9. Kunjungan Pertama Hana

576 30 0
                                        

Hal pertama yang disadari oleh Hana ketika ia menginjakkan kakinya memasuki rumah Rei adalah sepi. Bahkan rumah Rei terlalu sepi dan mencekam. Jujur, itu membuat Hana merasa sedikit takut.

"Lo gak pa-pa?" tanya Rei menyadarkan Hana.

Hana sedikit tersentak dan langsung menoleh. "Hm, iya," balasnya seraya tersenyum kecil.

Bisa ia dengar Rei mendesah pelan. "Tuh kan, itu sebabnya gue nggak ngebolehin lo main ke rumah gue."

Hana menaikkan alisnya. "Kenapa?"

"Lo pasti ngerasa nggak nyaman kan, di sini?"

Hana tertegun. "Hah?" sekarang Hana mulai gelagapan. "Rei, jangan tersinggung, ya. Jujur, ini pertama kalinya aku main ke rumah orang lain. Apalagi suasana rumah kamu yang sepi-sepi gimana gitu. Dan, itu ngebuat aku sedikit takut," kata Hana mencoba untuk jujur.

Rei tersenyum sendu. "Maaf ya, keadaan rumah gue emang selalu gini."

Melihat tatapan Rei yang seperti itu, Hana menjadi merasa bersalah sendiri.

Hana berdeham sejenak. "Tapi, nggak pa-pa kok. Kan, ada kamu," lanjut Hana berharap ekspresi Rei berubah seketika itu juga.

Perlahan-lahan, Rei mengangkat sedikit wajahnya yang tadi tertunduk, kemudian dia tersenyum tulus. "Makasih, ya." Hana mengangguk. "Yaudah, ke kamar gue, yuk!" ajak Rei antusias.

"Apa?" mata Hana membulat sempurna mendengar ajakan Rei barusan.

Rei mengernyit bingung. "Kenapa?"

"Kamu ngajak aku masuk ke kamar kamu?! Kamu kan laki-laki!" ucap Hana sedikit khawatir.

Rei menatap Hana sebentar, lalu tertawa. "Apa sih, Na?! Emangnya lo kira gue cowok apaan!"

Hana menampakkan cengirannya. "Tapi, di sekolah banyak yang bilang kalau kamu itu bad."

"Badboy itu mah cuma cover gue doang. Aslinya nggak gitu kok." jelas Rei sambil tersenyum cengengesan.

"Emangnya aslinya kamu kayak gimana?" tanya Hana polos.

Senyuman Rei memudar. "Lo ini aneh deh, Na. Kadang lo waras, tapi kalau sifat begonya udah kambuh, lo bikin gue kesel tau nggak?!" gerutu Rei tidak bisa di tahan lagi.

Hana tertawa kecil. "Maaf, deh."

"Yaudah, yuk ke kamar gue!" ajak Rei lagi sambil menarik tangan Hana sebelum kekesalannya muncul lagi.

Ketika Rei membuka pintu kamarnya, hal pertama yang langsung menarik perhatian Hana adalah rak buku yang terletak di sudut kamar Rei.

"Ya ampun! Rei kamar kamu bagus banget! Betah deh aku disini!" seru Hana heboh.

Rei terkekeh kecil.

"Tapi aku lebih suka rak buku kamu Rei. Novel kamu ternyata banyak juga! Ternyata bener kalau badboy itu cuma cover kamu aja," kata Hana sembari memanjakan matanya dengan puluhan novel yang berjajar rapi di rak yang ada di depannya itu.

"Kalo lo mau minjem, boleh kok," tawar Rei sambil mendudukkan tubuhnya di atas kasur setelah melempar tasnya ke sembarangan arah.

"Rei!" hardik Hana membuat Rei yang baru saja merasa rileks terkejut seketika.

"Apaan sih, Na?" tanya Rei berusaha untuk bersabar.

Hana berdecak. "Kamu itu gimana, sih! Biasain kalau pulang sekolah letak dulu tas kamu itu di atas meja belajar atau di kasur. Kalau kamu ngelempar tas ke sembarangan arah, berarti kamu nggak ngehargain barang!" cerocos Hana sambil berjalan ke arah meja belajar Rei dan meletakkan tas itu di sana.

Hope [FIN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang