Sandiwara Besar

699 37 2
                                    

Brak

Pintu ruangan Dahlia nomor 11 terbuka dengan keras, dibaliknya muncul gadis cantik yang sedari tadi bersusah payah menahan air matanya agar tidak tumpah.

Tidak lama, di belakangnya muncul lelaki yang mengejar gadis itu.

Kak Kelvin dan mamah menatap kedua orang itu dengan heran namun wajahnya tetap terlihat santai, seolah mereka tidak sedang menjalani sandiwara besar.

Aku berjalan perlahan menghampiri kak Kelvin yang terbaring di bangkar dan mamah yang duduk di kursi samping bangkar. Mike mengekori di belakang.

"Kamu kenapa Ra? Mukanya kusut banget kayak benang layangan?" Tanya kak Kelvin sambil terkekeh pelan

Wajahku datar, tidak berniat sedikit pun untuk merespon perkataan kak Kelvin barusan.

Senyum mamah yang semula mengembang perlahan memudar, saat menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam diriku.

Aku sudah berdiri tepat di samping mamah duduk. Mike di sampingku.

"Gimana keadaan kak Kelvin?" Tanyaku datar

"I'am okay" Tanya kak Kelvin sambil memandangi tubuhnya yang terbaring di bangkar dengan tatapan heran

"Iya sayang, kak Kelvin udah baik-baik aja kok" tambah mamah sambil mengelus lenganku "Besok kemungkinan udah boleh pulang" sambungnya sambil tersenyum kepada kak Kelvin

"Kakak kapan kemo?"

Tangan mamah yang semula bertengger di lenganku perlahan terlepas. Tatapan kak Kelvin yang tadinya menunjukkan kecerian berubah menjadi sesuatu yang sulit diartikan. Tatapanku lurus menatap mata kak Kelvin.

Hening.

Baru saja Mike akan berbicara, mamah lebih dulu berbicara.

"Em, sayang, kakak kamu nakal banget gamau ngejalanin kemo terapi" ujar mamah seperti berbicara pada anak kecil, caranya berbicara penuh pengertian namun isinya hanya kebohongan

"Gimana mau kemo kalo kak Kelvin aja ga menderita penyakit leukemia"

"Maks-" aku lebih dulu memotong ucapan kak Kelvin

"Yang selama ini aku minum bukan vitamin, tapi obat penderita kanker darah"

Mamah dan kek Kelvin terkejut. Aku dapat melihat dari reaksi keduanya. Tetap saja aku yang merasa lebih terkejut saat keluargaku sendiri bermain sandiwara di rumahnya sendiri.

"Raa" panggil kak Kelvin dengan lembut

Ia bangkit dari posisi terbaring menjadi duduk. Tangannya bergerak membawaku masuk ke dalam pelukannya.

Aku menerima tanpa memberontak, namun aku tidak membalas pelukannya. Dalam dekapan kak Kelvin, air mataku mulai membasahi pundaknya. Ia mengelus rambutku dengan lembut, penuh kasih sayang. Dan juga kebohongan.

"Kamu ngomong apa sih sayang?" Mamah berdiri dan ikut mengelus bahuku

"Rara benci dibohongin" ucapku dalam isakan

"Raa"

Aku mendorong tubuh kak Kelvin sampai pelukannya terlepas.

"PERTAMA LO GA BILANG KALO LO PENGIDAP LEUKEMIA, DAN KEDUA LO BOHONG KALO TERNYATA GUE YANG PUNYA PENYAKIT ITU, BUKAN ELO KAK!"

Emosiku sudah benar-benar mencapai puncak, amarah yang sedari tadi aku tahan akhirnya meledak juga.

"Gue ngelakuin ini karna gamau bikin lo sedih Ra" ucap kak Kelvin lemah

"Tapi pada akhirnya lo bikin gue sedih juga kak" suaraku menyamai kak Kelvin

"Raa"

"Itu sama aja lo bunuh gue secara perlahan" ucapku pelan dan penuh penekanan

Kedua pipi mamah sudah dibasahi oleh air matanya yang terus mengalir. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menangis dalam isakannya.

Mike terdiam mematung. Sepertinya ia berpikir apa yang telah dilakukannya barusan benar apa salah. Tapi menurutku itu benar. Sampai kapan kakak dan yang lainnya terus bersandiwara kepadaku?

Aku pun berlari keluar dari ruang rawat kak Kelvin. Berlari terus berlari mengikuti kata hatiku. Akhirnya aku berhenti di ujung lorong yang terdapat jendela dimana kita bisa melihat jalanan dari atas. Di setiap ujung lorong rumah sakit ini pasti terdapat jendelanya.

Aku terus menangis, meratapi nasibku yang begitu sadis. Aku bersandar di dinding lorong, sampai perlahan tubuhku terperosot ke bawah dan akhirnya aku menangis sambil memeluk kedua lututku, wajahku tenggelam dalam lingkaran tanganku yang memeluk lutut.

***

Author's POV

Lelali itu mengacak rambutnya frustasi. Ia mengerang sambil mengacak-ngacak selimut, seprei, bantal, dan apapun yang berada di dekatnya. Hal itu membuat tiang impusannya terjatuh dan selang dan jarum yang menusuk kulitnya pun terlepas dengan kasar.

Itu benar-benar terasa sakit. Tapi baginya saat ini, hal itu tidak lebih sakit dari apa yang dirasakan adiknya saat ini.

Mike dan mamah mencoba untung menenangkan Kelvin. Beberapa suster mulai berdatangan.

Keringat dan air mata sudah membasahi wajah tampannya.

Ya, Kelvin menangis. Lelaki itu menangis. Apa yang sudah ia lakukan kepada adiknya itu benar-benar menyakitkan.

Kelvin dan kedua orang tuanya lupa bahwa serapat-rapatnya kita menutupi sebuah kebogongan pada akhirnya akan terbongkar juga.

Kelvin menyakiti dirinya sendiri dengan ulahnya yang mengamuk frustasi seperti ini. Di sisi lain, kanker yang bersarang di tubuh Laura terus menggorogotinya.

***

Hoalahhhh.. maaf nih kalo feel ga dapet yah😢 maklum lah masih author amatiran hikss😭 aku belum terlalu bisa bermain dengan kata. Semoga yang ada di imaji aku juga bisa terbayang oleh kalian😅 kalo aku sih pas ngebayangin chapter ini sedih, tegang sendiri😂

Apalagi pas Kelvin ngamuk-ngamuk gitu di ruang rawatnya, terus di sisi lain Laura nangis sambil meluk kedua lututnya😢

Vote coment ya😂 ini cerita ga tau gimana bisa nyampe 2000 readers, seneng hehe😅 apalagi kalo kalian lebih sering baca, ntar aku bakal mempercepat endingnya😊

Btw, mulai sekarang. Kisah hidup Laura saat sudah mengetahui penyakitnya. Uh banyak kejadian-kejadian yang kalo dialamin sama orang penyakitan kayak Laura justru bakal bikin hidupnya lebih singkat.😞 intinya baca, vote, coment😊😊

Dear DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang