"Aku jarang melihatmu, Eonni." Jasmine mengungkapkan kekesalannya terhadap sang kakak.
Kedua saudara itu tengah menikmati watu kebersamaannya di sebuah restoran yang hanya berjarak 100 meter dari rumah sakit tempatnya bekerja. Hal tersebut karena permintaan Jessica yang memilih tempat itu, guna mempersingkat waktu dan memudahkannya kembali jika terjadi apa-apa yang mengharuskan dirinya untuk ke rumah sakit. Bahkan Jessica masih mengenakkan jas kebesarannya sebagai seorang dokter, yang kini sudah disampirkannya pada kursi kosong disebelah. Ia terburu-buru takut terlambat dan membiarkan Jasmine menunggu, sehingga tidak sempat dirinya kembali keruangannya meskipun hanya untuk melepas snelli-nya.
Jasmine baru saja selesai kuliah, dari kampus langsung menuju ke tempat mereka janjian untuk makan siang. Sebenarnya Jasmine enggan untuk makan di restoran itu. Bukan apa-apa, hanya saja saat ini dirinya sedang ingin makan makanan negara asal ibunya dan sayangnya makanan itu tidak ada dalam daftar menu restoran bergaya klasik ini.
Mereka duduk di pojok dekat dengan jendela. Membuatnya mampu melihat aktivitas di luar restoran. Suasana di dalam nampak tenang dengan iringan akustik dari laki-laki yang memainkan gitarnya di atas panggung. Lumayan banyak pengunjung. Tentu saja, karena ini jam istirahat. Beberapa dokter dan perawat lain juga turut menghabiskan makan siangnya di restoran tersebut. Mungkin bosan dengan suasana kantin rumah sakit sehingga memilih makan di luar.
"Masih banyak pasien yang Eonni tangani. Apalagi ini akhir bulan saatnya untuk melaporkan data kesehatan pasien. Itu semua memaksaku untuk lebih lama di rumah sakit, Jas." Jawab Jessica jujur meminta pengertian adiknya. Gadis yang lebih muda darinya lima tahun itu hanya mencibir dan tidak berniat memberikan sanggahannya.
"Ayolah Jasmine, kamu bukan lagi anak kecil yang manja." Bujuk Jessica
"Bukannya manja, kita hanya berdua tinggal di Jakarta jauh dari Mommy dan Daddy. Siapa lagi kalau bukan kepada Eonni aku bercerita. Tapi Eonni justru sibuk dan melupakan keberadaanku." Jasmine semakin mengeluarkan unek-uneknya kepada Jessica.
Memang beberapa hari ini Jessica terlalu sibuk di rumah sakit. Ia pulang kerumah larut malam dan pergi pagi-pagi. Tidak sempat ia bertemu Jasmine karena begitu sampai rumah pasti Jasmine sudah terlelap. Jessica menghembuskan napas menghadapi adiknya yang tengah merajuk. Ia mengakui jika waktu mereka untuk berdua menghabiskan waktu memang tidak ada. Dan itu disebabkan karena waktu Jessica yang tersita pada profesinya. Baru pertama kali ini, Jasmine marah dengannya. Tentu membuat Jessica merasa bersalah dan bingung.
"Baiklah, sekarang apa yang kamu inginkan?" Jessica mencoba mengalah.
"Aku? Aku sama sekali tidak menginginkan apapun. Hanya saja aku mohon pada Eonni, sempatkanlah waktumu untukku sedikit saja. Luangkanlah waktu untuk bersamaku dan pikirkan juga kesehatanmu sendiri." Jasmine menjawab dengan suara memohon.
Jessica memutar otak dengan situasi yang dihadapkan padanya. Bukan dirinya tidak mau menghabiskan waktu bersama Jasmine, namun kembali lagi pada profesinya sebagai seorang dokter yang menyita kesibukannya. Ia usap pelan wajahnya untuk menjernihkan sedikit kebingungannya.
"Eonni tidak ada waktu, hmm?" Jasmine kembali bertanya seolah menyindir Jessica yang tidak kunjung membalas permintaannya. "Sebelumnya Eonni bertanya padaku, apa yang aku inginkan. Aku sudah menjawabnya, namun sekarang Eonni tidak memberikan respon." Jasmine hanya tersenyum miris.
Merasa tidak ada gunanya perbincangan ini, Jasmine memutuskan pergi dari restoran tersebut. Belum sempat Ia melangkah, Jessica menginterupsinya.
"Jangan seperti ini Jasmine-ah." Jessica menatap Jasmine seolah memohon. "Kita bicarakan ini baik-baik." Lanjutnya
KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Rasa
Storie d'amoreKejadian empat tahun lalu meninggalkan torehan luka yang masih menganga dalam diri Jessica. Hingga membuatnya terjebak dalam trauma yang terus menghantui. Berpikir sulit baginya untuk kembali merasakan cinta dan memulai sebuah hubungan yang baru. Te...
