31; mual lagi

7.3K 368 12
                                        

Haekal mengajak  keluar entah mengunjungi siapa, yang pasti sebuah rumah berdiri kokoh didepannya, cantik satu kata yang menggambarkannya.

"Ini rumah siapa Kal?" Tanya Tania bingung, cemas juga sih takut disangka mau maling.

"Udah deh masuk aja. nanti aku kenalin" Jawab Haekal tenang, clwo itu menarik Tania masuk kedalam rumah yang lumayan besar dan modern, ditumbuhi beberapa tanaman yang memberikan kesan asri.

"Kan Tadi kata penjaga nya yang punya villa lagi nggak ada, nanti kita dikira maling lagi" seru Tania menahan tangan Haekal.

Haekal mengajak Tania semakin masuk kedalam melewati beberapa ruangan dan tiba disebuah pintu yang menghubungkan dengan halaman belakang, mereka keluar lewat pintu itu.

Tania takjub melihat pemandangan indah dihadapannya, terdapat hamparan rumput yang sebagian ditumbuhi bunga, di setiap sudut nya tumbuh pohon mangga lalu ada pohon pala yang paling banyak pohon starwberry yang disimpan di ployback.

Ada tiga kolam yang pertama kolam renang lalu ditengah ada kolam air mancur, dan diujung sana ada kolam ikan, ketika kaki Tania melewati kolam ikan Ia langsung berseru senang.

"Kal nanti bakar-bakar ikan gimana?" Seru Tania.

Haekal mengangguk mengiyakan lantas membuka kaosnya sontak Tania membulatkan mata kaget.

"Eh mau ngapain?" seru Tania, Haekal menyimpan telunjuk nya dibibir.

"Kamu tunggu disitu" Setelah mengucapkan itu Haekal langsung menyebur diri kedalam kolam yang cukup dalam bagi Tania tapi hanya sebatas pinggang Haekal, cowo itu beberakali mencoba menangkap ikan namun sayang karna licin ikan nya lolos kembali.

Haekal sesekali mengusap mukanya yang kecipratan air kolam karna keginceran ikan ikan itu,+ Tania dengan sabar menunggu disisi kolam.

"Dapet nggak Kal?" Tanya Tania sabar Haekal tak mengacuhkan nya, Tania mulai jenuh.

Haekal sebenarnya bisa nggak sih? batin Tania mejerit.

"Kalau nggak dapet mening nggak usah deh Kal." Seru Tania lagi.

"Bentar, susah nih ikan nya mewah cantik-cantik" sahut Haekal, Tanpa sengaja tatapan tania jatuh pada sesosok wanita, kira-kira seusia ibunya, yang menatap heran kerah nya, Aduh Tania Khawatir bukan main.

Tania buru-buru memberitahu Haekal. "Kal sstt, Kal, yang punya nya da..." belum sempat Tania menyelesaikan ucapan Haekal keluar dari kolam sambil membawa ikan ditangan nya.

"Tan nih dapet, tapi kecil, gapapa ya, yang gede susah gincer semua."kedik Haekal, mendapatkan pelototan dari Tania Haekal mengikuti isyarat lirikan mata Tania dilihatnya seorang wanita diambang pintu menatap heran Haekal menyengir lalu bangkit berjalan mendekati wanita itu disusul Tania.

"Eh budhe, Assalamualikum budhe cantik" sapa Haekal Wanita itu lalu berkecak pinggang.

"Kamu ngapain megang ikan Koi budhe" seru wanita itu ketika melihat Haekal memegang ikan dengan kuat yang berhasil bikin si ikan engap-engapan, Haekal melongo.

"Loh ini ikan koi?" Haekal mengerjap, Budhe memutar bola mata malas.

"Menurutmu? kebanyakan maen sama cupang sih kamu ya." balas budhe nya.

"Pantes ikan nya sok kecantikan genit-genit ngedeketin, pas bagian mau ditangkap kabur" dumel Haekal lalu melempar ikan itu ke kolam, Tania dan budhe nya langsung protes.

"Jangan dibanting nanti sakit badan" seru Tania nyaring.

"Kenapa di ke kolam renangin??" seru budhe nya tak kalah nyaring.

Haekal menutup telinga nya lalu menggaruk kepala nya salah tingkah. Budhe menghembuskan napas lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Lalu tatapan budhe nya berhenti pada Tania, alis nya mengerut tanda bingung.

"Ini siapa?" Tanya budhe pada Haekal.

Haekal tersenyum bangga lalu merangkul Pundak Tania "Istri Ekal" katanya bangga.

Tania berusaha melepaskan tangan Haekal dipundaknya, Tania ingin muntah ketika mencium bau anyir ikan ditangan Haekal.

"Bukannya kata mama kamu, kalian udah pis..."

"Lepasin, Tangan kamu bau ikan" Seru Tania memotong, Tania nggak bisa menahan rasa mual nya lagi. Ia lalu memeluk Haekal memuntahkan isi perut nya di badan Haekal.

Haekal meringgis khawatir, lalu berlari sambil menarik tangan Tania memasuki rumah menuju kamar mandi, Meninggalkan budhe nya yang melongo.

Jadi siapa sebenarnya yang punya rumah??

Dikamar mandi Tania jongkok di depan kloset, sambil berusaha mengeluarkan isi perutnya dibelakangnya Haekal dengan sabar memijat tengkuknya.

"Kal, singkirin tangan kamu, bau huekk" seru Tania dengan suara tak jelas.

"Apaan?" Tanya Haekal tak mengerti.

"singkirin" seru tania kencang.

"Apanya singkirin?" Tanya Haekal lagi, Tania dengan kesal menepis kuat.

"Tangan kamu! mandi sana bau!" seru Tania, Haekal menjauh lalu menutup pintu kamar mandi dan mulai membanjur badan nya dengan air, Tania paling benci dengan ikan, meskipun Ia suka makan ikan tapi Tania benci bau ikan masih hidup, beuh sekali kepegang dia kudu mencuci tangan berapa kali.
Tania memilih memijat lehernya sendiri membiarkan Haekal mandi di belakangnya.

'Byurrr' Haekal salah banjur malah mengenai tania, Tania langsung menjerit kesal.

"Haekal!! kira-kira dong, basah nih." seru Tania lantas  merebut gayung di tangan Haekal, Ia ambil air di dalam bak lalu Ia banjurkan kearah Haekal dengan kencang, Haekal berusaha menghindar serangan bruntal dari Tania, Tania justru makin trus membanjuri Haekal dengan kesal, Air sabun yang mengalir membuat Kaki Tania terrgelincir tubuhnya Hampir  jatuh ke lantai keramik kamar mandi jika Haekal tak menyangga tubuhnya, Jantung Tania berdetak kencang. bukan, bukan karena ia sedang jatuh cinta, tetapi rasa kaget membuat Tania tertegun, ia hampir jatuh.

Haekal membantu Tania berdiri tapi tatapan Tania masih kosong, Haekal mengerti mungkin Tania masih kaget.

Haekal menggoyangkan pelam badan istrinya itu hingga Tania tersentak.

"Kamu berdiri dulu disini, pegang ujung bak, okey?" Kata Haekal, Tania mengangguk lalu menurut.

Haekal keluar memanggil budhenya, budhenya datang membawa dua handuk sesuai harapan Haekal.

"Budhe punya baju ukuran kecil nggak? Tania ke dinginan?" Tanya Haekal, budhe mengerutkan alis bingung.

"Loh dia juga mandi?"
Tanya budhe keheranan, haekal menggeleng.

"Tadi kebanjur ekal" Jawabnya sambil cengengesan, Budhe menggelengkan kepala.

"Kebiasaan."

pacar halalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang