Bel pulang berbunyi. Semua anak bersorak gembira dalam hati, begitu pun dengan Hana. Tapi kesenangan Hana tidak bertahan lama ketika Mutia dan gengnya berjalan ke arahnya dengan setangkai sapu di tangan kanannya.
Setelah sampai di dekat Hana, Mutia menyandarkan sapu itu ke samping meja Hana dan berkata, "Sapu sampai bersih, awas aja kalau besok gue lihat masih ada sampah." setelah itu Mutia dan gengnya pergi dari kelas sambil tertawa ria.
Hana menghela napas kesal. "Yang piket kan mereka, kok malah aku yang disuruh ngerjain," sungut Hana jengkel, mulai menyapu kelas.
Sedangkan di tempat lain, Rei bersama beberapa temannya sibuk berlari di lorong kelas menghindari guru BK yang terus saja mengejarnya karena kebolosannya kemarin. Seharian ini, para guru BK gencar sekali mengejarnya.
Rei berdecak, "Kita berpencar saja," kata Rei kepada teman-temannya ketika melihat belokan koridor di depannya. Sambil terus berlari, Rei melihat sedikit kebelakang, dan di sana terlihat pak Anjas yang terus saja berlari dengan penuh semangat mengejar sebelum akhirnya Rei berbelok ke arah kiri. Sedangkan teman-temannya tadi ada yang berbelok ke kanan dan ada juga yang mengambil jalan lurus.
Rei tersenyum senang, karena sekarang pasti pak Anjas kebingungan harus mengejar yang mana. Akhirnya karena kelelahan berlari, Rei memasuki kelas 8-2 dan bersembunyi di balik pintu setelah memberi kode kepada seorang cewek yang sedang piket di kelas. Tapi, sepertinya cewek itu terlihat tidak mengerti dengan kodenya barusan.
Baru saja Rei akan bernapas lega ketika telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat ke arah pintu kelas.
Sial! Umpat Rei dalam hati.
"Hana, apa tadi kamu melihat seorang murid laki-laki berlari ke arah sini?" tanya seseorang yang sudah jelas adalah Pak Anjas dan ternyata guru itu memang belum menyerah.
Dari tempat ia bersembunyi sekarang, Rei bisa melihat cewek itu terlihat sedang bimbang apakah harus jujur atau berbohong. Dan tepat ketika cewek itu melihat ke arahnya, dengan cepat Rei meletakkan telujuknya di depan wajah mengisyaratkan agar cewek itu tidak berbicara apa-apa.
"Emm, saya tidak tau, Pak," balas cewek itu sedikit terbata-bata. Tipe cewek yang jarang berbohong.
"Oh, begitu. Baiklah, lanjutkan lagi piketmu, ya," kata pak Anjas sebelum akhirnya berlalu.
Rei mengelus dadanya sambil menghela napas lega, lalu keluar dari persembunyiannya. "Ternyata lo nggak ahli bohong, ya," kata Rei mengambil posisi duduk di atas meja dekat pintu kelas.
Cewek itu mendongak, kemudian tersenyum simpul, membuat hati Rei tiba-tiba dialiri getaran aneh.
Rei ikut tersenyum. "Ngomong-ngomong, thanks ya, udah ngelindungin gue tadi."
Cewek itu tertegun dan terlihat salah tingkah sambil meneruskan kembali kegiatannya. "Nggak apa-apa. Anggap saja itu balas budi dariku."
Rei mengangkat alisnya bingung, lalu, "Oh? Jadi lo cewek yang kemarin gue tabrak itu, ya?"
Cewek itu mengangguk.
"Nggak nyangka ya, kita bisa ketemu lagi, tapi sekali lagi, makasih banget. Kalau misalkan tadi aduin gue, mungkin sekarang gue udah ada di ruang BK," ujar sambil tertawa kecil.
"It's ok. Nggak usah dipikirin," balas cewek itu tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai.
Setelah itu mereka sama-sama diam, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Si cewek yang sekarang sibuk memasukkan sampah ke keranjang sampah, dan Rei yang sejak tadi sibuk memperhatikan kegiatan cewek tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope [FIN]
Roman pour Adolescents-s e l e s a i- Klise. Ini kisah tentang seorang siswi bernama Hana. Cewek yang selalu ditindas oleh orang yang dulunya menjadi temannya sendiri. Namun cewek yang satu ini selalu menguatkan diri dalam mengadapi semuanya, sampai pada akhirnya ia ber...
![Hope [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/100315259-64-k817100.jpg)