Happy reading♥
------------------------
Bel pulang berbunyi nyaring hingga ke seluruh penjuru sekolah. Beberapa kepala yang tadinya rebah di atas meja langsung terangkat dengan mata mengerjap-ngerjap.
Seruan bahagia pun terdengar dari beberapa siswa, mengabaikan tatapan tajam seorang guru yang terlihat tidak senang karena penjelasannya terputus tiba-tiba saat bel berbunyi tadi.
Entah merasa tidak cukup dengan waktu pelajarannya atau apa, guru Fisika yang masih berdiri di depan kelas berseru meminta perhatian, "Semuanya, dengar! Karena jam pelajaran saya sudah habis dan saya belum sempat memberikan kalian semua latihan, maka dari itu, saya akan memberikan kalian tugas di rumah."
Seketika, ruang kelas yang tadinya dipenuhi oleh seruan bahagia dengan cepat tergantikan oleh decakan dan keluhan tertahan. Sementara guru yang memberikan tugas terlihat puas melihat wajah siswa-siswinya yang berubah masam.
"Kerjakan soal-soal Uji Kompetensi di LKS kalian masing-masing dan kumpulkan di pertemuan kita selanjutnya." setelah itu, guru tersebut keluar dari kelas dengan santainya.
Hana menghela napas, mencoba mengabaikan selorohan-selorohan yang mengandung berbagai umpatan untuk guru Fisika tadi dan bergegas menarik resleting tasnya bertepatan dengan Monic yang sudah berdiri di samping mejanya.
"Na, lo udah pasti, 'kan, dianterin pulang sama teman cowok lo itu?" Monic bertanya, memastikan.
Hana terdiam sejenak.
Tadi, beberapa menit sebelum bel pulang, Hana menyempatkan diri mengirimi Hans pesan, menyuruh cowok itu untuk pulang duluan karena Hana masih punya urusan. Hana hanya merasa tidak enak jika harus menyuruh cowok itu untuk menunggu.
"Na?"
Hana sedikit tersentak, lalu berdeham pelan. "I-iya, Moon. Aku pulangnya dianterin sama Hans, kok." dusta Hana.
"Oh, jadi, namanya Hans," Monic bergumam, kepalanya terangguk pelan. "Yaudah, kalo gitu gue pulang duluan, ya. Lo juga harus langsung pulang. Kalo diajakin nongkrong dulu sama si Hans itu, jangan mau!" lanjut Monic dengan mata melotot, memperingatkan.
Hana tertawa kecil. "Iya, iya."
Merasa belum cukup, Monic kembali berseru sementara kakinya terus melangkah menuju pintu kelas. "Ingat, Na! Jangan mau! Dan... Jangan lupa ke rumah gue, lo udah janji mau nginap di rumah gue malam ini!"
Setelah Monic menghilang dari pandangan, Hana langsung memakai tas punggungnya dan melangkah keluar dari kelas yang mulai lengang.
Bukannya berjalan ke arah gerbang, Hana malah melangkah ke arah sebaliknya, ke arah toilet. Sesekali, Hana melirik ke kelas Mutia yang ada di seberang sana. Kelas itu terlihat mulai sepi karena sebagian besar siswanya sudah pulang.
Setiba di toilet, Hana memasuki salah satu bilik dan keluar membawa ember kecil yang telah ia isi dengan air.
Hana mengintip sejenak dari pintu toilet, melihat apakah ada orang atau tidak di luar sana, sebelum akhirnya keluar dengan setengah berlari menuju kelas Mutia.
Tidak sulit menemukan yang mana meja Mutia karena saat Hana memasuki kelas, matanya langsung terarah pada sebuah meja yang penuh dengan sampah kertas di sekelilingnya sementara meja lainnya terlihat bersih.
Seperti dugaan Hana, Mutia belum membersihkan coretan di mejanya yang menggunakan spidol permanen. Kata-kata yang ditulis pun sangat kasar. Mulai dari mengejek, menghina, dan berlanjut menyinggung soal keadaan keluarga.
Hana menghela napas pelan sambil meletakan ember kecil tadi di atas salah satu meja, mengeluarkan sapu tangannya dari dalam tas, lalu mulai membersihkan meja Mutia setelah membasahkan sapu tangannya dengan air.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope [FIN]
Teen Fiction-s e l e s a i- Klise. Ini kisah tentang seorang siswi bernama Hana. Cewek yang selalu ditindas oleh orang yang dulunya menjadi temannya sendiri. Namun cewek yang satu ini selalu menguatkan diri dalam mengadapi semuanya, sampai pada akhirnya ia ber...
![Hope [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/100315259-64-k817100.jpg)