dalam dirinya. Ini sama sekali bukan tentang itu. Ini tentang dirinya. Ini tentang Madison. Kurasa aku merasa begitu tertarik padanya sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Dan kurasa itu adalah alasan mengapa aku membawanya ke rumah ini untuk tinggal bersamaku dan yang lainnya.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam dapur dan langsung bergegas menuju lemari pendingin untuk mengambil sekaleng bir dari dalam lemari pendinginnya. Aku kembali melangkah keluar sambil membawa sekaleng bir yang berada di genggaman tanganku. Aku menjatuhkan tubuhku pada sofa di belakangku, sambil berusaha untuk membuka kaleng birnya. Aku meneguk birnya, lalu meletakkannya di atas meja di hadapanku. Aku meletakkan kedua kakiku di atas meja, sementara tanganku merogoh saku celanaku untuk mengambil sebatang rokok.

Ketika aku hendak menyalakan rokok yang kini sudah bertengger di mulutku, Josh datang menghampiriku. Aku menurunkan kakiku agar ia bisa melangkah dan duduk di sampingku lalu kembali menaikkan kakiku ke atas meja. Aku menutup kedua mataku sambil menghembuskan asap rokoknya dari mulutku dengan perlahan.

"Kau akan membiarkan Madison ikut malam ini?" Tanyanya, yang membuatku membuka kembali kedua mataku.

Aku mengangkat kedua bahuku. "Ia memaksa untuk ikut,"

Ia menghela napasnya. "Mengapa kau tidak menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah?"

"Aku sudah melakukannya," Ucapku. "Namun ia terlalu keras kepala."

Kurasa Josh mencemaskan hal yang sama denganku. Terakhir kali Madison ikut bersama kami, ia terkena luka tembak. Mungkin ia khawatir jika sesuatu yang buruk, atau mungkin lebih buruk, menimpa Madison. Begitupula denganku. Aku merasa cemas ketika ia memaksa untuk ikut bersama kami malam ini. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Aku sama sekali tidak masalah jika ada sesuatu yang mengancam keselamatanku ataupun yang lainnya karena kami bisa menjaga diri kami sendiri. Tapi Madison? Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan sebuah senjata.

Kurasa aku memang membawa pengaruh buruk baginya. Aku masih mengingat kepolosan dan keluguannya sebelum aku mengubahnya menjadi seperti.. kami. Namun nampaknya ia tidak begitu keberatan dengan hal itu.

"Apa kau bisa berbicara dengannya kembali?" Gumam Josh, yang membuatku tersadar dari lamunanku. "Maksudku, aku tak ingin ia kembali mengalami kejadian beberapa minggu yang lalu."

"Aku mengerti," Aku mengangguk sambil mematikan rokokku. "Aku akan menemuinya."

Aku meneguk habis bir milikku sebelum bergegas untuk menemui Madison di kamarnya. Aku langsung masuk begitu saja ke dalam kamarnya tanpa mengetuk kamarnya terlebih dahulu. Ketika aku melangkahkan kakiku ke dalam kamarnya, aku bisa melihatnya yang tengah berbaring di atas tempat tidur miliknya.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyaku, sambil duduk di samping tubuhnya.

"Tidak ada," Gumamnya.

Aku membaringkan tubuhku di samping tubuhnya. Aku menghadapkan tubuhku padanya, sementara tanganku menopang kepalaku. Aku menyingkirkan beberapa helaian rambutnya yang berada di wajahnya. "Apa kau yakin jika kau akan ikut malam ini?" Tanyaku.

"Tentu saja," Ujarnya.

"Bagaimana jika kau kembali tertembak?" Tanyaku. "Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu malam ini?"

Robbers | Justin BieberTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang