Cahaya lampu di dalam kamarku menyelimuti setiap sudut ruangan, tempelan hello kitty yang berjejeran di dinding terlihat sempurna dengan cat berwarna putih, putih adalah warna kesukaanku.
Aku duduk di dekat jendela menjelajahi halaman yang berada di samping kananku. Malam ini bintang muncul sangat banyak, aku jadi ketagihan untuk menghitungnya.
Drttt drttt drttt
Ponselku berbunyi, mengganggu saja.
From: Vani
Din, tadi gue liat Guntur ribut sama si Doni.....
Bola mataku melebar saat membaca pesan Vani.
'Dimana?? Doni yang kata kamu anaknya pak Dace??'
'Iya, tadi aku liat di lapangan dekat pasar'
'Pasar mana?'
'Pasar deket sekolah'
'Ko bisa nyampe ribut?'
'Gatau, tadi gue juga denger mereka sebut-sebut nama lo'
'Mending sekarang kamu telvon Guntur, tanyain Din!' Tambah Vani
Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi salah satu teman Guntur, Adlin. Aku punya nomer Adlin karena dulu Guntur pernah menelpon lewat ponsel Adlin. Meskipun aku ragu tapi aku sedikit mencemaskan mereka, mereka? Bukannya Guntur saja? Tidak!
'Halo ini siapa?' Suara di sebrang sana sampai di telingaku. Aku hanya menggigit bibir, aku bingung dan juga takut.
"Aku Dini' Jawabku singkat aku masih dalam keadaan cemas.
'Dini?' Dia nampaknya sedang mengingat-ingat namaku
'Oh Dini gebetannya Guntur ya?'
Jleb
Aduh
'Dini anak kelas IPA 3'
'Iyaiya udah tau, ada apa nelvon? Bisa-bisa si Guntur ngamuk cewenya nelvon gue. Hahaha' dia terkekeh. Ah menyebalkan.
'Mau nanya boleh?'
'Nanya apa?'
'Hmmm tadi Guntur ribut bukan?' Tanyaku ragu.
'Tuhhh kan bener bakalan nanya Guntur, duh Din lu itu aneh ya jadi cewe jelas-jelas lu juga suka sama dia so pura-pura gapeduli'
'Aku nanya dia ribut ngga, bukan nanya keadaan dia'
Menyebalkan.
'Oh.. Guntur gapapa ko, eh gananya ya? Hahaha'
aku sedikit lega mendengarnya. Pfft!
'Dia tadi ribut sama kelas 10, katanya dia juga suka sama lo ya? Doni kalo gasalah namanya' Tambahnya
'Mereka gapapa ko, paling cuma pada benyok. Lagian tuh anak kecil berani banget mau lawan Guntur' Tambahnya lagi membuat telingaku sakit mendengar ucapannya.
'Maksudnya gimana? Kenapa mereka ribut?'
'Ributin elo lah, cowok ribut ya pasti ributin perempuan' Jelasnya.
Aku langsung mematikan panggilan, seluruh tubuhku lemas. Darahku serasa naik ke ubun-ubun. Aku? Gara-gara aku mereka ribut? Dosa besar apa yang telah aku lakukan padamu Tuhan.
--
Hari ini sekolah sepi, aku sengaja datang pagi-pagi sekali, supaya tidak bertemu Guntur. Aku letakan ranselku ke dalam kelas kemudian ke ruang UKS, hari ini hari senin jadi aku harus menyiapkan keperulan untuk yang sakit saat upacara.
Aku baru saja sampai di depan pintu UKS, hatiku dikejutkan dengan suara Jaya di sebrang sana.
"Ada apa Jay?"
"Saya mau bicara"
"Soal?"
"Sini" Dia menyuruhku untuk duduk, aku sedikit risih sebenarnya.
"Din, kamu tau soal kemarin Guntur sama Doni ribut?"
Tanyanya memulai percakapan.
"Gatau" Bohong!
"Kenapa memangnya?" Tambahku lagi. Aku tidak bermaksud untuk berbohong, aku bukan tife orang yang suka dan sering berbohong. Hanya kali ini aku merasa berbohong lebih baik, meskipun aku tahu semua kebohongan itu tetap buruk.
"Itu semua penyebabnya kamu"
Dia melihatku matanya tajam sekali. Hatiku serasa ditusuknya dalam-dalam.
"Maksudnya?"
"Saya cuman mau ngasih saran ke kamu, sebagai ketua OSIS saya merasa bertanggung jawab atas kamu anggota saya, lebih baik kamu jauhin salah satu atau keduanya supaya mereka tidak lagi sampai ribut seperti kemarin" jelasnya.
Kalau boleh aku mengomentari ucapannya aku juga tidak mau berhubungan lagi dengan Guntur maupun Doni. Tidak disuruh Jaya pun aku akan selalu jauhin mereka.
"Iya, makasih atas sarannya"
Aku memutuskan untuk meninggalkan ketua OSIS itu. Dia manusia menyebalkan yang pernah aku kenal selama mengikuti organisasi. Aku malas membahasnya.
Pukul 07.00 WIB upacara dimulai. Aku baris di belakang peserta, memakai syal PMR pertanda kalau tim kesehatan siap menolong jika ada yang sakit.
Upacara sudah dimulai, manusia-manusia di depanku kelas X mereka belum menggunakan atribut SMA Harapan Bangsa dikarenakan belum diberikan oleh pihak sekolah.
Mataku menjelajah setiap sudut peserta upacara, aku harus mengawasi setiap gerak-gerik siswa, antisipasi jika ada yang tidak kuat upacara.
"Kak"
Deg
Dia mengagetkan lamunanku. Doni? Dia berada tepat di sampingku. Gawat.
"Kamu? Ko? Ngapain di sini, sana ke barisan" Perintahku
Suaraku aku rendahkan takut jika pembina upacara atau peserta upacara melihat aku dan dia, maksudku Doni.
"Nemenin kakak" Jawabnya
Wajahnya datar. Aku melihatnya. Tatapannya ke depan, sementara mataku masih menghadapnya. Dia tinggi, jika dibandingkan aku hanya sebahu dari ukuran tubuhnya.
"Kenapa wajah kamu memar-memar?" Tanyaku, aku memberanikan diri untuk bertanya, luka yang diwajahnya mengganggu wajah tampannya. Kulitnya yang putih semakin memperlihatkan warna biru di dekat bibir dan matanya.
"Gapapa" Jelasnya.
"Mau diobatin?"
Dia menatapku.
Senyum di bibirnya mulai terukir di wajah datarnya.
"Ia mau kak"
Mataku ke kiri ke kanan, mencari anggota PMR pria.
"Andi.. ssssttttsssttt Andii"
Dia menghampiriku.
"Apa kak?"
"Bawa dia ke UKS, terus obati luka yang ada di mukanya ya"
"Gausah" Ucap Doni seketika.
"Ko gitu?"
"Pengen sama kakak" pintanya memelas.
Andi hanya terkekeh pelan, menyaksikan sikap Doni. Untuk seorang pria, menurutku hal seperti itu memalukan.
-oOo-
Hai penggemar Guntur, maaf baru sempet post keadaan membawaku menjadi sibuk, entah sibuk tugas, entah sibuk organisasi. Hm. Kenapa aku jadi curhat? Wkwkwk
Gimana ceritanya gaje ya?
Minta kritik dan sarannya ya. Maaf baru belajar soalnya.
Guntur Dini?
Atau Dini Doni? Cie DD? Wkwk
Tunggu episode selanjutnya yaaaa😚😍😘
KAMU SEDANG MEMBACA
GUNTUR [Completed]
Dla nastolatkówCoba tanyakan pada hatimu. Kamu mencintainya atau hanya mengagumi? [Cerita telah selesai]
![GUNTUR [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/110755773-64-k464567.jpg)