39 : Tahap Jujur.

693 29 2
                                        


Naomi's POV.

"Terima kasih ya."

Terima kasih aja dulu, urusan dia suka aku bilang terima kasih atau tidak itu gak penting, yang penting itu aku nyengir ke dia sampai dia menarik wajahnya menjauh dariku.

"Untuk?" tanya Gibran. Aku tau dia gak niat bertanya.

"Untuk hari ini, padahal kamu lagi sakit tapi mau masakin buat aku juga."

"Itu karena gue lapar aja, makanya gue masak. Soalnya kalau gue nyuruh lu masak itu sangat tidak mungkin. Tidak mungkin orang seperti lu bisa masak, apalagi masakkin buat gue."

Yakan. Sudah aku bilang. Dia gak niat bertanya, dia cuman mau jawab pakai kalimat seenak hatinya dia saja. Emangnya kamu pikir aku selamanya gak bisa masak? Aku bakalan usahain bisa selagi kamu yang minta Gibran.

"Kalau kamu bilang, aku pasti usahakan masak buat kamu. Kamunya gak bilang. Aku juga manusia, gak selalu bisa paham, Gibran."

Entah. Berapa detik Gibran terdiam setelah mendengar perkataanku barusan. Dia pasti kaget aku pakai kalimat yang seolah membalikkan fakta pada dia. Gibran sempat menduga aku dapat kalimat seperti itu karena aku kebanyakan nonton drakor atau film barbie yang ada terjemahan Bahasa Indonesianya dengan adegan bertengkar. Padahal, emang benar.

"Iya emang kenapa?" jawabku, lagi-lagi gak ada jawaban dari dia. Gibran malah pergi sesuai kebiasaanya, lari dari masalah.

"Iban mau kemana? Kamu masih sakit gak boleh keluyurun! Cukup aku aja yang suka keluyuran!"

"Kok lu ngatur-ngatur gue sih!"

Tuhkan, susah banget dibilangin!

"Sssttt! Ini nih ya ini!"

"Apasi!" gubris Gibran berupaya menyingkirkan jari telunjukku yang sengaja aku tempelkan ke bibir dia gak pakai kelembutan lagi, abisnnya susah dikasih tau untuk tidak bicara kasar.

"Jangan bicara kasar."

"GAUSAH PEGANG-PEGANG BIBIR GUE! LU JUGA SAMA BERARTI KAGAK BENER KAYAK GUE!"

Aku menarik tanganku menjauh dari wajah Gibran lalu aku elap ke bajuku. "Aku gak bermaksud bilang kamu gak bener. Aku cuman gak mau kamu ngomong kayak gitu."

"Bisa gak, gak usah bahas soal cara bicara kita."

"Cara bicara kita? Cara bicara kita itu dulu sama, aku-kamu."

"Gue tetep kayak gini."

Lama-lama aku masukin ke pesantren juga nih anak supaya jadi kalem dikit gitu. Dia sadar gak sih kalau dia pakai bahasa kasar kayak gitu tuh keliatan jelas banget ngajak ributnya, gak cocok sama muka polosnya itu, beda sama Rival yang emang udah khasnya begitu, udah kayak lalapan sehari-hari, sekalipun ucaoannya diluar nalar gak bakalan ada yang merasa tersinggung..

"Oke. Aku juga bakalan terus ingetin kamu. Setiap menit." Aku memang harus buat peraturan juga sama sepeti dia.

"Permisi Tuan. Papa sebentar lagi menuju lokasi. Jadi perempuan ini harus kita basmi."

Blam!

Eh, apa tadi katanya? bakmie?

Gibran mengernyit, raut wajahnya berubah jutek lalu berjalan mendekati pria penjaga rumahnya di sana.

"Basmi? Lo udah kemakan ucapan Djuanda ya?"

Eh, basmi toh? Lho maksudnya.

"Sembarangan. Dikata saya nyamuk DBD dibasmi."

Ex StatusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang