4. Permintaan Pertemanan

729 37 0
                                        

......

Rei menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih, dan benar saja, bibirnya berdarah. Kalau saja tadi polisi tidak datang pasti ia dan teman-temannya sudah memukul musuh bebuyutannya itu sampai mati.

Di sisi tubuhnya tangan Rei terkepal erat. Dengan langkah cepat Rei menaiki anak tangga untuk menuju atap sekolah. Entah kenapa dari sekian banyak tempat, hanya tempat itu yang ia inginkan. Lagipula bel masuk pasti sudah berbunyi sejak tadi.

Ketika kakinya menginjak atap sekolah, hal pertama yang dirasakannya adalah sejuk. Angin yang berhembus di atap sekolah selalu bisa memberinya ketenangan. Dan memang itu yang ia butuhkan sekarang.

Rei melangkah menuju pembatas balkon dan memejamkan matanya merasakan hembusan angin di kepalanya yang basah.

"Rei...?"

Sebuah panggilan itu membuat mata Rei terbuka perlahan. Ia mengenal suara itu karena suara itu entah kenapa terasa tidak asing di telinganya.

Dengan santai, Rei membalikkan tubuhnya. Ia menatap seorang cewek yang akhir-akhir ini sering dilihatnya. Cewek yang tidak ia ketahui namanya itu sekarang sedang menatapnya intens dengan dahi berkerut.

"Ada apa?" tanya Rei datar, membuyarkan lamunan cewek itu.

Cewek itu terlihat salah tingkah sebentar. "Ng, kamu tidak masuk kelas?"

Rei tersenyum tipis melihat cewek itu bertanya demikian. "Pertanyaan lo salah. Seharusnya lo bertanya kenapa gue ada di sini."

Cewek itu tersenyum kaku, lalu tertawa kecil. Tunggu! Apa ini matanya yang salah lihat atau ia benar-benar melihat wajah cewek itu yang penuh lebam? Dengan cepat Rei melangkah ke arah cewek itu dan matanya langsung membulat tidak percaya.

"Kenapa?" tanya cewek itu polos. Namun, saat dia seperti menyadari sesuatu cewek itu langsung menunduk.

"Wajah lo kenapa?" tanya Rei yang hanya di balas oleh gelengan cewek itu. Dengan lembut, Rei mengangkat dagu cewek itu untuk bisa melihat wajahnya. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Rei lagi, menatap dalam mata cewek itu. Entah kenapa rasa simpatinya mudah sekali muncul terhadap cewek di depannya ini.

Cewek itu mengernyit. "Rei, muka kamu kenapa?"

Rei berdecak kesal mendengar cewek itu dengan polosnya malah balik bertanya.

"Heh, gue ini lagi nanya, eh, lo nya malah balik nanya," kata Rei bersungut-sungut.

Cewek itu tertunduk seketika. Dan tak lama setelah itu, cewek itu mendongak. "Tunggu di sini sebentar," katanya, kemudian berbalik dan pergi.

Rei yang melihat itu hanya mengangkat bahu kemudian berbalik menuju tembok pembatas yang hanya setinggi dadanya. Beberapa menit kemudian, cewek itu sudah berdiri di sampingnya dengan kotak P3K yang dia letakkan di atas tembok pembatas.

Rei menyandarkan tubuhnya pada tembok pembatas dengan mata menyipit. "Mau ngapain lo?" tanya Rei bodoh saat melihat cewek itu membuka kotak P3K. Dalam hati Rei merutuki pertanyaan bodohnya barusan. Memangnya untuk apa cewek itu membawa kotak obat itu kalau tidak untuk mengobatinya?

"Jangan banyak tanya bisa nggak?" tanya cewek itu berdiri tepat di depannya. "Aku nggak suka ngeliat wajah yang seperti ini," katanya sambil mengulurkan tangannya yang memegang kapas beroleskan betadine itu mendekati wajahnya.

"Gue juga. Muka lo bahkan keliatan lebih parah dari pada gue." balas Rei yang membuat cewek itu terkekeh. "Ngapain lo, aww! Pelan-pelan dong! Lo kira muka gue ini apaan!" hardik Rei meringis sesaat.

Hope [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang