37. Kejadian Mengejutkan

243 16 0
                                        

"Na, ngapain ke atap, sih? Mending lo bawa aja bekal lo ke kantin. Kita bisa makan bareng di sana."

Hana menggeleng kecil menanggapi saran Monic. "Nggak, ah, di kantin berisik. Dah, aku duluan, ya, Moon...." Hana melambaikan tangan, keluar dari kelas.

Hari ini Hana memang sengaja membawa bekal. Ada novel baru terbit yang ingin ia beli, dan itu berarti ia harus mengurangi pengeluaran semaksimal mungkin. Meski bisa saja meminta uang pada Mama, tetap saja Hana merasa lebih enak memakai uang sendiri.

Sesampainya di atap, Hana melihat ada orang lain di sana, duduk di sebuah bangku panjang. Biasanya tempat ini kosong, karena normalnya anak-anak lebih suka berdesakkan di kantin, atau membaca di perpustakaan, atau bermain basket di lapangan.

Tapi, sepertinya tempat-tempat yang disebutkan tadi tidak begitu menarik untuk dijadikan pilihan bagi orang yang satu ini. Hana kenal betul siapa orang itu, dan Hana juga tahu pasti alasan orang itu memilih menyendiri di tempat ini. Mencari ketenangan.

Setelah menghela napas perlahan, barulah Hana melangkah mendekati sosok itu. "Boleh gabung, nggak?" tanyanya, membuat orang itu mengalihkan pandangannya dari bekal di pangkuan.

"Boleh. Duduk aja, Na, pake tanya segala." sahutnya santai.

Hana tertawa kecil. "Ya... mana tau kan, kalau ternyata keberadaanku ganggu kamu, Mut." balasnya setengah bercanda.

Orang itu, Mutia, menggeleng kecil. "Nggak lah..."

"Tumben bawa bekal? Biasanya kamu paling semangat kalau urusan ke kantin." celetuk Hana sembari mengambil posisi duduk di samping Mutia. Ia ikut memakan bekalnya. Kali ini sandwich.

"Itu kan, dulu. Beda lagi kalau sekarang." jawabnya. Dia kemudian menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan lewat mulut. "Gue baru sadar, kalau sekolah ternyata punya tempat setenang dan senyaman ini."

Hana mengangguk. Ia memilih tidak berkomentar dan fokus dengan makanannya.

"Lo liat kejadian di kantin antara gue dan Farah beberapa hari yang lalu?" tanya Mutia, yang dijawab Hana dengan anggukan. "Itu memalukan banget. Gue sama Farah dihukum bersihin toilet sama, tuh, guru BK." ceritanya terdengar jengkel. Entah kepada guru BK atau Farah.

Hana tertawa kecil. "Untungnya cuma hukuman, ya, nggak sampe diskors, atau dipanggil orangtua."

Mutia mengangguk. Cukup lama mereka diam memakan bekal masing-masing hingga Mutia berdeham sebentar, kembali bersuara. "Gue kira sepupu lo cuma Monic,"

Kunyahan Hana terhenti selama beberapa detik, terkejut dengan pernyataan Mutia barusan. Ia hanya diam, menunggu Mutia melanjutkan perkataannya dengan was-was. Apa mungkin Mutia tahu sesuatu?

"Gue udah tau, dan gue juga denger pembicaraan kalian di perpustakaan waktu itu." Mutia menoleh, menatap Hana tepat di mata. "Ivy. Dia sepupu lo, kan? Orang yang gue paksa buat ngedorong sepupunya sendiri ke kolam. Bahkan gue dengan bodohnya nggak tau akan hal itu. Merasa berkuasa hingga mengabaikan sekitar. Seharusnya gue sadar setiap kali lo dibully, Ivy pasti akan selalu ada buat nolongin lo. Bagaimana bisa..." Mutia tidak lagi bisa berkata-kata.

"Mutia—"

"Maaf. Gue benar-benar minta maaf. Rasanya, kata maaf pun nggak cukup untuk menebus semua tindakan gue di masa lalu. Gue nggak tau ada apa dengan gue dulu hingga tega menindas teman sendiri. Gue menyesal banget. Ivy pasti benci dan marah banget kan, sama gue sekarang?" tatapan Mutia berubah sendu seiring dengan kepalanya yang tertunduk.

Hening.

Mereka terdiam lagi satu sama lain. Yang satu tenggelam dalam penyesalan, yang satu lagi tenggelam dalam bayang masa lalu. "Enggak. Bukan salah kamu. Ini takdir. Sekeras apa pun kita mencoba menghindar, hal itu tetap saja akan terjadi."

Hope [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang