"Nat."
Rena hanya terus berdiam sejak mendengar ucapan Jason. Dareen merasa tidak enak hati pada gadisnya. Dia sangat mengerti pasti Rena merasa sakit hati.
"Jangan masukin hati ucapan dia. Aku tau pasti kamu sakit kan dengernya. Maafin dia" kata Dareen sambil menarik pelan tangan Rena.
"Emangnya aku cuma manfaatin kamu?" tanyanya pelan. Masih menatap lurus kedepan tanpa menoleh. Perkataan Jason masih bergeming di kepalanya.
"Aku balikin ucapan kamu. Memangnya kamu manfaatin aku?" Rena mengeleng. "Kalau kamu memang gak ngerasa gitu, buat apa kamu terlalu mikirin? Aku juga gak terlalu peduli Nat mau kamu manfaatin aku apa enggak. Yang aku tau kamu gak kayak gitu"
Dareen berusaha meyakinkan gadisnya. Agar dia tidak memikirkan lagi hal yang akan membuatnya terbeban.
"Tapi."
Dareen langsung menutup bibir Rena dengan telunjuknya. Merasa tak ingin mendengar alasan gadis itu. "Gak ada tapi-tapi. Aku gak mau denger alasan kamu. Aku cuma pengen jangan jadiin hal yang kamu denger tadi jadi beban buat kamu nantinya"
"Mending kita masuk Nat. Udah ditungguin sama mama buat makan bareng" Rena langsung mengikuti Dareen. Di meja makan hanya ada Sonya. Jason tidak ikut makan bersama mereka. Dia hanya tidak ingin bertemu dengan lelaki itu.
Sonya mengambilkan makanan lalu menaruh dipiring Rena "Kamu makan yang banyak. Maaf sama ucapan Om tadi. Mungkin dia hanya kecapean abis kerja. Jadi ngomongnya begitu" Sonya menjelaskan agar Rena tidak terlalu kepikiran ucapan Jason. Rena hanya menganguk mengerti.
*****
Sementara itu 2 orang pria sedang berbicara, mengatur siasat. Dave janjian bertemu dengan seseorang. Ingin membalas dendam pada lelaki yang diyakininya dekat dengan Rena, merasa tak terima dengan perlakuan cowok itu. Dia hanya ingin mendapatkan Rena kembali apapun caranya, meski harus membunuh cowok itu.
"Gw mau lo bikin nih cowok kesakitan" sambil memberikan foto Dareen. "Terserah lo mau apain dia. Tapi inget jangan sampe orang-orang tau siapa yang suruh lo. Ngerti?" Lelaki berbadan besar itu hanya menganguk mengerti.
"Sampai kapanpun aku gak bakal rela Ta kamu sama cowok itu. Mungkin kamu harus tau kalau aku bisa ngelakuin apapun buat dapetin kamu lagi" gumam Dave meyakinkan dirinya bahwa Rena hanya miliknya
*****
Mereka berempat sedang berkumpul di area parkiran kampus. Kelas mereka memang sudah usai. Sudah lama mereka berempat tidak kumpul seperti ini. Hubungan mereka dengan teman-teman Rena juga dikatakan baik.
"Ren. Gimana hubungan lo sama Rena? Baik?" Ucap Richard yang masih setia mengengam ponselnya. Seraya membalas chat Retta.
"Baik. Lo sendiri?"
Richard hanya menghela nafas pelan "Begitulah. Masih sama. Retta masih belum mau nerima gw" Retta memang masih belum menginginkan hubungan yang lebih jauh lagi dengan Richard. Entah sampai kapan dirinya akan menunggu hingga Retta siap.
"Sabar aja Chard. Cewek gak suka dipaksa. Yang penting lo udah nyatain perasaan sama dia" sahut Erick meyemangati Richard yang kelihatan sedih.
"Lo gmana sama Cherish?" tanya Erick menoleh menatap Mickey yang sedari tadi hanya fokus membaca buku.
"Gw?" sembari menunjuk dirinya. "Ya lo lah. Emang Cherish mana lagi yang gw tanya" sahut Erick cepat. Merasa kesal dengan sikap lemot Mickey.
"Gak baik dan gak buruk"
"Susah ngomong sama Mick yang otaknya cuma nyangkut di buku. Mending ngomong sama anjing gw dirumah walau gongong doang" cibir Erick kesal dengan sikap cuek Mickey yang dari dulu gak berubah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Our Love Story
Teen FictionBercerita tentang mereka. Kehidupan, percintaan dan keluarga. Tidak semulus harapan mereka. Mereka dua insan yang tanpa sadar dipertemukan oleh takdir, Siapa sangka suatu keadaan mempertemukan mereka? "Tanpa sadar kau membawa bahagia ku yang hilan...