31 : Rivaldo!

716 32 5
                                        

"Tapi, dia pencuri, yang mau nyuri kebahagiaan kita."

"Kebahagiaan kita?"

Berpikir keras Naomi. Hasilnya pun tetap saja enol. Naomi gak ngerti maksud Gibran. Naomi lagi susah mencerna sekarang, akibat perasaan dia lagi campur aduk, udah gitu terus dibuat ambigu sama sikap Gibran saat ini. Gak tau Gibran lagi kenapa. Ada apa. Dia gak mau jelasin apa yang sebenarnya terjadi. Naomi gak bisa banyak tanya selain ikutin saja kemauan dia.

Naomi gak mau lihat Gibran kesal.

"Kalau itu menyangkut kebahagiaan kita berdua. Nao gak bisa diem aja, Nao mau hadapin orangnya yang berani merebut kebahagiaan kita!"

Naomi berbalik badan bak sosok pahlawan yang siap bertempur di medan perang. Dia sudah menggulung lengan baju seragamnya hingga sikut, biasanya sih Naomi pakai baju lengan pendek, sebab bajunya belum kering di jemuran terpaksa pakai baju lengan panjang.

Kemudian, dia ikat kuat-kuat rambutnya agar pas adu tenaga rambut Naomi tidak menganggu semangat dia menghajar orang. Dan diangkat pula roknya saat hendak berjalan belum ada dua langkah Gibran menarik belakang rok Naomi, mengharuskan Naomi jalan mundur.

"Gue bilang jangan, gak usah ngeyel!"

"Turunin roknya." Gibran menepis tangan Naomi yang masih menjinjing sisi roknya, terangkat.

Gibran sangat tidak suka, pemandangan kayak gitu.

"Mau di sini sampai kapan. Kitakan harus pulang. Lagipula sekolah gak aman menjadi tanggung jawab kita. Udahlah kalau terjadi apa-apa, Nao tinggal teriak, gampangkan."

"Lu gak tau siapa orangnya yang gue maksud kan,"

Naomi menggaruk rambutnya yang gatal sebelah, sangat cocok dengan raut dia yang kebingungan daritadi, tidak dipertanggung jawabkan oleh Gibran.

Bagaimana Naomi bisa tau, orang daritadi Gibran sibuk sama dunianya sendiri. Gak mau cerita apapun ke Naomi.

Naomi tidak menjawab, Gibran lanjut bicara.

"Orang yang gue maksud... itu Rival."

Gibran menyebutkan namanya tanpa mengeluarkan suara sama sekali, hanya menggunakan gerak bibir. Tidak lama gema suara menyebut nama Naomi di kejauhan, membuat Naomi replek nengok ke seseorang yang mendekati.

Kaki Naomi bergerak mengikuti perintah otaknya, menghampiri pria yang memanggilnya barusan. Tujuan Naomi bukan sengaja, lebih tepatnya ia ingin menghindari keberadaan Gibran di sana, supaya tidak diketahui Rival.

"Ngapain lu di situ? Ngomong sendirian,"

"Eng-abis nelepon temen. Lu ngapain ke sini?" tanya balik Naomi, agak khawatir, mudah-mudahan Gibran aman.

"Gue liat lu, ya gue samperin. Kenapa gak pulang?"

"Ini juga gue mau pulang, bawel!"

"Pulang sama siapa?" cekal Rival lumayan kencang cengkramannya Naomi rasakan.

Kaki Naomi hendak pergi pun tertunda.

"Sakit, ah!" tepis Naomi melepaskan cekalan Rival. "Gue mau pulang sama siapa kek bukan urusan lu, gak biasanya lu peduli sama gue."

Rival yang tak mau banyak bicara, dia membawa Naomi ditarik tangannya sampai ke parkiran.

"Gue nanti pulang bareng Gibran!" tukas Naomi. Tangannya tak kunjung dilepas oleh Rival, kecuali Naomi sendiri menarik tangannya dari cengraman Rival.

"Ren,"

Rendy lari di kejauhan menghampiri Rival ketika dipanggil namanya. Ia pun langsung dihadang sebuah kunci yang dilemparkan Rival hampir mengenai mukanya.

Ex StatusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang