Perlahan-lahan Hana membuka matanya, dan kemudian ia mengeluh pelan sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Sejenak, Hana mengedarkan pandangannya pada sekeliling ruangan yang terlihat asing namun nyaman itu, dan saat itu juga ia langsung terduduk.
Hana terkesiap pelan.
Sebenarnya ia sedang berada di mana sekarang ini? Dan, kenapa ia bisa tertidur di tempat ini?
Hana mengedarkan pandangannya sekali lagi. Dan, tidak ada yang perlu dicurigakan karena tempat ini sangat rapi dibandingkan dengan kamarnya sendiri. Ada sebuah rak kecil dengan buku-buku yang tersusun rapi di pojok kamar. Lalu, dinding kamar ini dihiasi dengan foto-foto seorang anak laki-laki yang masih kecil dan dua orang dewasa berbeda gender yang ia yakini sebagai orangtua si anak itu.
Kemudian Hana kembali mengedarkan pandangannya dan terhenti pada sebuah figura foto yang di dalamnya terdapat foto seorang anak laki-laki yang sepertinya sebaya dengannya. Cowok itu mengenakkan pakaian formal dengan rambut yang disibakkan ke atas sehingga memperlihatkan dahinya secara keseluruhan, plus tanpa senyuman sedikit pun.
"Lo udah bangun?"
Dengan cepat kepala Hana berpaling ke arah pemilik suara itu yang ternyata seorang cowok yang sedang bersandar pada dinding di dekat pintu.
Hana mengernyitkan dahi, lalu melihat ke arah foto yang ada di nakas lalu berbalik melihat cowok itu secara bergantian. Ternyata mereka orang yang sama.
"Kamu siapa? Dan, kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Hana cepat. Kemudian, secepat itu juga ingatannya kembali memutar kejadian saat-saat ia tenggelam akibat ulah Mutia.
Hana menepuk dahinya dan seketika tersadar kalau pakaian yang ia pakai sekarang sudah bukan seragam sekolah lagi.
"Seragamku mana? Dan kenapa bisa aku memakai baju ini? Jangan bilang-"
Cowok itu terkekeh kecil membuat Hana menghentikan ucapannya. "Bukan gue yang ngeganti, tapi pembantu gue," jelas cowok itu dan Hana hanya ber-oh ria menanggapinya.
"Emang sekarang aku ada di mana?" tanya Hana sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar melewati cowok itu sembari melihat-lihat sekitar.
"Lo sekarang ada di apartemen gue," ucap cowok itu sambil berjalan ke arah dapur.
Hana kembali ber-oh ria. Tapi tak lama kemudian dahinya berkerut menatap cowok itu yang sekarang sedang berjalan ke arahnya dengan tangan yang membawa secangkir teh.
"Kenapa?" tanya cowok itu sambil meletakkan cangkir teh yang tadi dibawanya ke atas meja kaca di dekat sofa, lalu duduk di sana.
"Kamu bukan siswa dari sekolahku, kan?" baru saja cowok itu akan menjawab, Hana sudah kembali bertanya. "Tapi, kenapa bisa kamu yang nyelamatin aku?"
"Gue anak baru. Dan, saat gue sedang berkeliling melihat-lihat sekolah, gue ngeliat beberapa anak cewek yang baru keluar dari ruangan tempat latihan renang sambil ketawa nggak jelas. Jadi, karena gue orangnya penasaran akhirnya gue masuk ke sana dan gue liat lo yang lagi tenggelam," terang cowok itu tenang.
"Tapi, bukannya saat itu bel masuk udah bunyi ya?" tanya Hana lagi dengan bingung.
Cowok itu hanya tersenyum kecil tanpa menjawab pertanyaan Hana.
Mata Hana melebar. "Jangan bilang kalau kamu bolos di hari pertama kamu sekolah?!" tebak Hana. Sementara cowok itu perlahan tertawa.
"Karena gue kasian ngeliat elo yang hampir mati, ya udah, jadinya gue bolos. Dan, kalo ada orang yang patut disalahkan, orang itu adalah elo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope [FIN]
Fiksi Remaja-s e l e s a i- Klise. Ini kisah tentang seorang siswi bernama Hana. Cewek yang selalu ditindas oleh orang yang dulunya menjadi temannya sendiri. Namun cewek yang satu ini selalu menguatkan diri dalam mengadapi semuanya, sampai pada akhirnya ia ber...
![Hope [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/100315259-64-k817100.jpg)