Para serigala sedang menyusuri hutan, memastikan jika semua dalam keadaan baik setelah perjanjian baru dibuat. Seperti biasanya mereka menyusuri hutan dalam keadaan berkelompok. Saling berkomunikasi melalui sebuah telepati. Sebuah komunikasi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka. Mereka terhenti di sisi Selatan hutan Espion, wilayah Espion yang berbatasan langsung dengan wilayah klan Hitam.
Dalam komunikasi mereka, Andy mengajak mereka untuk pergi ke sisi hutan lainnya. Menjauh dari wilayah perbatasan. Tapi perintah itu secara langsung ditentang oleh Caleb dan Archer. Secara terang-terangan, mereka memilih untuk melanjutkan menyusuri hutan bagian Selatan, berpisah dari rombongan. Pertentangan yang membuat Andy merasa begitu marah. Telepati mereka menjadi kacau. Caleb dengan sengaja memutuskan komunikasi telepati dari Andy dan memilih untuk berkomunikasi langsung dengan Evans. Archer pun melakukan hal yang serupa, dia memutuskan komunikasi dengan Andy, membuat Andy marah. Mereka tidak percaya jika para serigala klan Hitam tidak akan melakukan perburuan di wilayah Espion yang berarti nyawa penduduk Espiom bahkan keluarga mereka sedang dalam bahaya. Mereka pun memilih untuk terus melakukan pengintaian, memastikan jika para serigala dari Espion dapat menepati janjinya.
Kemarahan Andy berdampak pada anggota lainnya. Komunikasi mereka menjadi kacau, mereka yang masih mendengar perintah Andy harus merasakan kemarahan Andy. Sebagai anggota termuda, Toby menjadi anggota yang paling banyak terkena dampaknya. Dia merasa sakit ketika merasakan telepati yang dikirim Andy. Tidak seperti anggota lainnya, Toby tidak bisa mengendalikan telepati yang masuk ke dalam dirinya. Umumnya, telepati merupakan komunikasi yang dilakukan dengan berbagi pemikiran antar serigala.
Andy berjalan ke luar hutan dengan wujud manusia. Wajahnya sedikit merah karena merasa kesal. Di tempatnya, Geya hanya terpaku melihat kedatangan Andy dengan raut wajah yang tidak terduga. Di belakangnya, Evans dan Hans mengikuti masih dalam wujud serigala. Diktan sendiri membawa Toby untuk tetap menyusuri hutan, membantunya agar lebih berkembang sebagai seorang manusia serigala.
Leri yang berada diantara situasi itu tidak berani bertanya, dia hanya bisa menatap mata kedua serigala dengan perasaan aneh dan ekspresi sedih dari Geya. Mengetahui fakta bahwa kekasihnya seorang manusia serigala tidak membuat Leri serta merta menerima keadaan Evans dalam wujud serigala. Evans yang mengetahui perasaan aneh dari Leri memilih untuk kembali masuk ke hutan bersama Hans. Tinggallah, Leri dan Geya di pondokan, membisu melihat kedatangan Andy. Andy sendiri telah berada di kamar dari pondokan, meenangkan diri di sana.
"Apa yang terjadi?" Tanya Leri pada Geya.
"Hanya sedikit salah paham," kilah Geya. Dia sama sekali tidak berniat menjelaskan urusan para manusia serigala pada Leri. Mungkin Evans yang lebih tepat untuk menjelaskan situasinya.
Para serigala kembali menyusuri hutan, namun dalam keadaan terpisah. Telepati mereka sudah sangat kacau, tugas mereka malam itu hanya menyelesaikan hasrat hewani mereka menjadi seekor serigala.
*****
Senin pertama di bulan Juli menjadi waktu bagi Qian untuk memulai sekolahnya. Tidak hanya Qian, di Senin pagi Leri juga tengah bersiap untuk ke sekolah. Kedua anak itu saling berebut keluar dari pintu terlebih dahulu. Di halaman rumah, mobil pick up Evans sudah menunggu. Leri berhasil membuat adiknya mengalah dan berlari masuk ke dalam mobil.
"Bolehkah aku ikut naik sampai gerbang sekolah?" Tanya Qian.
"Tidak, tidak ada tempat lagi." Leri menjawab dengan ketus.
Evans yang sedari berada diantara pertikaian dua kaka beradik itu akhirnya ikut menengahi. "Masuklah, masih muat satu orang." Seketika mata Leri melotot pada Evans. Tidak menyukai keputusan sepihak Evans.
"Tidak, tidak perlu, aku hanya ingin menggoda Leri."
Leri masih belum melepas tatapan matanya pada Evans. Memberi tanda agar Evans segera mengantarnya ke sekolah. Tanpa banyak protes, Evans segera menyalakan mesin mobilnya. Melaju di jalanan yang kering selama beberapa waktu.
Qian memang benar-benar memiliki niat untuk menggoda Leri. Pagi itu, Mitha sudah mengatakan akan mengantar Qian ke sekolah setiap harinya. Seperti yang dilakukan Mitha pada Leri sebelum Evans mulai rajin mengantar dan menjemput gadis itu.
Jauh berbeda dengan Leri, di hari pertamanya, Qian sudah mendapat seorang teman. Bernama David Juan. Seorang pria berkulit gelap yang suka berdagang dan olahraga, namun selalu gagal dalam pelajaran olahraga. Di tasnya, David selalu membawa barang dagangan seperti CD penyanyi dengan edisi terbatas namun bajakan, atau sepatu bermerk tapi imitasi tingkat satu. Semua dijual dengan harga murah, terkadang teman-teman David masih suka menawarnya.
"Aku David, kau bisa menjadikan aku teman ataupun musuh." David memperkenalkan dirinya sebagai teman sebangku Qian.
"Aku Qian sang pendatang baru."
"Jadi mana yang kau pilih, teman atau musuh?"
"Tergantung mana yang lebih menguntungkan," balas Qian.
"Aku suka itu, kupikir kita bisa berteman."
"Iya, aku juga merasa begitu."
Setelah pelajaran Biologi berakhir, David membawa Qian berkeliling. Sebenarnya hanya sebuah perjalanan singkat menuju kantin. Tapi berubah menjadi tour dadakan karena David menjelaskan semuanya pada Qian. Dari mulai guru yang seharusnya dihindari, guru yang paling ditakuti, hingga aib para siswa di kelasnya. Menjadi tur pertama Qian yang benar-benar luar biasa. Untungnya Qian pernah berteman dengan seorang yang suka bermasalah sebelumnya, jadi berteman dengan siapa saja bukan masalah untuk Qian.
"Jadi kenapa kau pindah ke Espion?" Tanya David ketika mereka mendapat meja serta makan siang.
"Ibu dan kakakku ada disini, aku pindah agar bisa lebih dekat dengan mereka."
"Oh begitu," balas David. Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Qian. Memberi tanda agar Qian juga melakukan hal yang sama, yaitu dengan mendekatkan telinganya ke bibir David. "Akan ada pesta nanti malam di rumah seorang anak bernama Tony." Setelah memberikan sebuah informasi, David menjauhkan wajahnya dari Qian.
"Kau akan datang?"
"Tentu saja, akan banyak orang yang mencari tiruan Nike."
"Kau akan berbisnis disana?"
"Yap."
"Kau memiliki undangan pesta."
David tertawa kecil setelah mendengar pertanyaan Qian. "Oh ayolah, kota ini hanya kota kecil, jika ada temanmu yang mengadakan pesta kau tidak membutuhkan undangan, undangan hanya akan membuat pesta menjadi sepi."
Qian hanya bisa menggaruk kepalanya. Suatu budaya yang cukup bertolak belakang dari tempat dulu dia tinggal. Tampaknya di tempat baru dia tinggal, semua hal menjadi cukup mudah. Tidak ada adu popularitas yang biasa dilakukan oleh para remaja.
"Di sana kau juga berkenalan dengan banyak gadis," lanjut David, namun tidak terlalu didengar oleh Qian. Di depannya, dua pria bertubuh tinggi datang menghampiri meja mereka. Mereka seperti dua orang senior.
"Anak baru, David?" Tanya seorang dengan baju dikeluarkan.
"Iya, namanya Qian."
"Qian." Qian segera bangkit dan memperkenalkan diri setelah David menyebut namanya.
"Aku Sam, dan ini temanku Joni." Seorang pria berambut keriting memperkenalkan diri beserta teman di sampingnya.
"Nama aslinya Samsul, tapi minta dipanggil Sam," sahut David menggoda pria bernama Sam.
"Percayalah, namaku tidak ada hubungannya dengan jualanmu." David segera memberi tanda tutup mulut.
Qian dan seorang pria bernama Jono tertawa melihat tingkah David dan Sam. Meski mereka senior, mereka terlihat cukup dekat dengan siapa saja. Bahkan bersikap santai dengan candaan yang dilontarkn oleh David. Serta mau berkenalan dengan anak baru terlebih dahulu. Suatu tempat yang cukup menakjubkan menurut Qian. Tinggal di kota kecil ternyata tidak seburuk perkiraaan Qian. Dia mendapat sambutan yang cukup baik dan hangat di hari pertamanya sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow
WerewolfSekumpulan mahluk mistis yang dianggap tidak ada ternyata memantau kehidupan manusia dari jauh. Sebagian dari mereka menjadi pelindung manusia, sebagian lainnya memburu manusia layaknya mangsa. Seorang gadis bernama Lerina menjadi saksi perburuan s...
