Bab 13 ( Part #3 )

1.3K 64 0
                                        

Pukul setengah sepuluh bel pertanda istirahat sudah dibunyikan seluruh siswa-siswi berhamburan keluar, kecuali aku. Aku menyesal karena sudah menyalin jawaban Via walaupun hanya satu soal.

"Din yu ke kantin"

"Ngga ah"

"Hayu ih" Paksa Via

Aku menghebuskan napasku kemudian menatap Via.

"Yauda yu"

Via merangkul tanganku sambil berjalan menyusuri koridor sekolah, aku hanya tersenyum kecil ketika menatap Via, dia lucu sekali. Aku merasa dunia berputar ke belakang membuka memori masa lalu saat aku dan adikku berlari di sebuah taman sambil memegang tanganku. Aku menundukan kepalaku, tidak terasa air mengalir begitu saja di area mata membuat aku melepaskan rangkulan tangan Via.

"Dini ko nangis, kenapa?"

"Ngga, tadi ada debu masuk" jawabku asal, aku tidak mau sampai Via tahu aku menangis gara-gara mengingat Dino adik laki-lakiku yang meninggal ketika berumur empat tahun karena kecerobohanku. Aku tidak sanggup lagi menceritakannya.

Sesampainya di kantin Via menyuruhku duduk di sampingnya.

"Dini diem aja di sini nanti Via yang pesenin"

"Iya, makasih" Jawabku sumringah

"Dini mau apa?"

"Pisang bakar, hehe"

"Oke"

Via berlalu dari hadapanku, mataku hanya memandang tubuhnya yang sedikit-demi sedikit menghilang dari hadapanku.

"Hei!"

Kak Fathur?!

"Eh kakak"

"Sendiri aja"

"Boleh duduk?" Tambahnya

Aku mengangguk pelan. Semua mata yang ada di kantin tertuju padaku, mereka tampak iri karena kak Fathur menghampiriku, sudah aku ceritakan bahwa kak Fathur adalah famousnya sekolah.

"Kamu sendiri?"

"Sama Via kak"

"Oh"

Aku menatapnya lekat, aku kemudian menundukan kepalaku karena kak Fathur mengalihkan pandangannya kemudian menangkapku menatapnya.

Kenapa kak Fathur tiba-tiba duduk di sini? Membuat jantungku tidak beraturan saja

"Eh kak Fathur" ucap Via dengan kedua piring berisi pisang bakar yang dibawanya.

"Hai"

Via menghampiri kami dan meletakan satu piring untukku dan satunya untuk dirinya.

"Kak, kenalin ini Via"

"Oh iya" jawabnya dengan senyum yang menawan.

Drtt dttt drt

Ponselku berdering. Satu pesan dari line masuk ke ponselku.

GunturPrtm
Gue mau lu cabut dari tempat lu sekarang!

Aku membulatkan mataku lebar-lebar. Guntur?
Dinidwts_
Knp?
GunturPrtm
Gue gasuka lo deket2 sama kakak kelas itu.

Maksud Guntur kak Fathur? Aku menghela napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya, rasanya ingin berkata kasar. Baru saja kemarin aku menyarankan dia untuk melarangnya menggunakan sebutan 'lo gue' eh sekarang diulangi lagi. Yasudah, aku tidak mau memikirkannya.

Mataku menjelajahi setiap sudut kantin sekolah mencari Si pengirim pesan, aku tahu dia pasti sedang memerhatikanku.

Deg!

Guntur!

Bola mataku semakin melebar, mataku seakan sangat perih, tiba-tiba suhu yang mendung mendadak menjadi panas.

Anita?

Anita sedang menyuapi Guntur dengan senyum yang mengembang, Guntur menatapku, aku menunduk.

"Din"

"Diniiii"

"Eh apa Vi" Via mengagetkan tatapanku dari Guntur sekaligus mengagetkan pikiranku yang mengalami disintegrasi karena melihat Guntur berduaan dengan Anita.

"Jadi dari tadi kita ngomong kamu ngga ngedengerin" ucap Via kesal.

"Hehe maaf"

Via hanya mendengus kesal.

Keadaan kembali hening hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.

"Din"

"Eh iya kak?"

"Di kelas kamu lagi free ga?"

"Hmm, tadi abis ulangan fisika kak" Jawabku malas, ah! Mengapa otakku dipenuhi dengan Guntur?

"Bisa ga?" Tanyanya lagi

"Lumayan" Jawabku singkat.

"Ekhmmm ekhmmm.. kayanya aku dikacangin" lirih Via padaku.

"Eh kalo Via gimana ulangannya lancar?"

"Iya kak lancar sekali" jawab Via sumringah

Di tengah perbincangan tiba-tiba ponsel Via berbunyi. Sontak aku dan kak Fathur mengalihkan pandangan dari makanan tertuju ke Via yang sedang memegang ponselnya.

"Eh Dini.. Via duluan yaa soalnya disuruh ke kelas sama Ahmad"

"Mau ngapain emang ko buru-buru?"

Tidak biasanya Via berurusan dengan Si ketua kelas, Ahmad.

"Gatau, disuruh ke kelas. Aku duluan yaa"

"Dih, aku ikut.." nadaku setengah berteriak pasalnya Via sudah berlari terbirit-birit, entah karena apa.

"Gausah, kamu diem di situ ajaa nanti aku balik lagi ko" Teriak Via, membuat mata manusia yang berada di kantin menatap percakapan kami. Bola mata Guntur juga sesekali melirikku.

"Ada apa?" Tanya kak Fathur

"Gatau kak"

Kak Fathur mangut-mangut seolah mengerti dan kembali dengan makanannya.

"Din gimana sekarang OSIS? Ada kemajuan"

"Ya gitu-gitu aja kak"

"Gak ada perkembangan?"

"Gatau"

*******

Di kelas.

Selama sepuluh menit aku menunggu Via di kantin, mengobrol dengan kak Fathur hanya akan membuat aku mengantuk karena dari sepuluh menit itu kak Fathur hanya mengobrolkan tentang organisasi, pelajaran fisika, agama, dan beberapa peristiwa alam yang bahkan aku saja baru mendengarnya. Aku bukan tidak suka diajari olehnya, namun aku juga punya cara tersendiri untuk mengurus pola berpikirku, begitulah aku. Terserah kalian mau menilaiku seperti apa, karena aku akan tetap menjadi diriku sendiri.

Di kelas suasana kembali bergema, kata Via, Ahmad memanggilnya hanya untuk menagih uang kas yang belum dilunasi olehnya, dasar.

Beberapa teman kelasku sedang sibuk dengan ponselnya ada juga yang sedang bergosip. Siswa pria seperti biasa berkumpul di belakang, ada yang menonton film bersama Anggi dan ada yang memainkan ludo terdengar desahan dari Andre dan sesekali berdecak kesal, sepertinya dia kalah dalam permainan.

Aku memincingkan mataku, kemudian meletakan headseat ke dalam telingaku. Lagu JAZ dengan judul Dari Mata mengalun merdu ke dalam telingaku.

Tadi Anita ko bisa sama Guntur?

-oOo-
Silahkan😊✋


GUNTUR [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang