LIE
Happy Reading
.
.
.
.
Ia hanya perlu datang ke gedung menemui Gapura dan membahas masalah ini, dan semua akan selesai. Kirana masih pada pendiriannya, ia yakin ini semua bohong.
Mana mungkin mereka berdua bersaudara,
Wajah mereka tak mirip.
Tapi wajah Gapura—
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Gapura" ucap Kirana pada resepsionis gedung,
"Dengan nona Kirana?"
"Iya, saya"
"Ruangan tuan Gapura di lantai tiga, anda sudah bisa ke sana"
"Terima kasih"
Ia berjalan menyelusuri tiap-tiap koridor, tiap-tiap ruangan, hingga naik di dalam lift dan tiba di lantai tiga. Ketika keluar dari lift beberapa pegawai maupun penjabat yang melihatnya langsung menyapa. Beberapa dari mereka sudah tahu siapa Kirana.
"Selamat siang, nona Kirana"
"Semakin cantik saja nona Kirana, persis ibunya"
Kirana hanya membalas dengan senyuman manis walaupun ia tak ada niatan untuk tersenyum hari ini namun ia juga tak ingin dikatai anak menteri yang sombong.
***
Terus berjalan menyelusuri tiap-tiap ruangan hingga melihat pintu kaca lebar di depan sana, itu ruangan Gapura.
Ia mengatur nafasnya, berusaha membuat wajah dan suasana hatinya terlihat seolah semuanya baik-baik saja. Perlahan tanganya bergerak ke atas, mengetuk pintu.
"Masuk"
Suara perempuan?
Sekali lagi ia menarik nafas dan menarik bibirnya ke atas hingga senyuman kecil sudah terlihat di wajahnya. Dibukanya perlahan pintu itu masih dengan senyuman hingga sampai apa yang ia lihat di depan matanya.
Laras?
Dan Gapura?
"Eh! Ternyata lo, Kir. Masuk sini" sapa gadis itu riang kepada Kirana, dengan seorang pria yang duduk di sampingnya tengah berwajah dingin menatap Kirana.
Ada apa ini?
"Kenapa lo..."
"Oh iya! Selamat ya, Kir"
Kirana menatap Laras tanpa kedip, bahkan senyumanya sudah tak terlihat lagi di wajahnya. Satu langkah ia maju berdiri menjauh dari pintu masuk dan masih menatap Laras dengan wajah bingung.
"Gue dengar, lo sama kak Gapura itu saudara, ya?"
Laras tahu?
Ada apa ini sebenarnya?
Kenapa Laras bisa ada di sini bersama Gapura dan mengetahui rahasi yang Vajra ceritakan kemarin?
Kirana sulit mencerna situasi sekarang, ini terlalu mendadak untuknya.
"Lo kenapa... bisa tahu? Kenapa lo... bisa di sini?" gumam Kirana, lalu matanya mengarah pada Gapura yang menatap ke arah bawah dengan kedua tangan yang ia topang di depan bibir. Masih enggan menatap gadis di depannya.
Laras tersenyum simpul lalu menatap intens ke arah Kirana,
"Gue bisa di sini? Emang nggak boleh nengok kakak tiri gue juga?"
"Maksud lo apa, Ras? Lo kenapa, sih?"
"Kok malah kenapa? Gue nggak kenapa-kenapa, ini emang gue. Laras, sahabat lo. Gue adik tiri dari kak Gapura dan adik kandung dari kak Vajra—oh! Iya, lo dulu sama kak Vajra sahabatan, ya? Wah! Kenapa bisa pas banget ya kita berempat ketemu dan..."
Laras kini menyeringai lebar. Kirana bergidik ngeri, gadis di depannya bukan seperti Laras. Apa hubungannya semua ini dengan dirinya?
Saudara tiri?
Kenapa dengan mereka bertiga?
"Ada hubungan darah di antara kita. Senang banget ya, gue punya banyak saudara. Ternyata persahabatan kita selama ini nggak sia-sia, Kir" Laras kemudian tertawa bahagia namun tidak dengan Kirana.
Tubuhnya bergetar, ia menatap ngeri kedua orang di depannya itu.
Keringat dingin lagi-lagi bercucuran di pelipisnya, kedua tangannya mengepal.
Kenapa dengan orang-orang terdekatnya yang tiba-tiba berubah sekarang?
"Bohong" ucap Kirana dengan nada dingin, matanya kini menatap tajam ke arah Laras.
Tak peduli bagaimana dulu ia dan dirinya menjalani hari-hari bersama, tak peduli dengan apa yang sudah mereka berdua lakukan bersama-sama.
Ia tak peduli.
Semua berbohong padanya, sahabatnya berbohong—Tidak.
Laras bukan sahabatnya.
Dia seorang pembohong.
"Bohong? It's real, Kir. Emangnya yang kak Vajra bilang kemarin lo anggap bercanda? Sampai dia datang ke rumah dengan kondisi kacau setelah ketemu sama lo, lo masih bilang bohong? Lo harus tahu, Kir..." nafas Laras mulai terengah dengan nada suara yang meninggi, kini seringai lebar di wajahnya tergantikan dengan wajah penuh amarah di sana. Wajah Laras yang penuh dendam.
Laras menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi yang diduduki Gapura, berdiri tegap dengan kedua tangan yang mengepal.
"Seandainya lo nggak lahir di dunia ini keluarga gue nggak akan sehancur sekarang!" serang Laras. Kirana masih berdiri di sana dengan tubuh bergetar dan tangan mengepal erat,
Kenapa Gapura diam?
Kenapa dirinya tak membela?
Bukannya Gapura mencintai Kirana?
"Ra, ini semua benar? Lo udah tahu rahasianya? Kenapa, Ra? Lo juga tahu, kan? Kenapa lo diam?"
Gapura menatap tajam Kirana. Seakan mulai muak dengan semua pertanyaan Kirana padanya, sedangkan gadis itu semakin menatap tak percaya dan mata yang mulai berkaca.
"Lebih baik lo keluar dari sini"
tbc
Maaf untuk chapter yang ini rada pendek. Besok janji deh bakalan lanjutin ceritanya,
Penasaran?
Semoga penasaran,
Oh, iya hampir lupa!
Mohon Maaf Lahir dan Batin semuannya,
KAMU SEDANG MEMBACA
UnKnow [END]
RomanceIni bukan tentang "cinta terlarang" Tapi, bagaimana mereka membangun sebuah hubungan yang sudah terikat sejak lama. Kisah yang bisa saja dialami dalam percintaan dan keluarga.
![UnKnow [END]](https://img.wattpad.com/cover/101401549-64-k607436.jpg)