19. Akhirnya, Ingat Juga

466 27 0
                                        

Hana mengaduk bakso di depannya sambil bertopang dagu dengan memasang ekspresi jengkel. Sejak tadi ia merasa seperti babu. Disuruh ini, disuruh itu. Tapi anehnya, Hana langsung menurut ketika diperintah oleh cowok itu. Dan anehnya lagi, tidak ada satu pun teman-temannya yang mau menolongnya.

Gadis itu menghela napas lelah, lalu melirik orang yang duduk di samping kanannya dengan enggan. Kini, Hana sedang duduk bersama dengan teman-teman cowok itu. Sedangkan Monic dan yang lainnya memilih untuk makan di meja lain. Takut mengganggu, katanya.

"Hana," panggil Vandi yang duduk di samping kiri Hana.

Hana menoleh. "Hm?"

Cowok itu terlihat salah tingkah. "Em, boleh minta nomor telepon lo, nggak?"

Tiba-tiba saja cowok menjengkelkan itu berdeham keras. "Na, lagi dong!"

Hana menghela napas jengah, lalu menusuk bakso yang ada di dalam mangkok dengan garpu dan menyodorkannya pada cowok itu.

"Lo nggak makan, Na?" tanya cowok itu menoleh sekilas pada Hana, kemudian fokus lagi dengan game di ponselnya.

"Gimana mau makan, kamu aja nggak ngasih aku kesempatan untuk mesan," sindir Hana pelan.

Cowok itu bergeming, tampak tidak terganggu dengan ucapan Hana barusan. Hana mendengus pelan.

"Oh iya, lo pindahan dari mana?" tanya seseorang yang tadi telah mengenalkan dirinya pada Hana. Nico.

"Dari Jepang."

"Jadi," jeda sesaat. "boleh nggak gue minta nomor lo?" tanya Vandi lagi.

Hana terlihat berpikir sebentar. Lalu mengangguk. Dengan wajah berbinar, Vandi memberikan ponselnya pada Hana.

"Modus banget lo," kata orang yang duduk disamping Nico yang Hana ketahui bernama Fero.

"Kayak lo nggak tau gimana Vandi aja," timpal yang satunya lagi. Rio.

"Jangan jadi orang nggak mampu gini dong. Kalau mau ya, usaha." lalu Vandi melirik cowok menjengkelkan di samping Hana. "Ya nggak, Re-"

Ucapan Vandi tiba-tiba saja terhenti. Hana mengerutkan dahi dan mulai berpikir. Apakah Vandi baru saja hampir menyebutkan nama cowok menjengkelkan itu?

"Hana," panggil cowok menjengkelkan itu.

Hana tersadar dan langsung menusuk bakso yang tersisa dan menyodorkannya pada cowok itu.

Sebenarnya Hana sangat penasaran dengan cowok itu. Tapi ia sediri tidak ingin ambil pusing dengan mengira-ngira. Lebih baik menunggu cowok itu mengatakannya sendiri, bukan?

Di balik itu, tentu Hana punya asumsinya sendiri. Namun, Hati kecilnya mengatakan kalau cowok itu adalah sahabatnya dulu, Rei.

Hana menggeleng kecil. Tapi, itu tidak mungkin, pikirnya. Rei bukanlah orang yang menjengkelkan seperti cowok itu. Rei orang yang ramah dan sedikit humoris. Sedangkan cowok ini...

Hana melirik cowok di sebelahnya dengan tatapan menilai. Cowok ini sangat angkuh dan menyebalkan.

"Udah lo masukin nomor lo?"

Hana sedikit gelapan. "Oh? U-udah." lalu menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.

"Gue denger lo itu sepupunya Monic?"

Hana menoleh dan mendapati Nico yang tadi bertanya. "Iya." Hana mengulas senyum kecil. "So, kalau ada di antara kalian yang ingin PDKT dengannya, kalian bisa minta bantuan padaku. Monic itu perempuan yang tegas. Kalian tau sendiri, kan?"

"Wah, kayaknya bisa tuh, Nic," seru cowok menjengkelkan itu dengan tatapan menggoda.

Nico mendelikkan matanya seolah ingin memberikan sebuah ancaman lewat tatapan itu. Cowok di sebelahnya mengangkat bahu tidak peduli, bangkit, lalu berjalan entah kemana. Hana tidak terlalu memperhatikan.

Hope [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang