Shadow-7

530 48 0
                                        

Senin sore, sepulang sekolah Evans sudah menunggu di depan rumah Lerina. Gadis itu berjanji akan datang ke pondokan Geya pada Senin sore. Evans terlihat santai dengan mengenakan celana pendek dan kaos. Sebuah mobil pick up pengangkut hasil panen terparkir tidak jauh dari tempat Evans berdiri.

"Kau sudah lama menungguku?" Tanya Lerina menghampiri Evans.

"Tidak terlalu lama." Evans tersenyum mendapati Lerina mendekat. "Kita berangkat sekarang?" Lanjut Evans.

Lerina mengangguk, dia segera naik ke mobil pick up sesuai perintah Evans. Evans tampak ahli dalam mengemudi. Jalanan aspal yang berkelok-kelok dilaluinya dengan mudah dan tanpa kesulitan berarti. Jalanan begitu sepi, mungkin karena jumlah penduduk yang masih begitu sedikit.

Pemandangan sepanjang jalan yang dilalui cukup menakjubkan. Pepohonan rimbun ban hijau menghiasi. Sangat menarik jika dijadikan tempat berlibur menurut Lerina. Gadis itu membuka kaca mobil untuk merasakan udara diluar dengan lebih seksama.

"Apa banyak wisatawan kesini?" Tanya Lerina tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan di luar.

"Tidak ada," balas Evans singkat.

"Kenapa?"

"Banyak serigala di gunung dan hutan, warga disini bahkan tidak berani mendekat hutan."

"Serigala?" Lerina berguman sendiri.

Butuh setidaknya 10 menit perjalanan agar tiba di pondokan yang mereka tuju. Pondokan itu berada di hutan, berupa kabin.

"Lerina!" Panggil Geya ketika Lerina dan Evans baru saja tiba. Tidak butuh waktu lama, Geya sudah sibuk menjelaskan bahan-bahan dan cara membuat kue. Sementara Evans bersama dan seorang anak laki-laki yang menunggunya telah berlari ke hutan. Tempat tersembunyi dimana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri. Kedua anak laki-laki itu terus berlari hingga muncul dua sosok serigala berukuran besar.

Di suatu tempat, 5 serigala dengan ukuran yang sama telah menunggu, saling menggaung seakan sedang membicarakan suatu hal. Mereka kemudian memutuskan untuk kembali berlari masuk ke dalam hutan yang lebih dalam.
Di pondokan, berkilo-kilo jauhnya dari tempat serigala berkumpul, Lerina mendengar suara gaungan. Dia segera menoleh mendengar gaungan itu.

"Di hutan memang banyak serigala, Evans sudah memperingatkanmu bukan?" Ucap Geya tidak lupa dengan senyum yang selalu dia berikan.

"Dimana Evans dan laki-laki tadi?"

"Diktan? Mereka pergi bermain bersama yang lainnya?"

"Bermain?"

"Iya." Ucap Geya tanpa menjelaskan jenis permainan apa yang mereka lakukan.

"Kau suka kue kering?" Tanya Geya mengalihkan perhatian Lerina.

"Tidak terlalu," jawab Lerina. Gadis itu menyaksikan jika Geya terlalu banyak membuat kue kering.

"Apa akan habis sebanyak itu?"

Geya kembali tersenyum, jika tidak ada luka bakar di wajahnya maka bisa jadi Geya akan sangat cantik. Keramahan serta kebaikan Geya tampaknya sudah membuatnya terlihat begitu cantik.

"Para anak laki-laki sangat rakus, ini bahkan kurang untuk mereka bertujuh."

Setidaknya sudah ada 3 toples berisikan kue kering. Namun Geya masih saja membuatnya.

"Apa Evans sekolah?" Tanya Lerina.

"Kau tidak bertanya langsung padanya?"

"Tidak," diikuti dengan gelengan kepala Lerina.

"Dia sudah kuliah, namun hanya dua hari dalam seminggu, sisanya dia bekerja di bengkel milik ayahnya."

"Kuliah? Kuliah dimana?"

"Di kota, jaraknya sekitar 40 menit dari Espion."

"Kenapa dia tidak kuliah di luar kota? Di perguruan yang lebih baik."

"Jangan salah, perguruan disini juga cukup baik."

Menjelang senja, Evans dan beberapa anak lainnya baru kembali. Namun dari mereka bertujuh hanya Evans yang berpakaian lengkap sementara enam lainnya hanya mengenakan celana pendek.

Mereka segera menyambar kue kering yang dibuat oleh Geya dan Lerina. Meski Lerina hanya membantu mengambilkan apa yang dibutuhkan untuk membuat kue tanpa benar-benar membantu membuat.

"Hai Lerina," sapa Toby dengan senyuman. Evans segera menyikut lengan Toby.

Benar saja kata Geya, dalam hitungan menit, kue kering itu sudah lenyap. Mereka benar-benar tampak kelaparan.

"Kau ingin pulang?" Tanya Evans pada Lerina.

Lerina mengangguk, dia harus pulang. Sebentar lagi hari mulai gelap. Menyadari jika Lerina harus segera pergi, Geya segera mendekat pada gadis itu.

"Mainlah kesini lagi lain kali," ucap Geya pada Lerina.

ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang