20; mual-mual

9.3K 393 1
                                        

Menjelang sorenya.

Tania merasa perut terasa mual, mual yang mendesak dan erus menerua, dia sudah bulak balik ke kamar mandi tapi banya cairan yang keluar dari mulutnya Tania frustasi sendiri.

'Haekal tumben belum pulang?' pikir Tania saat melihat jarum pendek jam berdetam menunjukan angka empat.

Selesai melaksanakan solat ashar tania merasa pusing hebaat dikepalanya dan akhirnya diselingi mual-mual.

'tok tok tok'

suara ketokan dipintu membuat Tania buru-buru membuka pintu di lihatnya Haekal berdiri didepannya dengan tersenyum manis.

"Assalmualaikum istriku." Sapa haekal, Tania balas terseyum manis.

"Yang bawel." Tambah haekal, Tania sontak cemberut.

"Walaikumsallam suami rese"jawaban Tania membuat
Haekal langsung cemberut juga.

Perut Tania terasa diubek-ubek lagi, terasa tak tertahankan.

Ia reflek memegang bahu Haekal dan memuntahkan apapun yang ada dalam perutnya, Haekal menatapnya khawatir. Tania lalu menegakan tubuhnya lagi,
Menatap Haekal merasa bersalah.

"Maaf Kal, baju kamu kotor, nanti aku cuci" setelah mengucapkan itu Tania langsung masuk ke dalam kamar meninggalkannya.

Semenjak Haekal pulang Tania jadi banyak diam, terlihat lemas tak bersemangat.

Malemnya selepas melaksanakan sholat isya. Haekal mendudukan dirinya di samping Tania yang tiduran.

"Tan, maaf ya nggak bisa bawa kamu ke dokter, uangnya abis kemarin bayar kontrakan dua bulan sekaligus, sisanya dipinjem Toni disekolah, tadi aku udah tagih malah katanya belum ada" ujar Haekal pelan, Tania tak menjawab Haekal mengerutkan alisnya.

"Tania" panggil Haekal lagi, najn masih tak didengarnya jawaban, Akhirnya haekal melihat kearah Tania, ternyata Tania suah tidu.

Haekal menghembuskan napas lega. Ia takut Tanhia pingsan.

"Maaf, udah bikin kamu hidup sengsara, ini bukan kemauan aku, tapi aku nggak punya pilihan, kehilangan kamu lebih menyakitkan daripada harus hidup susah begini" Haekal berujar pelan mengecup sebantar kening Tania sebelum akhirnya ikut merebahkan dirinya disamping tania, tak mudah untuk Haekal mebiasakan diri hidup sseperti ini, Awalnya Ia ingin menyerah merelakan apapun ingin mama.

Tapi mengorbankan bahagianya bukan pilihan terbaik untuk saat ini atau sampai kapapun.
Tania akan tetap disampingnya, ia hanya peru bersabar sebentar.

mungkin kini cuma bisa tidur hanya dengan alas kasur lantai, tapi Haekal janji suatu saat nanti mereka akan tidur dikasur empuk dengan hasil jerih payahnya sendiri.

****

"Hoek hoek" Tania jongkok dikamar mandi, perutnya melilit serasa diubek-ubek.

Haekal yang baru selesai memakai seragam putih abunya
mendekati Tania.

"Tan, masih mual ya?"tanya Haekal sambil mengusap-usap tengkuk Tania. Tania langsung menepis tangan haekal dan mendorong haekal keluar.

"Sana jauh-jauh"ujar Tania masih berjongkok mengeluarkan semua isi perutnya.

Ia malu jika Haekal harus melihatnya muntah sebelum waktu sarapan mereka.

"Mending makan dulu gih, perut kamu kosong, nggak akan ada yang keluar" kata Haekal lagi, Tania akhirnya mengangguk saat bangkit berdiri kepala nya terasa beeat, Tania hampir ngejengkang kebelakang kalau saja Ia nggak memegang pinggiran bak.

"Kal gendong" pinta Tania sambil mengulurkan kedua tangannya.
Haekal menggaruk tengkuknya sambil berpikir. Kuat ga ya

"Iya deh" jawab Haekal pasrah.
"Kok ada deh nya?" tanya Tania lagi, Haekal menggaruk belakang kepalanya.

"Ya gitu deh" mendengar jawaban Haekal, Tania langsung cemberut "yaudah sini aku bopong" Haekal memangku Tania.

Membawanya ke kamar, Haekal mengusap keringat yang bercucuran didahi nya. Perasaanya Tania lumaya berat untuk ukuran tubuh mungil nya.

"Aku seberat itu ya?" tanya Tania, mengusap dahi Haekal lembut.

"He'em berat banget kaya ngegendong induk sapi."
balas Haekal, Tania langsung memukul lengan Haekal.

"Berarti anak kamu sapi dong." Celetuknya Tania, Haekal tertegun.

Anak? Apa Ia siap punya anak disaat kondisinya tak kelas seperti ini.

"Rese" seru Tania didepan wajahnya, Haekal cuma nyengir.

Tok Tok

ketukan dipintu mengagetkan mereka, membuat Haekal buru-buru bangkit dan membuka pintu depan.

Dilihatnya ibu-ibu seusia mama nya. "Cari siapa ya tante?"
tanya Haekal ramah, sebagai penghuni baru harus ramah sama tetangga, Itu prinsipnya.

"Tante?" ibu itu malah balik bertanya dengan nada syok.
Haekal jadi salah tingkah, emang
salah ya? pikirnya.

"Kenalin saya Dera panggil aja ka dera"sapa ibu itu, ditangannya terdapat rantang dan sebuah majalah.

"Lebih nyaman kalau saya manggil ibu dera" ucapan Haekal membuat ibu itu melotot.

Ga sopan nih bocak desisnya dalam hati.

"Dahlah, mana istri kamu?" Kata Ibu itu langsung.

Haekal merinding 'sejak kapan Tania punya kenalan ibu-ibu hamil yang bentar lagi bakal orokan.

"Didalam, ayo masuk dulu bu" kata Haekal bersikap ramah.

"Disini aja, panggilin istri kamu." titah si ibu tadi, Haekal menggeleng.

"Tania lagi sakit bh, sejak kemarin mual-mual" Ujar Haekal beralasan jujur.

Ibu itu langsung tersenyum riang. Wajah sinisnya mendadak sirna.

"Ada pengen apa gitu? semacam ngidam"
tanya ibu itu, Haekal baru ingin menjawab ibu itu langsung memotong.

"Gausah dijawab" ujar ibu itu lagi. Heh?

"Ini kasihkan istri kamu, dari bu reni." ujar ibu itu lagi.
Haekal mengangguk, ibu itu mencondongkan mukanya kearah Haekal, otomatis Haekal mundur.

"Nanti dibaca majalahnya, kalau ada niat mesen, rumah saya disamping" bisik ibu itu sambil menunjuk nunjuk majalah.

Haekal menganggum angguk saja. Lebih baik Majalah ini tak sampai ditangan perempuan itu.

pacar halalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang