"Mutia, lepaskan aku. Kalian mau bawa aku ke mana?!" tanya Hana dengan nada sedikit berteriak.
Mendengar itu Mutia berhenti berjalan lalu berbalik menatapnya dengan tatapan tajam. "Diam lo!" setelah mengatakan itu, Mutia kembali melanjutkan jalannya.
Bentakan Mutia barusan membuat nyali Hana menciut seketika. Dengan pasrah ia membiarkan Mona dan Indah menyeretnya dengan kasar. Melihat kemana Mutia berjalan, sepertinya dia akan membawa Hana ke halaman belakang sekolah lagi.
Dan setibanya di tempat itu, Mutia langsung mencengkram kerah kemeja Hana dengan tatapan tajam.
"Oh, jadi sekarang lo udah berani sama gue dengan nggak ngangkat telepon gue?!" tanya Mutia setengah berteriak di depan wajah Hana.
Hana menggeleng keras. "Bukan begitu Mutia, kemarin nada ponselku-"
"Gue nggak nerima alasan," sela Mutia dengan penuh penekanan.
Tanpa sadar, Hana memalingkan wajahnya.
Mata Mutia membulat tidak percaya. "Wow! Sekarang lo malah ngebuang wajah lo saat gue bicara?!" tanya Mutia dengan wajah memerah menahan marah.
Seketika itu juga sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Hana membuat gadis itu tersentak. Pipi Hana tiba-tiba saja memanas dan rasa perih langsung menjalar ke seluruh pipinya seketika.
"Jadi," Mutia mencengkram dagu Hana dengan paksa. "enaknya cewek yang satu ini gue apain, ya?" tanya Mutia dengan senyum sinis pada teman-temannya.
"Mutia, apa kamu nggak tau kalau kelakuan kamu yang sekarang ini sangat merugikan orang lain?" tanya Hana dengan lirih.
Untuk yang kesekian kalinya, Mutia membulatkan matanya.
"Beraninya lo!" kata Mutia geram, sementara tangannya sudah terangkat hendak menampar Hana lagi dan Hana refleks langsung menutup matanya berharap dengan begitu rasa sakit yang didapatnya akan berkurang.
Detik-detik berikutnya, Hana hanya dapat diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun anehnya, ia tidak merasakan apapun. Apakah Mutia sudah tobat? Sudah menyadari kesalahannya? Rasanya itu tidak mungkin.
Entah kenapa, pemikiran-pemikiran itu membuat Hana terkekeh sendiri dalam hati.
Perlahan-lahan, Hana membuka matanya dan tampaklah tangan Mutia yang terangkat itu sedang ditahan oleh seseorang. Sontak, mata Hana langsung membulat ketika mengetahui siapa orang itu.
"Rei," gumam Hana pelan.
Dengan kasar, Rei membalikkan tubuh Mutia yang sedang meringis menahan sakit akibat cengkraman Rei pada pergelangan tangan Mutia yang sangat kuat.
"Apa-apaan ini? Gue kira lo udah nggak nge-bully lagi, tapi ternyata gue salah." Rei menunjukkan senyum miringnya.
"Rei, ini... ini nggak seperti-"
Tanpa diduga oleh siapa pun, Rei malah menampar Mutia hingga cewek itu terduduk di atas rumput. Dan itu membuat Ivy, Mona dan Indah langsung menghampiri Mutia.
Mutia mendongak menatap Rei dengan tatapan tidak percaya sambil memegangi pipinya dengan air mata yang mulai mengalir.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rei sinis. "Sekarang lo udah tau kan rasanya ditampar? Untuk ke depannya, gue harap lo nggak ngelakuin hal seperti ini lagi." setelah mengatakan itu, Rei langsung menarik Hana yang masih terpaku dengan kejadian barusan.
"Rei, ki-kita mau ke mana?" tanya Hana terbata-bata sambil berusaha mengikuti langkah lebar Rei.
"Nggak usah banyak tanya. Nanti juga lo tau sendiri," kata Rei menatap Hana lembut. Selembut Rei menarik tangan Hana. Padahal tadi Rei terlihat sangat kejam mencengkram pergelangan tangan Mutia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope [FIN]
Novela Juvenil-s e l e s a i- Klise. Ini kisah tentang seorang siswi bernama Hana. Cewek yang selalu ditindas oleh orang yang dulunya menjadi temannya sendiri. Namun cewek yang satu ini selalu menguatkan diri dalam mengadapi semuanya, sampai pada akhirnya ia ber...
![Hope [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/100315259-64-k817100.jpg)