Lie
Happy Reading
.
.
.
.
“Lebih baik lo keluar dari sini”
Kirana menegang.
Biasanya tatapan sendu Gapura adalah tatapannya yang mencintai Kirana,
Biasanya tatapan ceria Gapura adalah tatapan yang ingin membuat Kirana bahagia,
Biasanya tatapan tajam Gapura adalah tatapan ingin melindungi dirinya,
Namun di depannya, Gapura menatap tajam dirinya dengan makna lain.
Tatapan tajam itu penuh dendam.
“Lo dengar sendiri, kan?” tambah Laras semakin menatap benci.
Seakan nafas Kirana sesak dirasa dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya namun sebisa mungkin ia tahan.
“Pergi, atau gue panggil satpam buat ngusir lo paksa. Lebih baik lo pergi”
“Dan mulai sekarang, nggak ada hubungan apapun lagi diantara kita”
Hingga saat ia tertipu oleh cara pandangnya sendiri memahami perasaan.
Hingga saat ia terkhianati tentang sebuah perasaan.
***
Ia tak peduli dengan orang-orang di gedung yang tengah memperhatikannya, ia terus berjalan dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Kirana menuruni lift, tiba di lantai satu, berjalan cepat keluar dari gedung menuju mobilnya yang sudah menunggu tepat di depan gedung,
Membuka pintu mobil dengan emosi sampai pak supir yang tak berani menanyakan keadaan Kirana langsung melaju menuju rumah.
Sepanjang jalan dirinya menangis pilu sembari menutup kedua telinga, dadanya sesak dan sakit luar biasa hingga deruan nafasnya yang sudah tak beraturan,
Ia terus menunduk dan menangis lebih memilukan.
Ia memang sudah salah selama ini.
Ia sudah salah bertemu dengan Gapura.
Ia sudah salah telah percaya dengan Gapura.
Awal pertemua mereka adalah sebuah kesalahan.
Hingga tiba di rumah ia berjalan cepat tanpa memperdulikan si bibi yang menanyakan keadaan dirinya yang memang sudah tak baik-baik saja,
Kirana terus berjalan menaiki tangga hingga masuk ke kamar dengan membanting pintu lalu dikucinya.
Ia tiba di kamarnya, perlahan menoleh ke samping melihat vas bunga di atas meja.
PRANK!
Terus ia banting benda apapun itu, mulai dari vas, pigura, lampu meja, semua barang ia jatuhkan ke lantai, gorden kamar yang mulai acak-acakan,
Karpet bulu yang dilempar asal, terus membanting apapun membabi-buta, ia berteriak histeris hingga kepalanya terasa sakit namun masih mengacak-acak kamarnya.
Benar-benar seperti kapal pecah.
“NGGAK ADA YANG BISA DIPERCAYA! SEMUANYA NGGAK ADA YANG BISA DIPERCAYA!”
“Non?! Non Kirana?! Kenapa non?!”
Suara khawatir si bibi di luar kamar tak lagi ia pedulikan, terus membabi-buta, berteriak, menangis, membanting ini-itu, mengacak ini-itu.
Hingga ia terduduk tak berdaya di depan pintu dengan keadaan kamar memprihatinkan, sama seperti dirinya.
Bahkan si bibi yang memanggilnya berkali-kali hingga tuan Karta yang juga memanggilnya bersama nyonya Wening.
Ya.
Ibunya sudah datang dua jam yang lalu dan langsung mendapat panggilan dari si bibi tentang keadaan Kirana sekarang, nyonya Wening yang tak sempat pulang langsung datang ke rumah tuan Karta.
Namun tak ada jawaban dari Kirana.
Masih terdengar suara isakan kecil gadis itu, kepalanya tertunduk dengan kedua tangan menutup telinga dan sebuah benda perak yang berada jauh di depannya.
Tanpa pikir pun ia melempar cincin pemberian Gapura.
Astaga!
Hanya dengan mengingat nama itu hati Kirana semakin pilu dirasa.
***
“Kamu lihat sendiri? Kenapa harus anakku yang terbebani masalah ini? Perasaan anakku sudah hancur, mas!”
“Aku dijebak, Wening. Si Arya dan anak-anaknya sudah berencana buat hancurin keluargaku”
“Apa maksudmu anak-anaknya Arya?”
“Sebenarnya, mereka bukan anaknya Arya, mereka anak dari Kinanti. Gapura, Vajra, Laras”
“Apa kamu bilang mas? Jadi mereka bertiga—astaga! Kepalaku...”
Nyonya Wening yang hampir tak sanggup untuk berdiri langsung dibantu oleh si bibi dan dibawanya duduk di sofa, dan televisi yang sedang menyangkan berita besar itu sekarang.
“Berita tentang beredarnya sebuah pengakuan bahwa Gapura, pemimpin bagian pembagunan daerah adalah anak kandung dari menteri Kartasamita serta kasus penyalahgunaan uang oleh beliau”
Baik nyonya Wening maupun tuan Karta sama-sama terkejut, bahkan nyonya Wening sudah hampir menangis dengan kondisi keluarganya sekarang.
Rahang tuan Karta mengeras serta kedua tangannya yang mengepal erat.
***
Sementara di dalam kamar, ia masih bertahan di posisinya.
Ia tak lagi menangis namun air matanya masih mengalir, menatap kosong dengan bayangan-bayangan dirinya bersama pria itu.
Dirinya dikecewakan oleh hati kecilnya yang tak berdosa.
Dirinya dikecewakan oleh kenyataan yang ia jalani sekarang.
Dirinya dikhianati oleh cinta yang sudah ia percayakan.
Can't Forgive
KAMU SEDANG MEMBACA
UnKnow [END]
RomanceIni bukan tentang "cinta terlarang" Tapi, bagaimana mereka membangun sebuah hubungan yang sudah terikat sejak lama. Kisah yang bisa saja dialami dalam percintaan dan keluarga.
![UnKnow [END]](https://img.wattpad.com/cover/101401549-64-k607436.jpg)