|Diam Adalah Bahasa Terbaik, Ketika Sedang Kecewa Dengan Keadaan.|
Sudah sekian jam berlalu. Pelajaran Bu Nunung tidak ada yang mengisi.
Ini adalah moment keberuntungan bagi anak kelas 10 IPS-4. Kesempatan mereka ada yang tidur di kelas, main games, bahkan bikin komunitas gosip dengan kursi dilingkarkan ke satu meja, ada juga yang sibuk ngelawak secara garing tetap mereka tertawakan.
"Udahlah Gal. Kalau lu nggak bisa ngelawak diem aja deh!" gerutu Ina sibuk memoles bibirnya menambahkan rona merahnya.
Di sisi aku diam-diam memandangi Ina begitu lihai melakukan make up ke mukanya sendiri tanpa pertolongan kaca.
"Kenapa lu liat gue gitu banget? Mau make?" tawarnya mengulurkan lipstick ke arahku.
"Enggak."
Aku memutar bola mata gak suka. Dia pun mendekatkan wajahnya ke dekat mukaku.
"Tumben bibir lu pucet? Gak pake ini." Unjuknya lagi-lagi pada benda yang dia pegang.
Aku memang gak pake rias bibir dan yang lainnya. Aku jadi kebayang hal kebencian Gibran ketika lihat bibirku merah.
"Nao trauma Ina." Seru Letta terkekeh duduk di bangku depanku, dia menghadapku sambil berkedip.
Membuatku harus menendang kaki kursi yang dia duduki.
"Nao ihh! Jatoh gue."
"Bodo."
Bete benar-benar bete. Aku tidak cerita kesiapa-siapa selain ke Letta juga Vinna soal kenapa Gibran saat itu membawaku ke ruangan kosong.
Memang benar, aku trauma setiap kali kebayang mata pisau Gibran, dan usapan kasarnya masih terasa jelas di bibirku.
"Trauma? Maksudnya?"
Letta kulihat dia ingin menjawab tiba-tiba saja dari sudut pintu ada suara ketukan dan semua terdiam melihat seseorang berdiri di ambang pintu tampak gagah dari cara mengetuknya saja aku hafal.
"Gibran," ucapku dalam hati.
Gibran dengan penampilan yang selalu rapih hari-harinya seperti biasa, tak berubah. Tapi, dari tatapan dia, dan cara dia jalan membuat keasingan di mataku.
Apa benar dia Gibran? Kok makin serem aja.
Seluruh murid di kelasku pun kelabakan berbalik ke posisi semula. Gibran datang udah kaya lihat salpo pp hendak menggerebek mereka.
"Inah! Awas lu. Gue mau duduk, dandan mulu!" omel Vinna dengan nada agak sedikit keras. Ina pun bangkit menggeser posisinya.
"Bacot lo! Anjrit!"
Ina dengan sigap menyembunyikan barang rias miliknya, ke saku rok, agar tidak ketauan Gibran. Namun sayang penciuman Gibran mungkin bisa menembus apapun itu, termasuk sehelai baju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ex Status
Novela Juvenil[Republished] #3 in romanceschool [21-4-22 | 30-06-24] Percaya deh, mantan bakalan balik ke tangan kita lagi. Walaupun banyak bencana yang menghampiri. Aku nggak akan takut! Karena jika Tuhan mengkehendakinya Dia untuk aku. Mereka bisa apa? Takdir...
