Selamat membaca!!!
.
.
.
.
.
Sudah satu bulan semenjak fonis yang di tetapkan, kini Riana dan Dane kembali mengecek perkembangan yang terjadi pada Milli. Namun sejauh ini keadaan nya masih sama.
"Om apa operasi itu bisa di lakukan secepatnya?" Dane membuka pembicaraan dengan Andre.
"Sebenarnya bisa, hanya saja kemungkinan untuk Milli bertahan Om tidak bisa memastikan nya melihat dia yang masih sekecil ini . Terkecuali kita menemukan pendonor yang benar-benar cocok dengan Milli dan sekarang kita hanya bisa berdo'a dan berharap yang terbaik." ucap Andre.
Bukan nya tidak bisa operasi transpalasi itu di lakukan Andre tapi karena kondisi dan keadaan Milli yang masih balita tidak terlalu memungkinkan,bukan tidak mungkin hal yang tidak di inginkan akan terjadi.
"Tapi jika kita menemukan pendonor yang cocok dengan Milli, operasi itu akan Om lakukan?" Tanya Riana.
Andre mengangguk. "Bisa, tapi tetap kita tidak bisa sembarangan ada prosedur yang harus di ikuti untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan." Jawab Andre menjelaskan.
"Baik om, kita akan mencari pendonornya." Ucap Riana yakin. Entah harus nya seperti apa yang jelas ia akan melakukan apa pun demi putrinya.
Dane memandang Riana tangan nya terulur merangkul bahu rapuh itu. "Kita pasti menemukan pendonor nya." Ucap Dane meyakinkan Riana.
Riana mengangguk tersenyum pada Dane. "Om, kami pulang dulu." Dane berpamitan pada Andre.
"Assalamu'alaikum." Ucap Riana dan Dane bersamaan.
"Wa'alaikum salam." Jawab Andre.
***
Riana pov.
Kenyataan memang terkadang tak selalu seperti apa yang di harapkan. Seperti hidupku sekarang.
Awal yang membingungkan, keindahan di saat bahagia menyapa dan terpuruk di saat tangis melanda.
Aku tegar?!! Tidak, aku menyembunyikan kesedihan dari keluargaku untuk menunjukan bahwa dunia tak sekejam yang di bayangkan dan pertolongan tuhan tidak pernah mengecewakan.
Sedih.. ya aku memang merasakan hal itu, setiap ibu di dunia ini pasti akan tau perasaan ku seperti apa. Setelah permasalahan pelik tentang nasib ku sendiri kini putri ku yang menanggung nya. Tidak aku tidak menyalahan siapapun aku mencoba ikhlas atas apa yang tuhan berikan bukan aku senang tapi ini lah hidup yang sesungguhnya. Akan ada kerikil yang bertabur di tengah perjalanan.
Jika boleh mimilih aku tidak ingin jalan hidup yang seperti sekarang. Tapi takdirku sudah bergaris seperti ini dan yang bisa aku lakukan hanya berusaha tidak ada penyakit yang tidak ada obat nya, jika kita mau berusaha dan berdo'a meminta pada-Nya apapun pasti akan ada jalan nya.
"Ri..." rangkulan dan sentuhan ini yang selalu menguatkanku. Dane dia yang selalu membuat aku tegar.
"Ya, ada apa?"
"Sudah waktu nya makan malam, ayo turun."
"Nanti aku menyusul, setelah Milli tidur."
"Yasudah aku turun duluan ya." Ini lah hal yang membuat aku tak ingin menunjukan rasa sedihku. Dane aku tau dia lebih merasakan apa yang aku rasakan. Apa lagi saat dia tau bahwa sum-sum nya tidak cocok dengan Milli dan lebih cocok dengan Malik.
Aku tau dia berusaha menyembunyikan kekecewaan nya sebagai seorang ayah yang tidak bisa berbuat banyak. Semua keluarga Dane sudah di periksa dan tidak ada yang cocok dengan Milli termasuk aku dan keluargaku.
Entah apa yang, salah padahal Milli adalah putri kandungku dan juga Dane. Dan sekarang kami harus mencari pendonor yang cocok dengan Milli untuk menyelamatkan hidupnya. Tuhan benar-benar sedang menguji keluarga kecilku, aku tau tuhan memberikan kesempatan pada keluargaku agar aku bisa menunjukan pada dunia bahwa sekejam apapun keadaan kami mampu bertahan melaluinya.
***
"Maaf membuatmu menunggu." Ucap Riana saat ia sampai di meja makan.
"Tidak pa-pa ayo makan." Ajak Dane. Makan malam kali ini berjalan seperti biasa dengan pembicaraan ringan yang sudah menjadi kebiasaam mereka.
Milli dan juga Malik sudah tidur . Dan kini Riana dan dane duduk di ruang keluarga sambil menonton tv
"Ri, lusa aku harus berangkat ke Jerman. Perusahan papa yang di sana ada masalah dan Ethan tidak bisa mengatasinya." Dane memulai percakapan.
"Kenapa tidak papa saja yang berangkat." Ucap Riana dengan nada merajuk.
"Huff... kau tau sendiri kan papa sudah tidak muda lagi, dan sekarang pun dia sakit." Jawab Dane
Riana mengerucurkan bibirnya. "Lalu bagaimana dengan Milli?.. dia juga sakit."
"Akan ku minta Nathalia menemanimu."
Riana memalingkan wajahnya matanya tak beralih dari layar televisi. Sentara Dane masih menunggu jawaban darinya.
Ya sebenarnya Dane juga tidak ingin meninggalkan dan berjauhan dengan istri dan anak-anaknya. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan permintaan James karena walau bagaimana pun James adalah panutan hidupnya ayah yang sangat ia sayangi dan juga ia segani.
Riana masih diam tak memberikan jawaban apapun." Ri.. bagaimana?." Tanya Dane lagi.
Riana menoleh memandang lekat mata Dane. Lalu sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Iya kau boleh pergi, sudah tugas mu sebagai seorang anak untuk membantu papa."
Dane membalas senyum Riana dan memeluknya. "Terimakasih, kau sudah mangerti." Ucap Dane tulus.
"Tapi boleh jika ibuku juga ikut menemaniku disini?" Tanya Riana takut-takut.
"Tentu saja, kau boleh mengahak siapapun. Asal kau tidak macam-macam."
Riana menegerutkan keningnya." Maksudmu?."
"Jangan berdekatan dengan laki-laki lain, jika kau berani melakukan itu. Maka akan ku pastikan kau tidak bisa keluar lagi dari rumah ini." Ancam Dane.
"Haha..." Riana tertawa melihat keposesifan yang Dane tunjukan. Ia telah kembali sikap yang akhir-akhir ini menghilang kini telah dane tunjukan kembali.
"Iya aku tidak akan seperti itu." Jawab Riana.
"Ayo kita istirahat. Besok aku ada meeting pagi." Ajak Dane.
Riana beranjak mengikuti langkah dane namun saat akam menangiki tangga langkah nya terhenti. Dane membalikan badanya.
"Aakh... " Riana terpekik saat tubuhnya melayang. Dane menggendong nya ala bridalstayl.
"Kau, ih Dane turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri." Ucap Riana saat tubuhnya sudah terangkat berada dalam gendongan Dane.
"Sedikit menikmati malam ini terlihat menarik." Jawab Dane.
Dane mendekatkan bibirnya ketelinga Riana." Aku merindukanmu." Ucap Dane serak.
Dan ia mulai beranjak melangakah menaiki tangga tanpa mendengar jawaban Riana lagi. Riana bungkam saat Dane melangkah dan membawanya menuju kamar mereka. Ia merangkulkan tangan nya pada leher Dane ya setidak nya keharmonisan keluarga tetap terjaga meski dalan situasi seperti ini.
Mereka juga manusia biasa yang memiliki kebutuhan khusus di samping masalah pelik kehidupnya.
Tbc....
Maaf typo dan absurd.. ngaret gak papa la ya soalnya aku punya kewajiban dunia nyata yang gak bisa di tinggalkan.
Semoga kalian mengerti alur di part ini. Makasih atas segala dukungan kalian. Aku harap kalian tidak bosan membaca karya abal-abal saya ini.
Jika ada kesalahan dalam cerita saya mohon bantuannya untuk memperbaiki.
Salam sayang 😙😙😙😙
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekeping Hati
Romancehamil adalah satu kata yang paling di inginkan setiap wanita yang sudah berpasangan dan hidup dalam kebahagiaan. tapi bagaimana dengan dia yang tidak memiliki pasangan, dia sendirian, janin itu tumbuh tanpa pertanggung jawaban... akan kah dia menye...
