*Beberapa bulan kemudian..
Dengan berbekal sebuket bunga ditangan, Rena berjalan mantap masuk ke area Sekolah yang sudah dipenuhi banyaknya siswa dan para orang tua murid kelas dua belas. Hari itu Rena mengenakan dres selutut berwarna biru gelap dengan tatanan rambut yang digerai menutupi punggung. Ditangan sebelah kanannya Rena menempelkan ponsel ketelinga, menelpon seseorang yang sejak dua puluh menit yang lalu berpisah dengannya dipersimpangan jalan.
"Gimana? Kamu udah jemput Vera?"
"..."
"Oh oke, iya ini aku baru nyampe sekolah,"
"..."
"Aku ke Lapangan sekarang, ya."
"..."
"Oke, bye."
Setelah mematikan panggilan, Rena berbelok ke kanan menuju ke arah Lapangan. Dari jarak beberapa meter dari tempat Rena berdiri sekarang ia melihat punggung laki-laki yang satu menit yang lalu berbicara dengannya ditelpon sedang berdiri membelakangi ring basket. Didepannya ada seorang perempuan yang duduk dikursi panjang dengan kaki yang bergerak-gerak gelisah.
Rena menyunggingkan senyumnya sesaat sebelum ia menghampiri kedua orang tersebut. Ia berjalan kesana dan ketika pandangannya bertemu dengan mata sahabatnya yang sudah beberapa bulan ini tak ditemuinya air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan jatuh seiring dengan tubuhnya yang memeluk perempuan didepannya dengan sangat erat.
"Yaampun, Ren. Ini beneran lo 'kan?" ucap Vera sambil terisak.
Rena mengangguk-angguk dalam pelukannya lalu melepaskan pelukan itu saat bayangan seseorang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Ia menoleh ke samping tempat dimana Reno masih berdiri sambil memandangnya dan Vera bergantian. Rena tersenyum kemudian maju selangkah, memeluk lelaki itu sekilas.
"Makasih, ya. Udah mau jemput Vera." katanya.
Reno diam-diam menghela nafas, "Iya. Tapi lain kali jangan kaya gitu lagi." balas Reno.
Rena terkekeh seraya mengusap bekas air mata nya, ia teringat kembali kejadian setengah jam yang lalu saat ia dan Reno berada didalam mobil untuk pergi ke Sekolah tapi mendadak Rena meminta turun dijalan dan memaksa Reno untuk pergi menjemput Vera ke Bandara karena ternyata mobil Pak Rudi mogok dijalan.
Bukan karena Reno tak mau menjemput Vera, hanya saja ia tidak tega meninggalkan Rena sendiri dijalan dan membiarkan gadis itu pergi sendiri ke Sekolah apalagi Rena bilang ingin pergi ke Toko Bunga lebih dulu untuk membeli bunga untuk Gilang nanti. Mereka sempat adu mulut beberapa saat ketika di mobil tadi tapi karena kegigihan Rena yang meyakinkan Reno bahwa ia tidak apa-apa jika harus pergi sendiri maka dengan sangat terpaksa Reno meninggalkan Rena dipersimpangan jalan.
Rena bilang jika ia ikut bersama Reno untuk menjemput Vera maka tidak akan ada waktu lagi untuk pergi ke Toko Bunga. Padahal Reno berfikir tidak akan apa-apa jika Rena tidak membawa bunga untuk Gilang, toh Gilang juga tidak akan marah walau tanpa bunga. Namun yaaah, Reno selalu kalah dalam masalah berdebat dengan Rena hingga akhirnya ia pun menuruti keinginan kekasihnya tersebut.
"Nih, nanti lo kasih ke Kak Gilang, ya." ucap Rena sambil menyerahkan sebuket bunga yang ia bawa kepada Vera.
"Tapi, Ren. Gue malu ketemu Kak Gilang, terus nanti disana pasti ada orang tua nya 'kan?" jawab Vera gelisah.
"Yaampun, Vera. Berapa bulan lo pacaran sama Kak Gilang? Masa malu, sih?"
"Iya tapi 'kan-"
"Udah, buruan deh. Gue udah bela-belain jalan kaki ke Toko Bunga demi lo, masa lo gak mau? Gak menghargai banget." balas Rena sedikit merajuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Promise [Completed]
Teen FictionSetahun lalu Rena pernah sangat mencintai seorang pria, tapi perlahan rasa itu memudar seiring berlalunya waktu. Pria yang dicintainya tak lagi menaruh rasa percaya pada Rena karena sebuah kejadian tak terduga dimalam hari jadi mereka yang ke satu t...
![I Promise [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/67977064-64-k21584.jpg)