Gak perlu denger kata orang, aku ya aku, mereka ya mereka. Hanya aku yang tahu gimana hati ini?
*****
Dari tadi Rena sibuk mondar-mandir didepan ruang kerja Emilia. Ragu mau masuk apa tidak? Kalaupun masuk, Rena binggung harus berkata apa nantinya? Lidahnya mendadak kelu, padahal tadi ketika dikamar, Rena sudah tau apa yang mau dia bicarakan pada Emilia. Sekarang semuanya mendadak buyar.
"Non Re, Dari tadi bibi liatin non Re mondar-mandir terus kayak kebingungan" sapa bi Asih sedang menyapu lantai. Aneh dengan kelakuan majikannya.
Rena mengaruk tangannya yang tidak gatal, salah tingkah karna ucapan bi Asih. "Gak..papa bi Re cuma mau ngomong sama mama, takut mama gak ada didalem"
"Nyonya ada didalem kok non. Lagi kerja" bi Asih kembali menyapu.
Dengan segala keberanian, Rena masuk ke ruang kerja Emilia. Sebelum masuk, Rena menarik nafas dalam agar kegugupan dalam dirinya tidak begitu terlihat.
Melihat Rena ada didepannya, Emilia tidak menghentikan kegiatannya. Dia masih sibuk mengetik dengan laptop dihadapannya.
Rena menahan kekesalannya dalam hati meski dia tau rasa kesalnya pada Emilia menumpuk. Lagipula apa salahnya meluangkan waktunya sebentar? Sudah jelas mamanya melihat dia berdiri, kenapa masih terus mengetik tanpa menyapa atau sekedar basa-basi sebentar?
Mau tak mau akhirnya Rena yang pertama membuka obrolan.
"Ma, Rena mau bicara sebentar. Dengerin Rena dulu ma" pinta Rena pada Emilia. Emilia tetap tidak menghentikan kegiatannya.
"Bicara aja. Mama dengerin"
"Boleh gak kalau pertunangan Rena sama Rian dibatalin? Rena gak bisa ma tunangan sama Rian. Rena gak ada rasa juga sama dia" ucap Rena sedikit menekankan ucapannya disetiap kata. Mau agar Emilia paham.
Emilia menutup laptopnya lalu menatap Rena dengan sedikit kesal "Gak bisa. Semua sudah mama atur. Mama lakuin semua ini karna mau yang terbaik untuk kamu"
What? Terbaik? Emang dasarnya pemaksa bakal tetep jadi pemaksa.
"Ma.. please kali ini aja dengerin apa mau Rena. Rena gak pernah minta sesuatu yang berlebih sama mama. Rena cuma mohon buat yang satu ini" Rena memohon sambil melipat kedua tangannya.
"Denger mama! Kalau kamu bersikeras masih mau menentang mama, lebih baik kamu pergi saja dari rumah ini. Mama gak perlu anak yang susah diatur!" Bentak Emilia, kesal dengan Rena karna tidak pernah mau menurut.
Percuma bicara dengan Emilia. Rena segera keluar dari ruangan Emilia tanpa berkata apapun lagi. Dia tidak mau menangis hanya karna penolakan Emilia. Sebisa mungkin Rena harus kuat karna dia tau satu-satunya orang yang bisa membantunya adalah Sean papanya. Sayangnya, Sean sekarang sedang pergi dalam perjalanan bisnis. Rena akan menunggu Sean pulang untuk meminta agar Sean mau membantunya membatalkan perjodohan ini.
Untuk sekarang aku gagal En, tapi aku pastiin kalau nanti usaha aku bakal berhasil.
*****
Emilia menyandarkan kepalanya di bangku sembari memijat pelipisnya karna kelakuan Rena membuatnya pusing. Maksud Emilia hanya ingin melihat kebahagiaan Rena, bukan yang lain.
Dia juga merasa tak enak pada keluarga Sofia jika membatalkan pertunangan ini. Pasalnya, Sofia adalah teman Emilia sejak masih duduk di bangku SMA dulu. Apa jadinya jika hubungan persahabatan yang sudah mereka bangun sejak lama rusak begitu saja karna dirinya?
Ponsel Emilia berdering. Emilia segera mengangkat telponnya, ternyata yang menelpon adalah Eros.
"Nyonya, saya sudah mendapatkan apa yang nyonya minta kemarin"

KAMU SEDANG MEMBACA
Our Love Story
Teen FictionBercerita tentang mereka. Kehidupan, percintaan dan keluarga. Tidak semulus harapan mereka. Mereka dua insan yang tanpa sadar dipertemukan oleh takdir, Siapa sangka suatu keadaan mempertemukan mereka? "Tanpa sadar kau membawa bahagia ku yang hilan...