What? 2

811 39 0
                                    

Mulmed : Chance Sutton↔Billy, sama Eksa

***

"Kalo gitu, berarti kak Kelvin ditinggal sendiri dong?" Tanyaku yang sadar sesuatu

"Gapapa kali Ra" kata kak Kelvin

"Ngga-ngga" bantahku

"Ya udah kalo gitu kita tunggu om dan tante deh" ucap Mike pasrah

Aku, Mike, dan kak Kelvin mengobrol, bercanda, meluapkan rasa rindu satu sama lain, khususnya antara aku dan kak Kelvin. Meski kak Kelvin harus lebih banyak istirahat, tapi aku tau dia lelaki yang kuat.

Mamah dan Papah belum juga datang, lama sekali mereka. Pasti mereka belum tau kalo kak Kelvin udah sadar. Seseorang membuka pintu dan di baliknya muncul seorang perempuan cantik dengan pakaian yang sesuai dengan profesinya.

"Permisi" ucap suster Anna

Aku, Mike, dan kak Kelvin menoleh ke arah pintu. Aku mencebikkan bibirku dan mengembungkan pipi, aku pun menghela napas pasrah.

"Laura, waktunya makan siang dan minum obat" ujar sang suster

"Dia nakal banget sus" cibir Mike yang sukses mendapat tatapan horor dariku, kak Kelvin hanya terkekeh

"Oia, biarkan kakak kamu istirahat dulu Laura" tambah suster itu yang berjalan mendekatiku

"Oke baik-baik sus" aku pasrah "Kakak harus istirahat yang cukup, besok gue ke sini lagi dan ga akan pake pakaian ini" ujarku sambil menunjuk tubuhku yang terbalut pakaian pasien rumah sakit

Aku kembali ke kamar rawatku bersama suster Anna, Mike tetap berada bersama kak Kelvin sampai Mamah dan Papah datang.

***

Langit sudah gelap, bulan pun hadir menggantikan sang mentari. Begitupun Papah yang menjagaku menggantikan Mike. Punggungku tersandar di kepala bangkar. Papah duduk di sofa dengan beberapa dokumen yang tergeletak di meja.

Mamah berada di ruang rawat kak Kelvin. Mike dan keluarganya sudah pulang sejak tadi sore. Yang benar saja kalo mereka terus berada di sini sampai aku dan kak Kelvin sembuh. Keluarga Mike memang bersahabat dengan keluarga kami.

Aku dan tante Vera sudah akrab sejak lama. Om Bram dan Papah adalah rekan kerja. Aku baru mengetahui Mike dan Cinta adalah anak tante Vera, karena sebelumnya Mike tinggal di Australia sedangkan adiknya, Cinta tinggal dengan tantenya meski sesekali pulang ke rumah orang tuanya.

Oh iya, hari ini tanggal merah. Jadi wajar saja bila Manda dan yang lainnya bisa menjengukku dan kak Kelvin.

Jari jemariku terus saja menggulir layar handphone ku. Apalagi yang bisa aku lakukan selain itu? Saat kuota habis dan pulsa tidak mencukupi untuk berkomunikasi. Aku hanya melihat panggilan tak terjawab dari lelaki itu.

"Pah" panggilku yang terdengar dengan sedikit rengekkan

"Hmm?" Papah menyahut dengan deheman, mata dan tangannya sibuk dengan dokumen yang ada di hadapannya

"Kuota Laura abis" keluhku

"Isi dong" jawab Papah enteng, matanya tidak tertarik untuk menatapku

"Pake apa? Chargeran?" Sindirku ketus

"Emangnya bisa ya?" Papah menghentikkan aktifitasnya sejenak dan menatapku dengan keheranan

"Astaga Papah" ucapku frustasi "Pulsa Laura habis, di rumah sakit ini ada penjual pulsa ga sih?"

"Mana Papah tau" Papah kembali fokus dengan pekerjaannya

"Ah Papah gitu, ga asik" gerutuku sebal, aku memalingkan wajahku dari Papah, entah pria itu menyadari atau tidak karena pandangannya tidak berpaling dari pekerjaan yang terus menyita waktunya

Dear DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang