25 : Usaha Letta Demi Gibran.

979 45 3
                                        

Jatuh dan Cinta.

Sebelumnya memang pernah aku alami. Bahkan dengan orang yang sama.

Tetapi, rasanya tidak sekhawatir ini.

Bruk! Bruk!

Ketukan alas sepatuku, melangkah terburu-buru saat menuruni anak tangga menuju ruang tamu dari kamarku.

Belum tiba di tangga terakhir. Tiba-tiba suara gema amukan Papa terdengar jelas dari atas tangga yang aku turuni saat ini.

Dengusanku mulai berat lagi. Mau lanjut turun pun rasanya malas sekali.

"Pagi-pagi udah berantem aja sih." Dumalku dibalik dinding tangga yang menghalangi keberadaanku, supaya Papa dan Mama tidak tau ada aku di sini .

"Peraturanku gak boleh diubah, siapapun! Kamu tetap di sini temani anakmu, jangan sampai ada kabar buruk lagi aku dapatkan soal Gibran!"

Ya, lagi-lagi mereka bertengkar soal aku. Aku yang bagaikan boneka bagi mereka.

Sikap Papa yang terlalu overprotektif, mengekang setiap langkahku, bahkan mereka menjadikanku mainan yang harus menuruti kemauannya mereka semua, tanpa perduli bagaimana perasaanku dan keinginanku.

Sedangkan Mama, dia tak seperti Papa. Hanya saja dia jadikanku seperti pajangan, diabaikan, tidak diperhatikan. Dia sibuk dengan teman-temannya setiap hari. Jarang kutemukan kasih sayang Mama, juga Papa apalagi. Sekalipun ada, itupun karena kemauan mereka.

"Tapi aku ada urusan Pah, di bogor sama temen-temen. Sudahlah Gibran sama si Mbo aja seperti biasa. Kamu jangan berlebihan kayak gini ke anak. Ngertiin aku juga, aku sibuk!" ucap Hilly.

"Kamu itu jadi Ibu kandung punya kewajiban menjaga anaknya. Ini kok malah gak pernah ada di rumah setiap saya pulang. Urusanmu itukan bisa saja dipending, urusan anak gak akan pernah bisa!" tekan Djuanda, mulai memuncakkan amarahnya.

Hilly disisi dia takut anaknya mendengar, tapi Hilly tidak bisa menunda atau membatalkan pertemunnya itu.

"Aku sayang sama Gibran, aku akan jaga Gibran sesuai cara aku sendiri. Biarkan dia mandiri. Dia sudah dewasa. Aku gak kaya kamu terlalu mengikat, sampai kamu sendiri berani kasarin dia pakai kekerasan. Itu sama saja kamu membunuh dia! Kamu sadar dong!"

"Kamu ini kalau bicara pada suami. Gak bisa sopankah!"

Kulihat Papa mulai mengisaratkan tanganya hendak menampar Mama. Aku lantas turun, mengeraskan suaraku dari atas. Usai menyaksikan pertengkaran mereka tak bisa aku mengerti. Sadar gak sih. Mereka itu sama sifatnya. Tidak ada yang mengalah.

"Pah, kalian ini sama saja. Sama-sama bikin anaknya semakin stress! Setiap hari Gibran harus ngeliat kalian berantem. Mending kalian pergi. Biarkan Gibran di sini sama Mbo! Lebih tenang hidup Gibran. Selama ini yang ngurus Gibran ya si Mbo."

"Gibran! Kamu diantar bodigar." Ucap Djuanda, menancapkan paku di kakiku . Namun aku berhasil menghancurkan tancapannya. Terus berajalan menaiki motor punya Mama.

"Gak perlu. Gibran bawa motor Mama."

"Hati-hati Nak!" teriak Hilly, jujur saja jiwa Hilly sebenarnya lebih khawatir saat melihat anaknya mesti dibentak oleh Papanya sendiri.

"Gibran! Kamu jangan ngebangkang ya! Ajudan. Kawal Gibran sampai sekolah." Perintah Djuanda memanggil kedua ajudannya, dan menyuruh mengawali Gibran menggunakan mobil.

♦♦♦

Kali ini.

Untuk pertama kalinya namaku. Dicatat dalam buku siswa yang terlambat.

Ex StatusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang