WARNING : Ada beberapa adegan kekerasan dalam BAB ini, harap bijak dalam membacanya.
______
"Hai, cewek cupu," sapa seseorang yang tiba-tiba saja sudah bediri di samping Hana.
Tubuh Hana seolah membeku seketika. Suara itu, suara itu adalah suara yang selalu menghantuinya setiap hari. Suara yang membuatnya selalu tertekan. Suara itu adalah milik cewek yang selalu menindasnya.
"Kenapa diam?" tanya cewek itu seraya memainkan rambut panjang Hana.
Tanpa sadar, Hana menepis tangan cewek itu dari rambutnya.
"Rambut lo bagus ya, dan gue iri banget," kata cewek itu sambil bersedekap. "Gue paling nggak suka ada orang yang melebihi gue. Baik dari segi apa pun!" suara cewek itu mulai menegas.
Hana meneguk ludahnya dengan susah payah saat ia melihat Mona memberikan sebuah gunting pada Mutia.
"Mutia, aku mohon, jangan lakuin itu," pinta Hana memohon.
Mutia menggerakkan sedikit kepalanya memberi isyarat, seketika itu juga Mona dan Indah langsung memegang kedua tangan Hana.
Hana menggelengkan kepalanya saat Mutia mulai mendekat lalu menarik rambut Hana dengan kasar.
"Mutia, aku mohon... jangan lakuin itu," pinta Hana dengan suara bergetar. Bisa ia rasakan air matanya sudah mengalir di pipinya.
"Lo itu kalo cupu jangan setengah-setengah, rambut lo ini terlalu bagus buat lo," ucap Mutia mulai memotong asal rambut Hana.
Hana semakin tidak bisa mengontrol tangisannya saat melihat rambutnya sedikit demi sedikit terpotong di depan matanya sendiri.
Sekarang Hana bisa apa? Ia hanya bisa menangis memohon-mohon agar Mutia tidak memotong rambutnya lagi. Sedangkan Mutia dengan bahagianya memotong rambut Hana yang selama ini sengaja ia panjangkan. Mona dan Indah? Mereka sedang tertawa melihat Hana yang menangis demi rambutnya. Ivy? Dia menatap Hana dengan raut yang tidak terbaca.
Hana menundukkan wajahnya, melihat Mutia yang memotong rambutnya benar-benar membuat hatinya hancur. Di dekat sepatunya, Hana melihat rambutnya yang sudah banyak terpotong.
Hana mengangkat kepalanya, menyentakkan tangannya yang dipegang oleh Mona dan Indah sampai terlepas. Dan bisa ia lihat Mutia membelalakkan matanya tidak percaya. Setelah itu Hana merebut paksa gunting itu dari tangan Mutia dan meraih rambut Mutia lalu mengguntingnya juga dengan kasar.
Jika Hana ditampar, ia masih bisa menerima. Jika tangan Hana diinjak, ia masih bisa bersabar. Tapi, jika itu sudah bersangkutan dengan rambutnya yang selalu ia jaga, Hana tidak akan tinggal diam.
"Aku nggak mau lagi ditindas! Aku sudah muak ditindas! Selama ini aku tulus dan ikhlas kalo kamu nyuruh aku ini-itu, tapi kenapa kamu malah jadiin aku pesuruh beneran, Mutia?!" teriak Hana melepaskan semua yang ia rasakan selama ini.
"Heh, apa yang kalian berdua lakukan?! Jauhin gue dari cewek cupu ini!" hardik Mutia kepada Mona dan Indah.
Bahkan Mona dan Indah kesulitan menarik Hana yang sangat brutal memotong rambut Mutia.
"Lo sadar dengan apa yang barusan lo lakuin?" tanya Mutia dengan suara pelan namun tegas.
Dengan segenap kemarahan yang Hana miliki, ia berani menantang tatapan Mutia. "Kalau sendirian kamu nggak bisa kan, ngelindungin diri?" tanya Hana sinis.
Mutia menggeram marah, lalu mencegkram dagu Hana. "Lo udah ngebuat rambut gue rusak," ucap Mutia penuh penekanan.
"Memangnya kenapa? Kamu mau marah? Bukannya kamu juga melakukan itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope [FIN]
Teen Fiction-s e l e s a i- Klise. Ini kisah tentang seorang siswi bernama Hana. Cewek yang selalu ditindas oleh orang yang dulunya menjadi temannya sendiri. Namun cewek yang satu ini selalu menguatkan diri dalam mengadapi semuanya, sampai pada akhirnya ia ber...
![Hope [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/100315259-64-k817100.jpg)