30*First Promise

1.1K 64 1
                                        

Tepat pukul tujuh malam hujan berhenti. Rena baru menginjakan kakinya didepan rumah ketika mobil sang Ayah baru saja masuk melewati gerbang. Ia tersenyum lebar saat melihat Papa nya keluar dari dalam mobil sambil menenteng tas kerja.

Seperti biasa jika Papa nya baru pulang kerja Rena akan menghampiri lelaki paruh baya itu lalu memeluk nya erat, kebiasaan yang sering ia lakukan sejak kecil. Dulu mungkin Rena akan melihat Mama nya juga dipeluk setelah ia melepaskan pelukan Papa nya. Namun sekarang pemandangan itu tak pernah ia lihat lagi sejak ia duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar.

Dengan langkah yang cukup lebar Rena berjalan menghampiri Papa nya, senyum nya tak hilang barang sedetik pun. Namun ketika tersisa tiga langkah lagi untuk menuju Papa nya Rena melihat seseorang keluar dari mobil.

"Kak Revan,"

***

Pukul sepuluh pagi tepat jam istirahat, pertandingan persahabatan antara SMA Dharma Jaya dan SMA Perwira akan segera berlangsung. Semua anggota tim basket bersiap-siap mengganti seragam sekolah dengan pakaian basket, begitu juga yang hendak dilakukan Reno. Lelaki itu berjalan menuju loker dan mengambil kaos basketnya, baru saja beberapa langkah hendak menuju ruang ganti ia melihat lelaki berambut kecoklatan yang memakai kaos basket berwarna biru gelap berdiri dipersimpangan koridor sambil menunduk memainkan ponsel.

Tak perlu dilihat lebih dekat untuk memastikan siapa orang itu, Reno sudah tahu betul dan yakin sekali bahwa lelaki itu adalah dia. Reno cepat-cepat berjalan meninggalkan ruang ganti menuju gedung IPA untuk menemui seseorang.
Berulang kali tubuhnya menubruk seseorang dilantai koridor tapi Reno tak peduli, ia hanya meminta maaf sekilas lalu melanjutkan langkahnya.

Tiba didepan pintu kelas, Reno bertemu Devin yang kebetulan baru saja akan meninggalkan kelas.Wajah Devin nampak sedikit terkejut karena melihat Reno didepan kelasnya dengan nafas yang ngos-ngosan sehabis berlari.

"Ngapain?" tanya Devin sambil menyampirkan kaos basketnya dibahu kiri.

Reno menarik nafas, "Rena dimana?"

Begitu pertanyaan itu terlontar dari mulut Reno banyak hal yang Devin pikirkan. Ia tak langsung menjawab dan malah memandang Reno dengan sorot tak terbaca. Sementara itu Reno malah berdecak dan memilih bertanya pada teman sekelas Rena yang lain yang sedang berdiri didepan pintu hendak masuk kedalam kelas, namanya Kiki. Perempuan berambut sebahu yang pintarnya luar biasa itu.

"Lo liat Rena gak?" tanya Reno langsung.

Kiki berdehem sebentar sambil meminum jus alpukatnya. "Tadi di Kantin sama Farah."

Reno mengangguk sekilas, tak lupa sebelum ia melenggang pergi menuju kantin ia mengucap terimakasih lebih dulu pada Kiki. Reno berjalan cukup cepat ketika pergi dari sana sampai ada sesuatu yang tak ia sadari bahwa bersamaan dengan langkahnya yang terbuka Devin memandangnya dengan tatapan tak suka.

Sementara itu, dilain tempat ada seorang perempuan yang sedang berdiri ditengah-tengah kantin sambil menunduk memandangi ponselnya, perempuan itu adalah Rena yang sedang membaca pesan masuk dari Devin beberapa detik yang lalu.

Devin : Reno keliatan khawatir bgt sama lo, ada apa?

Rena tidak tahu apa maksudnya. Entah itu hanya omong kosong Devin saja atau benar tentang Reno yang khawatir padanya Rena benar tak tahu. Lagipula jika memang benar Reno khawatir padanya, kenapa? Apa yang membuat Reno khawatir jika saat ini Rena baik-baik saja.

I Promise [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang