13. Mereka Mendekat Lagi

471 32 0
                                        

"Hana," panggil Lisa lembut setelah terjadi keheningan beberapa saat. Hana menoleh. "Kamu mau cerita sesuatu nggak sama kita?"

Hana menghela napas pelan. Ia tahu, cepat atau lambat teman-temannya itu pasti akan bertanya juga.

"Ng, kalau kamu belum siap nggak apa-apa kok," timpal Tari dengan sebuah senyuman menenangkan.

"Nggak!" tukas Hana cepat. "Kalian itu sahabatku, jadi kalian pantas untuk tau. Karena di antara sahabat tidak pernah ada yang namanya rahasia." Hana melemparkan senyum kecilnya.

"Jadi?" pancing Miccele sementara yang lainnya mulai memfokuskan diri.

Hana berdeham sejenak. Lalu mulai menceritakan semuanya dari awal. Dari sampah yang ada di loker dan di lacinya, selembar kertas yang ada di atas mejanya, kemudian Mutia yang memotong rambutnya dengan bantuan teman-temannya dan berakhir dengan mereka yang menyuruh Ivy untuk mendorong Hana ke kolam renang. Semuanya diceritakan oleh Hana tanpa tertinggal sedikit pun, termasuk menceritakan si penolongnya yang tidak ia ketahui namanya itu.

"Apa?!" teriak Lisa terlihat emosi di akhir cerita. "Mereka sudah keterlaluan Hana! Mereka tau kamu nggak bisa berenang tapi mereka tetap melakukan itu?" tanya Lisa tidak habis pikir. Lisa mendengus jengkel. "Mereka memang gila."

Miccele mengangguk setuju. "Mereka memang gila," ulangnya.

"Sangat gila," lanjut Tari sambil menggeleng pelan.

"Trus, mama kamu tau mengenai kejadian itu?" tanya Lisa seraya bersedekap kesal.

Hana menggeleng pelan. "Tapi, mereka akan tau cepat atau lambat."

Hening sejenak, lalu, "Cowok itu, lo beneran nggak tau namanya siapa?" tanya Miccele terlihat penasaran.

Hana menggeleng lagi. "Aku nggak sempet nanya." Hana menampakkan cengirannya.

Lisa menatap Hana dengan jengkel. "Hadeh, punya temen kok gini amat ya. Lemout!"

Hana mendelik ke arah Lisa membuat Tari tertawa.

Kemudian, Lisa merubah ekspresinya. "Terus, orangnya ganteng nggak?"

Hana terlihat berpikir, lalu mengangguk. "Iya, kayaknya sih ganteng."

Lisa berseru heboh. "Yuhuuu, asik tuh. Kenalin ke kita ya?" Lisa mengedipkan sebelah matanya ke arah Hana.

Seketika itu juga Miccele dan Tari langsung menyoraki Lisa yang sekarang sedang cengengesan, lalu berubah menjadi pertarungan antar bantal. Melihat itu, mau tak mau sudut bibir Hana terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman kecil. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama saat ingatan buruk itu kembali menyapa ingatannya.

Tanpa diketahui oleh siapapun, Hana meremas jari-jarinya dengan wajah pucat penuh ketakuan. Kalau hari ini saja Mutia berani mencoba untuk membunuh Hana, bagaimana besok? Mungkin saja Hana sudah...

Hana membekap mulutnya lalu berlari kecil menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dan, seketika itu juga ia langsung menangis dalam diam.

"Na, Hana!"

Hana tertegun, lalu menatap Mamanya yang duduk di seberang meja makan.

"Apa, Ma? Tadi Mama tanya apa?" Hana menundukkan sedikit kepalanya, lalu memakan makan malamnya dengan sedikit gugup.

"Mama tadi nanya, kamu potong rambut ya? Kok nggak bilang-bilang sih? Bukannya kamu nggak mau potong rambut lagi ya?" tanya mamanya bingung.

Hana tertawa kecil berharap dengan begitu kegugupannya tersamarkan, lalu meraih beberapa helai rambutnya. "Iya, tapi sekarang aku sudah bosan, jadi aku coba potong."

Hope [FIN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang