Naomi's POV.
Ini serius aku diginiin?
Ini serius Gibran bicara seperti itu?
Ini serius kan?
Semua pertanyaan yang muncul di kepalaku. Aku tertegun, lalu aku menajamkan pandanganku padanya. Dia semudah itu mengatakannya?
"Apa? Aldion? Kamu serius bicara seperti itu?"
Heran deh, dia suka banget bawa-bawa orang lain dalam permasalahan aku dengan dia. Terutama soal Aldion. Padahal aku di sekolah cowok yang dekat denganku tidak hanya Aldion, banyak lho, tapi dia selalu bahasnya Aldion.
Apa jangan-jangan Gibran lagi cemburu sama Aldion?
"Ya, lebih baik dengan Aldion. Setidaknya dia bisa memberikan hal yang aku tidak bisa, hidup tanpa bayang-bayangan masalahku. Itu sudah jadi keputusanku."
"Kamu pikir aku itu apa Gibran? Barang yang bisa kamu berikan ke orang lain? Aku maunya kamu bukan Aldion! Aku tidak mau Aldion!"
Perempuan mana yang bisa menjeda kalimatnya disaat emosinya sudah meluap sepertiku ini. Semua perempuan pasti sama.
"Aku tidak mau tahu soal Aldion. Aku mau tau kenapa kamu melakukan ini, Bran? Kenapa kamu sampai harus menyuruhku pergi? Apa sebenarnya yang terjadi, apa yang terjadi di antara kamu sama Papamu? Sampai kamu harus menghancurkan hubungan kita?!"
Ya, aku kelepasam membentak dia. Aku menatapnya dengan tatapan memaksa. Gibran tetap diam meskipun aku tau dia sedikit terkejut di sana karena aku terlalu serius mengatakannya.
Dering telepon Gibran kembali berbunyi, kali ini ponselnya sudah ada digenggaman tangannya di sana. Kulihat Gibran berbisik pelan, ekpresinya pun menjadi dingin setelah melihat layar ponselnya itu. Gibran mengabaikannya, membiarkan dering itu mati.
Kuperhatikan ekspresi Gibran, aku merasa ada yang janggal dari semua kalimat Gibran barusan. Mungkin dugaanku benar, hubungan Gibran dengan Papanya sedang kurang baik.
"Bran, itu telepon dari Papa kamu kan? Angkat aja."
Aku mulai menurunkan nada bicaraku kesemula, tetapi yang diajak bicara terus-terusan memancing kesabaranku.
"Gak perlu. Gue lagi gak mood."
Ponsel Gibran kembali berdering ketiga kalinya. Aku jadi gak enak hati kalau begini, kenapa gak diangkat saja sebentar, apa susahnya bilang lagi di luar nanti telepon balik. Udah. Tuntas kan!?
"Gibran, please angkat aja sebentar, siapa tau ada hal penting."
"Gue bilang enggak ya enggak. Kenapa jadi mendesak gue sih?! Gue gak mau dengar ceramah dia lagi sekarang!"
Gibran terlihat stress dan frustrasi. Ponsel Gibran kembali berdering untuk ke Empat kalinya. Aku menghela nafas panjang, aku tau Gibran tidak akan mau bicara, tapi panggilan ini sama kerasnya dengan ego Gibran di sana tidak bisa terus diabaikan. Aku mengulurkan tanganku.
"Kalau begitu, berikan ponselnya ke aku."
Gibran menoleh cepat. "Hah? Mau apa?"
Aku dengan sedikit gemetar, tapi aku sudah mantap dengan keputusanku ini, yang jelas rasa penasaranku justru semakin besar. Aku tahu kamu lagi menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar 'masalah keluarga'.
Aku gak peduli. Mau aku diancam, mau dicaci maki, mau dihina, mau aku---diminta menjauh dari kamu sekalipun, aku gak peduli, yang penting aku mau kamu baik-baik aja Gibran.
"Aku yang akan bicara. Aku akan bilang kamu lagi menyetir, supaya Papa kamu menelpon balik nanti."
Sepenuhnya kupastikan dia sedang tidak percaya padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ex Status
Teen Fiction[Republished] #3 in romanceschool [21-4-22 | 30-06-24] Percaya deh, mantan bakalan balik ke tangan kita lagi. Walaupun banyak bencana yang menghampiri. Aku nggak akan takut! Karena jika Tuhan mengkehendakinya Dia untuk aku. Mereka bisa apa? Takdir...
