Malam yang terasa hening setelah hiruk pikuk yang tak ada hentinya hari ini, seorang lelaki yang masih menggenakan tuxedo berwarna hitam berjalan gontai menuju kamar pengantin yang telah disiapkan untuknya dan sang istri. Ia berdiri di depan pintu dengan gugup, berharap wanita yang kini resmi menjadi istrinya sudah tertidur.
Cklek...
Perlahan, ia membuka pintu dan menghembuskan napas berat ketika mendapati Shani masih terjaga, bersandar di tumpukan bantal sambil membaca novel. Rasanya mimpi seoarang wanita berparas cantik dan anggun itu sekarang resmi menjadi istrinya.
"Kok belum tidur, Ci? Enggak baik loh buat kesehatan anak kamu," ucap Cio, ia berjalan mendekat.
Shani menutup novelnya dan meletakkannya di atas nakas.
"Kamu dari mana? Acaranya kan udah selesai dari tadi."
"Diajak Kak Henry ngobrol," jawab Cio santai, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tanpa mau memperpanjang dialog dengan sang istri lagi.
Ketika keluar, matanya menangkap sosok Shani yang sudah tertidur. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap istrinya dengan perasaan campur aduk.
"Seandainya Kak Vino mau bertanggung jawab atas janin ini...," gumamnya pelan, membetulkan selimut yang menutupi tubuh Shani.
"Dia pasti bahagia punya istri sebaik kamu." Ucap nya terdengar lirih, bahkan sorot matanya tak bisa berbohong, hatinya terasa pedih melihat wajah lelah Shani yang sedang terlelap.
Setelah itu, Cio mengambil bantal dan memilih tidur di sofa.
***
"Cio, bangun..."
"Nggh... aku masih ngantuk, Mam..."
Shani terkekeh pelan melihat reaksi suaminya.
"Hei, aku istri kamu, bukan mama kamu."
Suara lembut itu membuat Cio langsung membuka mata dan duduk tegak. Ia mengusap wajahnya sekilas sebelum menoleh pada Shani.
"Kok tidur di sofa?" tanya Shani, merapikan rambut Cio yang berantakan.
"Aku takut khilaf," jawabnya santai dengan kekehan kecil.
Shani menatapnya, lalu berkata pelan, "Kita udah nikah, Cio."
"Iya, tapi tujuan aku nikahin Cici kan buat jaga Cici sama ponakan aku yang ada di situ," katanya sambil menunjuk perut Shani yang masih rata itu.
Shani tersenyum tipis, tak tahu harus senang atau sedih mendengar itu.
"Kalau Vino tiba-tiba datang?" tanyanya hati-hati.
"Aku bakal ngusir dia. Aku enggak akan biarin Cici balik ke laki-laki yang nggak bertanggung jawab kayak dia," jawab Cio, wajahnya berubah serius.
Shani menunduk, meremas ujung selimut.
"Maaf ya... gara-gara aku, kamu jadi keseret masalah ini."
Cio menggeleng pelan
"Enggak apa-apa, Ci. Aku ikhlas. Demi calon keponakan aku."
Shani menghela napas berat, lalu menatap Cio dalam.
"Aku istri kamu, Cio. Anak aku berarti anak kamu juga. Dan... berhenti manggil aku Cici."
"Hmm... kasih aku waktu buat adaptasi ya?" Cio tersenyum kecil.
"Aku udah terlanjur anggap Cici sebagai kakak. Cici juga pasti ngerasa gitu, kan?"
Shani tidak langsung menjawab. Ia mengusap rambut Cio lembut, penuh kasih sayang. Benar, ia selalu menganggapnya sebagai adik. Tapi sekarang, status mereka telah berubah. Ia ingin belajar mencintai Cio dengan sepenuh hati, meskipun jauh di lubuk hatinya, nama Vino masih tersimpan rapi.
****
"Wih, pengantin baru baru keluar jam segini!" goda Henry saat melihat Cio dan Shani muncul di ruang makan.
"Betah banget ya berduaan di kamar?"ucapnya lagi.
Cio langsung mengalihkan perhatian karena situasinya benar-benar membuat nya canggung.
"Kak, main PS yuk!"
Henry mengacungkan jempolnya, setuju.
"Sarapan dulu baru main PS," tegur Shani, mengingatkan.
"Iya, Ci... iya," jawab Cio, tapi kemudian ia membeku ketika mendengar suara lain.
"Loh, kok manggil Cici?" tanya ibu Shani, membuatnya gelagapan.
"Eh... itu panggilan sayang aku buat Shani, Ma," kilahnya cepat adan Shani hanya bisa menahan senyum nya.
"Panggilan sayang kok Cici? Ada-ada aja kamu, Cio." Sang ibu terkekeh, sementara ayah Shani tetap diam, tampak enggan menanggapi keberadaan Cio.
Shani menyadari perubahan ekspresi Cio dan diam-diam mengusap lengannya untuk menenangkan.
Setelah sarapan, Cio memilih menenangkan diri di taman, menghisap sebatang rokok sambil menikmati kopi. Ia hampir tersedak saat tiba-tiba seseorang merampas rokoknya dan membuangnya.
"Aku minta kamu kurangi kebiasaan buruk ini," tegas Shani.
Cio mendesah. "Oke, aku turutin kemauan Cici, tapi aku juga punya satu permintaan."
"Apa?"
"Besok kita pindah ke apartemenku, Ci."
Shani terdiam. Ia tahu, sebagai istri, ia tak bisa menolak begitu saja. Tapi ia juga sadar, ayahnya pasti menentang keras mengingat Cio masih seorang mahasiswa dan belum sepenuhnya mapan.
"Tapi..."
"Ayolah, Ci. Cici tega lihat aku ketakutan tiap ketemu Papa Cici?"
Shani menatapnya. "Kalau kamu lari dari masalah, bagaimana bisa bikin hati Papa luluh?"
"Tapi Ci..."
"Aku mohon, Cio. Posisiku lebih rumit. Aku tak mau jadi anak durhaka, tapi aku juga tak mau jadi istri yang tak berbakti."
Cio mengusap wajahnya, terlihat frustrasi. Namun, saat melihat ketulusan di mata Shani, perlahan ia menghela napas dan menangkup wajah istrinya.
"Iya, iya... kita enggak akan pindah dulu. Aku bakal usaha buat bikin Papa kamu nerima aku."
Seketika, Shani tersenyum lega dan memeluk Cio erat.
"Makasih, sayang."
Cio terdiam, dadanya terasa hangat mendengar panggilan itu.
Mungkin awalnya ia menikahi Shani hanya untuk menutupi aib keluarga. Tapi kini, perlahan, ia mulai menerima dan merasakan kasih sayang dari wanita yang selama ini ia anggap sebagai kakak.
Dan mungkin, tanpa ia sadari, hatinya mulai membuka ruang untuk cinta yang baru.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terbaik
FanfictionKita menikah tanpa didasari oleh rasa cinta sebelumnya, bagimu aku adalah suatu kesalahan tapi bagiku kamu lebih dari suatu kebahagiaan.
