23. Permainan Seorang Rei

427 25 0
                                        

Esok harinya, Rei benar-benar menepati ucapannya. Di koridor sekolah yang ramai, Rei menggaet seorang siswi yang Hana tidak tahu siapa. Yang pasti, cewek itu sangat manis dengan lesung pipi yang terlihat ketika dia tersenyum dan cantik. Tidak terlihat seperti Farah yang cabe-cabean.

Hana tersenyum kecil. Rei yang sekarang terlihat menggemaskan. Hana sendiri bahkan tidak tahu apa tujuan Rei melakukan itu. Untuk membalas Hana-kah? Atau, untuk membuat Hana cemburu padanya?

Tapi, Tidak. Hana tidak cemburu sedikit pun, karena ia hanya menganggap Rei sebagai sahabatnya. Tapi, apa iya Hana tidak merasakan sesuatu yang lain di dalam hatinya ketika melihat Rei bersama dengan seseorang selain dirinya? Entahlah. Hana masih meragu.

"Na," Lisa yang berjalan di samping Hana menyikutnya perlahan. "Rei bener-bener balas dendam ya, sama lo?"

Hana mengedikkan bahu. "Mungkin,"

Lisa berdecak. "Gue kira ucapan Rei kemarin cuma gertak aja. Tapi ternyata..." Lisa menggeleng dengan dramatis. "dia bener-bener melakukannya. Rei lucu ya, kalo lagi ngambek."

Hana tertawa pelan dengan tatapan tidak lepas dari sosok Rei yang sedang mengobrol dan tertawa dengan gadis sebelahnya. "Cewek yang bersama Rei itu seangkatan kita, ya?"

Lisa menggeleng. "Dia itu adek kelas kita. Dia emang cukup terkenal di sini. Selain cantik, dia orangnya juga friendly." jelas Lisa.

Hana mengangguk mengerti. Saat ia hendak melewati Rei, ia menyempatkan diri untuk berhenti melangkah dan menyapa Rei, yang dibalas dengan tatapan malas oleh cowok itu.

"Kenapa?" tanya Rei menatap Hana bosan. Atau, pura-pura bosan?

Hana tertawa dalam hati melihat sikap Rei sekarang ini padanya. Benar-benar menggemaskan.

Hana menggeleng. "Nggak, cuma mau nyapa doang."

"Oh. Gue kira lo ke sini mau minta maaf." Rei menatap Hana sinis.

Hana menggeleng dengan angkuh. "Aku kan nggak salah, ngapain minta maaf."

"Dasar sombong. Sana lo jauh-jauh. Sebelum lo nyerah dan minta maaf, jangan bicara dan jangan deket-deket sama gue!" ketus Rei yang dibalas kekehan oleh Hana.

"Ya ampun, Rei. Sensian amat lo sekarang. Jangan kebiasaan Mas, nanti cepet tua." gurau Lisa kemudian.

Rei mengusap wajahnya dengan kasar. "Ck, lo berdua ngeselin banget ya, sekarang. Pergi sana, gue mau lanjut lagi ngobrol sama Fitri." ucap Rei sambil menggerakkan tangannya, mengusir.

Hana mengerucutkan bibirnya, lalu tersenyum singkat pada Fitri dan berlalu dari tempat itu tanpa berpamitan pada Rei.

Lisa tertawa. "Ya ampun, baru kali ini gue liat sifat Rei yang kayak begitu. Ternyata dia orangnya pedendam juga, ya."

Dan, nybelin. Sambung Hana dalam hati.

Setibanya di kantin, Hana dan Lisa langsung berjalan ke meja yang diisi oleh Monic dan yang lainnya.

"Hana, lo dipanggil sama Pak Kepsek." kata Monic langsung saat Hana baru saja akan memesan.

"Kok, gitu sih. Aku baru aja mau mesan." keluh Hana dengan ekspresi memelas.

Monic mengengkat bahu. Jelas sepupunya itu tidak peduli dengan rasa lapar Hana. "Gue cuma nyampein pesan."

Hana mendesah berlebihan, lalu memutar tubuhnya menuju ruangan kepala sekolah. Rasanya menjengkelkan dipanggil ketika ia sedang lapar. Ditambah lagi sikap Rei yang begitu... Ah, sudahlah. Ia tidak ingin khilaf mengatakan Rei menggemaskan.

Hope [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang