"Mulai sekarang kita pacaran"
-Guntur-
Pukul 18.10 WIB aku sampai di rumah dengan selamat, untuk pertama kalinya aku pulang diantar oleh pria dan itu Guntur.
"Turun"
"Iya"
Aku menatapnya, dia membukakan kaca helmnya.
"Makasih" Ucapku.
Dia tersenyum, senyumannya menggetarkan hatiku, aku terasa meleleh. Apa? Mengapa hatiku rasanya berbeda. Deg-deg-an.
"Gue mau imbalan"
"Oh gitu ya, berapa?"
Aku langsung mencari uang di ranselku.
"Kita jadian"
Dia mengatakan apa? Aku ingin mendengarnya sekali lagi, aku salah mendengar?
"Apa?" Tanyaku heran
"Mulai sekarang kita pacaran"
"Gue pulang dulu, udah malem" Tambahnya lagi.
Guntur langsung menghidupkan motornya dan meninggalkan aku yang masih berdiri kaku dengan ucapannya. Aku menelan ludah, sebenarnya apa yang ia bicarakan. Aku masih diam dengan posisiku.
"Dianterin siapa itu?"
Aku masih diam dengan posisiku.
"Hey kamu ko bengong sih"
Suara ibuku membangunkan lamunanku, pikiranku masih melayang-layang.
"Ayo masuk"
Aku diam kemudian menuruti perintah ibuku.
Selesai mandi dan shalat. Aku duduk di tempat belajar, aku kembali mencerna perkataan yang diucapkan oleh Guntur.
'Mulai sekarang kita jadian'
"Apa maksud dia?"
"Dia minta aku jadi pacar dia, gitu?"
"Dia becanda doang?"
"Atau gimana?"
"Dia nembak aku?"
"Tapi ko nembak gitu sih, kesannya maksa banget"
"Ngebuat kesimpulan sendiri lagi, dia pikir aku mau gitu jadi pacar dia"
"Ah dasar orang aneh"
Aku kembali menjadi manusia yang bermonolog malam ini. Pertanyaan terus-menerus memenuhi otakku, membuat kepalaku pusing saja.
Drrrr drrttt
From: Guntur
Besok aku jemput ya
Aku malas membalas, sebenarnya tidak malas hanya saja aku tidak punya pulsa untuk membalas pesannya. Aku lupa beli pulsa.
Aku baringkan seluruh tubuhku ke atas kasur.
Dan semuanya gelap.
-oOo-
Di sekolah.
"Din nomer 2" suara di sebrang sana.
"A" jawabku
Hari ini ulangan Bahasa Indonesia, mantap. Aku sudah belajar dari pukul 02.00 WIB sengaja bangun sepagi itu untuk mengulang pelajaran. Aku suka sekali pelajaran ini, jadi teman-teman kelasku pada nanya ke aku, mungkin menurut mereka aku yang paling menguasai pelajaran ini.
Meskipun Guru mata pelajaran sangat ketat mengawasi kami, tapi tetap saja teman-temanku beradu mulut mempertanyakan jawaban. Teman-teman kelasku memang jago soal matematika dan fisika tapi mereka kurang mengusai dan tidak suka dengan pelajaran yang banyak baca.
"Din, struktur teks cerita sejarah teh apa teh, aku lupa" keluh Via padaku berbisik.
"Hey diujung sana, kenapa berisik sekali" Suara tinggi itu milik bu Titin. Sontak aku dan Via kaget dan langsung pura-pura sibuk mengerjakan soal. Aku dan Via sudah 2 tahun duduk bersama, dia yang paling tahu tentang aku. Mungkin.
Satu jam berlalu, bel istirahat sudah dibunyikan. Membuat kami yang sedang mengisi lembar jawaban kelabakan. Tapi aku tenang, aku sudah selesai. Semua siswa-siswi mengumpulkan dan langsung istirahat.
Aku mengeluarkan ponselku, ada 10 panggilan tidak terjawab dan 15 pesan semua itu dari Guntur.
'Aku jemput'
'Aku kesana sekarang'
'Tunggu ya'
'Kamu dimana? Aku di depan rumah kamu'
'Din?'
'Sayang?'
Apa 'sayang'? Idih 'sayang'? Aku berangkat diantar ayah, aku kira Guntur tidak menjemput. Aku membulatkan mataku lebar-lebar dia memanggil aku dengan sebutan sayang? Siapa dia? Aku jijik.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUNTUR [Completed]
Roman pour AdolescentsCoba tanyakan pada hatimu. Kamu mencintainya atau hanya mengagumi? [Cerita telah selesai]
![GUNTUR [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/110755773-64-k464567.jpg)