Tatapan yang berbeda

16.4K 1.2K 17
                                        

  "Apaan sih Nin?" Tanya Shani dengan nada datar nya pada Anin yang berada di ujung telfon sana.
Sedangkan Shani baru saja menutupi pintu apartemen nya akan pergi.

"Loe di mana sih? ,kita udah di Viber nih " saut Anin sambil menyebutkan nama salah satu nama cClub di ibu kota yang terkenal dengan fasilitas lengkap dan mewah.

"Ini mau jalan, Shania udah datang?"

"Yaileh, loe pake nanyain Shania, dia itu gak bakal datang jam segini, jam segini dia lagi jadi anak gadis mami papi nya. Dan pasti sedang menikmati makan malam bersama keluarga nya "  mendengar jawaban Anin membuat nya tersenyum samar nyaris tidak terlihat.

Ia terus melangkah menuju lift yang akan membawanya ke base ment apartemen yang sudah dua tahun ini ia tempati.

Shani Indira Hutama anak tunggal dari Dirga Hutama. Pemilik sebuah hotel yang bertebaran di seluruh eropa atau di asia, dan sudah di pastikan pewaris tunggal dari semua bisnis Hutama. Uang bukan lah segalanya untuk nya, ia terbiasa menghabiskan nya bahkan berpesta ria.
Hidup nya bergelimang harta membuat nya begitu mudah dalam menjalani hidup.
Semua mengenal seorang Shani Indira Hutama. Semua pria tergila - gila dengan Shani. Bahkan semua ingin berdekatan dengan 'nya.

Namun seorang Shani tau, kalau mereka hanya butuh populeritas dan juga uang nya. Dan itu bukan masalah besar untuk Shani.

  Ia melajukan mobilnya dengan santai, dan menghidupkan musik sesuai dengan favorit nya.
Tidak ada yang tau, di tengah keramaian hidup Seorang Shani kalau gadis angkuh dan dingin itu selalu merasa kesepian.

  Berbeda jauh dengan gadis yang baru saja menuruni tangga rumah megah milik kedua orang tua nya. Ia melenggang ringan berlari kecil dengan mengendap di belakang cowok remaja tanggung yang berdiri di bawah anak tangga sedang menelfon seseorang.

"Ogah, males gue. Lagian gue...."

"DORRR... "  Graci mengejutkan adik nya, tapi sepertinya garing, bukti nya cowok itu sama sekali tidak terkejut, ia malah menoleh jengah ke belakang pada kakaknya yang jail nya luar biasa. Lalu berdecak dan melanjutkan obrolan nya dengan teman nya sambil berjalan menuju ruang makan.

"Kampret " dengus nya lalu dengan muka cemberut iya menyusul Ares ke ruang makan.

"Kamu mau kemana?" Tanya Keynal ketika Gracia di susul Shania di belakang memasuki ruang makan.

"Gak kemana - mana " jawab Gracia dengan santai, Ares terkekeh mendengar jawaban sang Kakak yang salah kaprah.

"Bukan loe, tapi Kak Shania " saut nya membuat Gre ikut menoleh kebelakang, dan dia hanya menunjukkan senyum salah tingkah nya.

"Mau keluar pa" jawab Shania mengambil tempat di samping sang Mama.

"Keluar? Kemana?"

"Palingan juga mau jalan sama Agam " celetuk Ares dengan lugas membuat Shania langsung memicing matanya dengan tajam pada Ares. "Aw.. " ringis Ares saat kaki nya merasa di tendang, ia langsung menoleh sebal pada Gre.

"Bener?" Tanya Keynal dengan nada datarnya.

"Enggak pa, aku pergi sama temen "

"Ya ya ya., temen percaya kok, percaya " saut Ares lagi, dan kembali di tendang oleh Gre sambil melotot tajam. "Apaan sih " dengus Ares tidak mengerti situasi yang mendadak dingin.

"Papa gak suka ya kamu jalan sama dia"

"Ares juga "

"Ares!" Geram Gre menatap tajam pada adik nya itu.

"Apa?" Tanya Ares dengan tanpa brsalah. Tidak menyadari kalau Shania sudah sedari tadi menatap tajam penuh intimidasi padanya.

"Shania makan di luar aja, udah di tungguin " ujar Shania sudah tidak lagi bernapsu makan. Ia langsung beranjak dari kursi dan menyalami ke dua orang tua nya. Dan saat itu baru Ares sadar kalau ia baru saja melakukan ke salahan.

My Senior (GreShan) EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang