Rindu Vino

5.3K 442 40
                                        

Hari ini Shani sudah diperbolehkan pulang. Kedua orang tua Shani datang bersama Henry, Veranda dan Kenan pun ikut datang untuk mengantar Shani dan bayi kecilnya.

"Nah, udah siap kan sayang?" tanya Anita pada Shani yang sedang menggendong Zara.

"Udah Mah"

"Ya udah yuk" ajak Veranda.

Satu persatu dari mereka mulai keluar. Shani menoleh kearah Cio yang ada di sampingnya dengan tangan yang penuh membawa tas perlengkapan Shani dan Zara.
Sebenarnya Shani sedikit heran melihat suaminya sejak kemarin hanya diam.

"Mungkin kecapean kali ya" Shani berguman dalam hati

"Hmm.. Semuanya langsung ke rumah Cio aja ya" ucap Cio saat mereka sudah sampai di parkiran.

"Rumah kamu? rumah Papi Kenan maksudnya?"

Shani terlihat kebingungan, sementara semuanya hanya tersenyum.

"Oh iya aku lupa, bukan rumah aku tapi rumah kita" ucap Cio yang membuat Shani semakin mengerutkan keningnya.

"Udah, ayo ah"

Walaupun masih bingung Shani hanya menuruti saja kemana Cio akan membawanya.

***

Shani terdiam saat melihat suasana yang asing baginya, bahkan ia sama sekali belum pernah ke tempat ini.
Cio tersenyum melihat kebingungan istrinya.

"Ini rumah kita sayang" tunjuk Cio pada sebuah rumah di hadapannya.
Shani langsung menoleh pada Cio.

"Maaf ya kalau tak sebesar punya orang tua kamu" lirih Cio, tapi ia tersenyum menatap sebuah rumah hasil dari tabungannya sendiri.

"Aku sengaja beli rumah di tempat yang banyak pepohonan seperti ini, supaya kamu ga jenuh, nanti kalau aku udah mulai kerja dan punya uang banyak, kita beli rumah yang besar seperti punya Papa kamu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Aku sengaja beli rumah di tempat yang banyak pepohonan seperti ini, supaya kamu ga jenuh, nanti kalau aku udah mulai kerja dan punya uang banyak, kita beli rumah yang besar seperti punya Papa kamu. Untuk sekarang ini dulu aja ya"

Shani tak mampu lagi berkata-kata, ia langsung mengecup pipi Cio, membuat suaminya itu semakin tersenyum lebar.

"Aku bahagia, ini udah lebih dari cukup. Makasih ya sayang" Shani mengelus pipi Cio yang terlihat memerah

"ekhem.. Jangan lupain kita dong"

Shani dan Cio langsung menoleh kearah Henry yang sekarang sedang cemberut.

"Makanya, cepet-cepet nikah dong kak, jangan nunggu kita punya cucu dulu"

Henry lansung melepas sepatunya dan hendak ia lemparkan kearah Cio, tapi Cio langsung bersembunyi di balik badan Shani.

"Hey, Cio.. Ayo buka pintunya. Kamu mau buat Papi kering berdiri terus" teriak Kenan

Cio hanya menunjukan cengirannya lalu berlari untuk membuka pintu.

Cinta TerbaikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang