"Assalamualaikum," teriak Yasmin.
"Waalaikumsalam," jawab Raya.
Yasmin menghampiri Raya yang tengah duduk di sofa dan mencium punggung tangannya.
"Tante kenapa? Tante nangis?" tanya Yasmin yang melihat bekas air mata di wajah Raya.
"Milan Yas," ujar Raya tegar.
"Milan kenapa tante?"
"Milan sakit kanker dan udah stadium 3, dan sekarang dia gak sadarkan diri," Bulir air mata sudah jatuh di pipi Raya.
Yasmin yang kaget mendengarnya sontak langsung menangis. Bagaimana bisa Milan terkena kanker? Dan sekarang sudah stadium 4? Bukankah selama ini Milan terlihat baik-baik saja?
Setelah mendengar cerita dari Raya. Yasmin langsung pergi ke kamar Milan. Dilihatnya sahabat kecilnya itu sedang terbaring lemah tak sadarkan diri. Yasmin menangis dan mengenggam kedua tangan Milan. Ia sangat tidak tahan melihat sahabatnya seperti itu.
"Sudah satu tahun yang lalu Milan di vonis kanker sama dokter, Tante sama Om sudah berulang kali mengajaknya berobat ke Singapura namun Milan bersikeras tidak mau. Katanya, percuma karena memang penyakitnya tidak bisa disembuhkan lagi. Milan juga merahasiakan penyakitnya dari kamu, Mili, temen-temennya karena Milan gak mau liat orang-orang di dekatnya merasa sedih ataupun terluka karena penyakitnya."
Percakapannya dan Raya seperti terputar ulang di bayangan Yasmin. Ya, Tuhan bagaimana bisa Milan menahan sakitnya selama ini? Di depan Yasmin bahakan Milan bisa tertawa dan tersenyum seperti baik-baik saja padahal sakit yang dialaminya sangat serius.
Yasmin menghapus air matanya dan melangkah keluar dari kamar Milan, menemui Raya yang masih bersedih.
"Tante, kita harus bawa Milan ke rumah sakit," ujar Yasmin yang sudah duduk di hadapan Raya.
"Tapi, Milan gak mau Yas," ucap Raya sendu.
"Biar Yasmin nanti yang tanggung jawab kalo Milan marah Tante, pokoknya sekarang kita harus bawa Milan ke rumah sakit."
Akhirnya Raya dan Yasmin sudah memasukkan Milan ke salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Terserah jika Milan mau marah pada Yasmin, yang penting sekarang Milan bisa ditangani oleh dokter.
Rey yang mendapat kabar dari sang istri langsung segera pulang dari luar kota. Urusan bisnis nya ia tinggalkan begitu saja. Sekarang dipikiran Rey hanya satu. Yaitu, Milan anaknya.
"Bagaimana keadaan anak kami dok?" tanya Rey.
"Sel kanker sudah menyebar dengan cepat di tubuh Milan, jalan satu-satunya sekarang adalah kemoterapi," ujar dokter Sento yang memang menjadi dokter Milan selama ini.
Raya mulai terisak tangis, "tapi dokter tau sendiri kalo dari dulu Milan menolak untuk di kemoterapi dok."
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Rey kembali.
"Sekarang kita hanya bisa meredakan sakit Milan dengan obat yang sudah saya berikan selama ini, tapi itu hanya sekedar meredakan sakit kanker Milan sebentar dan tidak dapat menghentikan sel-sel kanker yang memang sudah menyebar dengan cepat."
Raya semakin tidak kuasa mendengarnya. Ia menangis di pelukan suaminya. Tidak sanggup bagi Raya untuk kehilangan anak semata wayangnya itu.
***
Sudah dua hari berlalu namun Milan masih belum sadar. Sudah dua hari pula Yasmin dan Milan tidak masuk sekolah. Yasmin setia menemani sahabat dan sekaligus sudah seperti kakak laki-lakinya ini.
"Lan, cepetan bangun, kamu mau buat aku sedih terus?" Yasmin bermonolog sendiri.
"Gak ada yang temenin aku pergi Lan, kamu kan tau sendiri aku gak bisa pergi kalo gak ada yang nemenin," Yasmin terus mencoba mengajak Milan berbicara.
"Ayok, bangun Lan. Aku janji aku gak bakalan ngerepotin kamu lagi kok," kini air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Sekarang aku ngerti kenapa kamu ngelakuin itu sama Mili. Kamu gak mau dia tau kalo kamu sakit kan? Jadi kamu bersikap seakan-akan gak peduli lagi biar dia terluka dan benci sama kamu. Tapi, cara kamu salah Lan. Kamu tau aku sedih banget pas denger kamu sakit, aku benci kenapa kamu gak kasih tau, aku marah.
"Kamu udah bohongin aku. Kamu selama ini nanggung sakit sendirian, Ya Tuhan betapa sakitnya kamu selama ini Lan? Kamu harus sembuh, aku gak mau kehilangan kamu Lan," Yasmin sudah menangis dan memeluk Milan yang masih terbaring di tempat tidur.
Yasmin menghela napas berat. Kemudian memejamkan mata sejenak. Beberapa kenangan waktu kecilnya bersama Milan muncul terlintas begitu saja.
Flashback
"Milan, kaki Yasmin sakit," ucap gadis kecil itu sambil memegang lututnya yang terluka.
"Yaampun Yasmin kaki Yasmin berdarah," jawab laki-laki kecil yang sudah memegang lutut Yasmin kecil.
Yasmin menangis sejadi-jadinya.
"Yasmin jangan nangis, liat hidung Yasmin jelek kayak badut."
"Bialin, kaki Yasmin sakit Lan," gadis kecil itu masih meronta kesakitan.
Milan berdiri dan berlari kemudian sengaja membuat kakinya tersandung dan jatuh, membuat lututnya ikut berdarah.
"Liat, sekarang lutut Milan juga berdarah sama kayak Yasmin, jadi bukan Yasmin aja yang sakit, Milan juga," ucapnya kepada gadis kecil itu.
Yasmin melihat lutut Milan yang berdarah kemudian beralih melihat lukanya.
"Iya, sekalang bukan cuma kaki Yasmin yang berdalah tapi kaki Milan juga."
"Iya, jadi sekarang Yasmin jangan nangis lagi ya? Milan gak akan buat Yasmin ngerasain sakit sendirian."
"Janji?" ucap Yasmin sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
Milan menyambut jari kelingking tersebut dan menautkannya ke jari Yasmin. "Janji."
Flashback End.
Air mata terus saja berjatuhan di pipi Yasmin. Ia kembali teringat saat-saatnya bersama dengan Milan. Betapa sayangnya Milan kepada dirinya. Bahkan saat Yasmin terluka Milan juga rela ikut terluka demi merasakan sakit yang dirasakan oleh Milan. Dan sekarang Yasmin membiarkan Milan merasakan sakit sendirian. Bukankah Yasmin sangat jahat? Yasmin ingin ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Milan. Oh Tuhan, kenapa harus Milan? Kenapa bukan orang lain saja?
Milan harus sembuh. Harus bisa sembuh! Penyemangat Milan adalah Mili, tapi apa harus Yasmin memberitahu Mili tentang penyakit Milan? Karena selama ini Milan menjaga rapat-rapat penyakitnya agar wanita itu tidak tau. Alasannya cuma satu. Milan tidak mau membuat wanitanya itu terluka karena penyakit yang di deritanya.
Tapi, bukankah Mili lebih terluka lagi jika tidak mengetahui semua ini? Mungkin sekarang Mili sedang membenci Milan karena perlakuan Milan terhadapnya selama ini. Padahal Milan melakukan semua itu ada alasannya. Ya, benar Mili harus mengetahui semuanya. Agar Mili bisa menjadi alasan Milan untuk bertahan.
"Lan, sekali lagi maaf. Aku harus kasih tau Mili dan teman-teman dekat kamu kalo kamu sedang berjuang sendirian. Biar kamu tau, kalo kamu gak ngerasain sakit sendirian Lan, ada kami di sini, yang ngerasain sakit yang sama kayak kamu. Kamu harus bertahan."
Yasmin mengambil ponselnya dan mencari kontak Mili, kemudian mengirimi Mili pesan.
Mili : Mil, kamu ada di rumah kan? Aku otw ke sana, jd jangan kemana-mana. Ada yg harus kamu tau.
***
Dan sesuai janji aku up malam ini
So, kalian sekarang tau kan apa alasan Milan ngelakuin semuanya? :(
Jadi jangan benci Milan :(
Mulai dari part ini bakalan aku privat, jadi cuma kalian yang follow yang bisa baca
Tinggalkan komentar kalian buat Milan yaa readers :)
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN [Completed]
Teen Fiction[BEBERAPA PART DI PRIVATE ACAK, FOLLOW UNTUK MEMBACA] Biarlah kita menjadi kenangan. Kenangan yg selalu tersimpan rapat di dalam hati. Terima kasih sudah mengajariku apa itu cinta. Terima kasih sudah memberi bahagia walaupun sempat menggoreskan luka...
![MILAN [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/100203880-64-k747866.jpg)