Apa yang terjadi saat seorang gadis bertemu dengan pria idamannya?
Gadis akan jatuh cinta pada pria itu.
Gadis akan berusaha mendapatkan pria itu.
Gadis akan merubah dirinya untuk pria itu.
Lalu apa yang akan terjadi saat gadis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AKU BENAR! TENTANG kumbaya dan semacamnya, ini adalah tempat semacam itu. Menyembuhkan menggunakan kekuatan pikiran dan omong kosong lainnya. Dari mana tante ku menemukan tempat seperti ini pula? Aku harus kabur dari sini sebelum aku terpengaruh dengan hal-hal menjijikkan semacam ini. Aku tidak ada masalah dengan yoga dan semacamnya, aku hanya bermasalah dengan penstereotipannya. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan yoga dan apapun yang mereka ajarkan untuk lakukan. Aku kecanduan narkoba, ya, aku akui itu, yang membuat ku jadi bertanya apa hubungan semua ini dengan membantu ku menghilangkan kecanduan ku. Tidak seperti dengan melakukan "latihan" ini aku bisa secara ajaib kehilangan keinginan ku untuk menggunakan narkoba juga bukan? Rehabilitasi dibutuhkan jauh lebih banyak dari sekedar "latihan" dan meditasi. Sejauh ini yang mereka lakukan hanya menyuruh ku ikut kelas-kelas dan semacamnya. Belum saja aku menunjukan withdrawal symptom ku, aku bahkan tidak yakin di tempat ini ada dokter yang berjaga. Pusat rehabilitasi seharusnya memiliki dokter berjaga, setidaknya satu. "Yo, aku butuh telepon" ucap ku pada wanita di meja depan "Siapa yang kau ingin telepon?" Tanyanya menantang "Ini bukan penjara, aku bisa menelpon siapa pun yang aku mau" balas ku tak mau kalah "Siapa sponsor mu?" Tanyanya lagi "The fuck I know" balas ku malas "berikan saja aku teleponnya" lanjut ku merampas teleponnya sebelum wanita itu bisa mengatakan apapun Aku menghubungi Rad. Aku tahu nomer dia di luar kepala, dan dia sudah cukup mengenal ku untuk bersedia melakukan panggilan rumah, atau dalam kata lain, mengirimkan barang saat aku meminta dia, dengan tambahan beberapa lembar uang tentunya, tapi tidak masalah untuk ku. Aku butuh dosis ku, dan tempat ini bukan tempat rehab, aku tahu itu sekarang. Ini hanya tempat pemerasan. "Jadi aku terjebak di Ramira center," ucap ku saat Rad mengangkat telepon ku dengan sapaan khasnya "aku butuh kau untuk mengantarkan beberapa hal" "Yes, boss" balasnya lalu terdengar kertas di buka "aku siap" "Kirimkan yang biasa aja" balas ku malas "Biasa mu banyak, love. Kau harus lebih spesifik" balasnya tertawa "A few pop of E and H," balas ku datar "cukup spesifik untuk mu?" "Tidak ingin grass atau snow? Mungkin shroom?" Tanyanya terdengar seperti sedang menulis. Rad selalu menulis pesanan ku walaupun aku hanya memesan satu buah benda, aku selalu menganggap itu untuk inventorinya. "Tidak, hanya dua itu saja untuk saat ini" jawab ku melihat ke belakang, melihat kalau wanita itu sudah kembali ke perkerjaanya "berapa lama?" "2 jam. Paling lama" balasnya santai, seperti selalu, tidak pernah aku melihat Rad selain santai "Temui aku di pintu belakang fasilitas" ucap ku memastikan "aku akan menunggu" lalu aku mematikan sambungan dan memastikan untuk menghapus nomer dari log teleponnya "Kau sudah puas? Atau ada lagi yang ingin kau hubungi?" Tanya sang suster atau apalah posisi dia dengan sarkastik dan aku hanya membalasnya dengan senyuman yang tak kalah sarkastik sebelum meninggalkannya. 10 hari lagi, dan aku akan bebas dari penjara tanpa jeruji besi ini.
°°°°чч°°°°
Heaven. Yes... aku merindukan sensasi ini! 5 hari tidak merasakan ini, aku merasa seperti baru saja dibebaskan, aku merasa hidup, well, lebih hidup. Bagaimana bisa aku meninggalkan ini semua? Aku memastikan dosis ku tidak sebanyak yang biasanya, aku tidak bisa membiarkan diri ku terlalu menikmati dan tidak memperhatikan situasi. Aku bisa mendapat masalah dan membuat masa tinggal ku di sini diperpanjang, jelas aku tidak ingin itu bukan? Jadi aku harus mengurangi dosis ku yang biasa, lagipula aku juga harus berhemat untuk membuat masa tinggal ku di sini terasa lebih menyenagkan, 5 hari terakhir ku terasa seperti... aku tidak memiliki kata-kata yang tepat saking sangat membosankannya hari-hari itu. "Apa kau sedang tinggi?" Seorang suster pria menarik lengan ku sesaat aku baru saja keluar beberapa langkah dari kamar ku "Hands off, dude, aku bisa mengatakan ini sebagai pelecehan" balas ku ku menatap tangannya yang menahan lengan ku, dia menarik tangannya kembali dengan cepat "Sekali lagi aku tanya, apa kau sedang tinggi?" Nadanya serius, membuat ku mendapatkan ide "Tergantung" balas ku tersenyum "Pada apa?" Ia menatap ku curiga "Pada apa yang akan kau lakukan pada ku kalau jawaban ku ya" harus ku akui, pria ini cukup manis untuk pekerja di sini "Apa kau sedang menggoda ku?" Ia memiringkan kepalanya "Aku percaya jawaban untuk itu adalah ya, sir" aku bukan lagi gadis malu-malu, saat aku menginginkan sesuatu, aku mengejarnya tanpa berpikir dua kali. Tentang konsekuensi yang akan aku dapatkan? Well, itu adalah urusan untuk nanti. Bibirnya sangat lembut, dan pria ini bisa dikatakan cukup responsif, dan pencium yang handal. Aku sudah bersandar di tembok dalam hitungan detik, dan tidak menjejak lantai di detik berikutnya. Sungguh beruntungnya aku tertangkap oleh pria manis sepertinya. Aku hanya berharap ia bukan salah satu dari penggila meditasi atau kumbaya dan semacamnya dan hanya sebatas seorang pekerja di tempat ini, sangat disayangkan kalau ternyata kenyataannya seperti itu, tapi untuk saat ini, aku akan menikmati apa yang pria ini sajikan untuk ku. Setelah kita selesai, yang aku batasi dengan hanya heavy petting dan makeout session, aku bertanya lebih banyak tentang pria ini karena aku benar tertarik untuk melakukan hal-hal ini dengannya lebih dari sekali, dia hebat, sangat hebat, hampir menyamai pria itu, tapi seperti selalu, hanya hampir, pria itu tiada tandingannya. "Jadi siapa nama mu?" Tanya ku menatapi dia yang sedang kembali memakai pakaiannya "Oh, sekarang kau peduli dengan nama ku?" Balasnya melirik ku sambil menaikkan sebelah alisnya. Dia sangat seksi dengan tubuhnya yang berbentuk, tidak lupa dengan tattoo itu! Uh yes... seksi! "Tentu saja aku peduli, aku ingin tahu nama siapa yang akan aku ucapkan saat kau membuat ku climax" aku menarik batas di sex, tapi aku tidak masalah dengan sedikit permainan mulut dan jari... Itu membuatnya tertawa "Zac," ucapnya "nama ku Zac" ulangnya "Aku Taylor" balas ku "its been a pleasure meeting you" penekanan di kata pleasure kalau kau mengerti maksud ku "Yeah," Zac menggeleng "ini tidak seharusnya terjadi lagi, karena ini melanggar aturan" lanjutnya sambil duduk di kasur ku untuk memakai kembali sepatunya "Tidak kalau kau tidak memberitahu siapapun," balas ku bangun ke posisi merangkak untuk mendekatinya "ini akan menjadi rahasia kita berdua," bisik ku di telinganya "dan jangan kau katakan kau tidak menikmatinya seperti aku menikmatinya" lanjut ku lalu kembali melumat bibir manisnya "You are such a minx" ucapnya sebelum ia kembali kehilangan atasannya "Aku belajar dari yang terbaik" balas ku santai