Shadow-24

260 30 0
                                        

Pukul 8 malam, Qian datang ke lapangan Rooen. Disana dia berjanji untuk bertemu dengan David. Menghadiri pesta teman yang belum dia lihat bahkan dia sendiri lupa namanya. Di hari pertamanya mendapat teman, Qian sudah harus mendatangi sebuah pesta. Dia tidak berharap banyak dari pesta yang akan dihadiri. David datang lebih awal, menunggu sambil membawa banyak barang bawaan. Qian tidak pernah mengira jika David bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

"Kau sudah siap?" Ujar David bersemangat.  Menunjukkan barisan sepatunya yang terikat di tas.

"Kau serius akan berjualan di pesta?"

"Tentu saja. Ayo." David berjalan mendahului Qian, memimpin jalan. Qian tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti David di belakang.

Mereka menghadiri sebuah pesta ulang tahun dari seorang anak bernama Johan. Qian sempat bingung, seharusnya dia sudah menyangka jika pesta yang dia hadiri adalah pesta ulang tahun. Mereka berdua datang ke pesta tanpa membawa hadiah. Meski begitu Qian tetap salut pada rasa percaya diri David. Dia tidak memperdulikan apapun, dan tetap berjalan tegak.

Mereka tiba di tempat pesta tidak jauh setelah berjalan. Sebuah pesta yang cukup meriah. Dari arah luar sudah dapat terdengar suara gaduh. Di depan Qian, David masih terlihat bersemangat. Mereka masuk ke dalam rumah setelah mengetuk pintu.

"Masuklah." Seorang pria berambut cepak mempersilahkan mereka.

"Kenalkan, ini Qian, anak baru di sekolah kita." David memperkenalkan diri.

"Oh hai, aku Johan." Johan memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Qian. "Qian," balasnya.

Ditemani Johan, David dan Qian masuk ke dalam rumah. Di dalamnya sudah banyak anak, termasuk Sam dan Jono. Qian memilih duduk di kursi, sementara David mulai melancarkan rencananya. Menawarkan barang-barang yang dia bawa. Qian tidak sendiri, seorang gadis di depannya juga duduk di sana.

"Hai," sapa si gadis. "Kau orang baru? Aku baru melihatmu."

"Iya, aku baru , namaku Qian."

"Aku Sandra, kau tinggal dimana?"

"Espion."

"Oh, kau pasti sering mendengar suara serigala."

"Lumayan."

Qian terpanah dengan pesona Sandra, gadis itu tidak hanya cantik, dia adalah gadis yang lembut dan menarik. Dirinya yakin jika pasti banyak pria yang tertarij pada gadis itu.

"Sepertinya kau tidak menikmati pestanya," ujar Qian.

Sandra tertawa kecil. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan perkiraan Qian. "Tidak, aku hanya ingin duduk saja sambil menikmatinya."

"Lalu apakah kau tidak menikmatinya?" Lanjut Sandra.

"Tidak juga, hanya aku belum kenal dengan siapapun."

"Kau mengenalku," ucap Sandra membuat mereka sama-sama tertawa.

gan suara orang saling berbincang. Qian dan Sandra menjadi dua orang yang berbincang diantara orang lainnya. Mereka tampak merasa nyaman satu sama lain. Sandra memang memiliki pesona tersendiri tapi Qian juga tidak kalah mempesonanya. Dia bisa mengimbangi perbincangan mereka dengan diselipi sedikit humor. Apa yang dilakukan Qian cukup berhasil. Buktinya, dia selalu berhadil membuat Sandra tertawa.

"Lalu dengan siapa kau datang kesini?" Tanya Sandra.

"Seorang anak yang tengah menawarkan barang dagangannya." Mata Qian tertuju pada sosok David di seberang ruang bersama 2 orang anak laki-laki.

"David?"

"Yap."
"Kau kelas berapa?" Lanjut Qian.

"9.2, kau pasti 9.3, bukan?"

"Iya."

Sementara Qian sibuk berbincang dengan seorang gadis cantik, David masih sibuk menawarkan sepatu imitasinya. "Lihatlah, tampilannya tidak jauh berbeda dengan yang asli, kalian juga bisa menghemat uang hingga hampir 50 persen jika membeli sepatu dariku."

"Bagaimana dengan kualitasnya?" Tanya seorang anak laki-laki yang sedari tadi diajak berbincang David.

"Kau tahu kenapa sepatu bermerk harganya mahal?" David menatap dua pasanf mata di depannya .

"Itu karena merk mereka, tapi kualitas mereka hampir serupa dengan yang tiruan, percayalah." David berusaha menyakinkan.

"Baiklah aku akan membelinya, berapa harganya?"

"230 ribu." David memperlihatkan deretan giginya pada calon pembelinya. "Aku tahu, kau memang orang yang baik."

Transaksi pun dilakukan. Sepatu tiruan bermerek terkenal berganti dengan uang sebesar 230 ribu. Senyuman David terlihat jelas di wajahnya, hingga Qian dapat melihatnya. Setelah transaksi selesai dilakukan, David segera menghampiri teman barunya, Qian.

"Sepertinya kau sangat senang," ujar Sandra.

"Tentu saja, aku berhasil menjual 3 pasang sepatu malam ini."

"Harus aku akui kau sangat mahir dalam berdagang," sahut Qian.

"Maka dari itu panggilanku David si pedagang."

David tidak hentinya tersenyum puas. Qian bahkan bisa merasakan kebahagian sang teman dari rona bahagia yang dipancarkan David. Dentuman musik semakin kencang, pestapun semakin meriah. Beberapa anak ikut bernyanyi, dengan nada yang asal terpenting mereka merasa senang.

Sandra menoleh ke arah Qian, sementara pria itu sibuk memerhatikan David yang sudah menari bersama yang lain. Beberapa menit kemudian, Qian menyadari tatapan mata Sandra. Mata itu bersinar cerah bagai ada bulan di dalamnya.

"Kau mau menari bersamaku?" Tawar Sandra.

"Tentu saja."

Dalam hitungan detik, Qian dan Sandra telah menari bersama yang lain. Tarian yang bahkan belum pernah dilihat oleh Qian sebelumnya. Tarian yang dilakukan secara kompak oleh semua pengunjung pesta. Menyerupai tarian flashmob bagi Qian. Menurutnya kota baru yang dia datangi cukup menarik.
Pesta selesai setelah mereka menyelesaikan tarian yang terakhir. Sejujurnya pesta itu cukup berkesan bagi Qian. Selain David dan Sandra pengunjung pesta lainnya cukup ramah dan bersahabat dengan dirinya. Sedikit banyak dia mengerti mengapa kakaknya Leri bisa mendapatkan teman dan seorang kekasih di kota yang cukup terpencil sebenarnya.

Sedikit berbeda dengan keadaan di rumah Johan, di luar sana keadaan cukup sepi. Bintang bersinar dengan begitu indahnya. Sesekali terdengar suara jangkrik. Qian, David, Sandra, Sam dan Jono berjalan kaki pulang pesta. Jalanan sudah sangat sepi menjelang malam bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada kendaraan yang lewat.

Di tengah sepinya jalanan, Sam tidak hentinya menggoda Jono karena telah memberikan lelucon yang sama sekali tidak lucu. David sendiri sibuk bersiul menghitung keuntungan yang dia dapat setelah menjual beberapa pasang sepatu. Kebahagiaan yang cukup sederhana sebenarnya untuk David, dia sudah terbiasa menjual banyak barang selama ini.

Sinar bulan benar-benar membantu jalan mereka. Kurangnya lampu jalan dan rumah penduduk yang jarang membuat mereka sepenuhnya mengandalkan sinar bulan sebagai pencahayaan.

"Dimana rumahmu Qian?" Tanya Sam setelah berhenti tertawa karena Jono. Qian sendiri berjalan di belakang David, Sam dan Jono bersama Sandra.

"Aku akan ke toko kelontong Mutia terlebih dahulu."

"Kau bekerja disana?"

"Tidak, itu milik ibuku."

Mata Sandra mendadak membelalak, untungnya tidak ada yang sadar dengan reaksi berlebih gadis itu. Dia segera memasang wajah penuh senyuman seperti biasanya.

Di pertigaan jalan, Qian memutuskan untuk berpisah dari rombongan. Toko sang ibu berada tinggal 50 meter. "Sepertinya kita harus berpisah disini," pamit Qian pada keempat teman barunya.

"Baiklah, sampai jumpa besok," balas David diikuti dengan yang lain.

50 meter setelah perjalanan, Qian menemukan sebuah toko dengan lampu yang masih menyala. Toko itu sudah tutup sejak sejam lalu, namun sang pemilik toko masih ada di dalam. Mitha tengah sibuk menulis pembukuan ketika Qian muncul di pintu yang sudah dikunci. Mitha tersenyum melihat kehadiran sang anak. Dia telah lama menunggu.

ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang