Chapter 32

9K 407 22
                                        

Hari ini mereka menjalankan misi yang mereka rencanakan kemarin.

"Pak saya mau ijin masuk boleh gak pak?" Tanya Dimas kepada pak Ahmad yg sedang berada di dalam ruangan cctv itu.

"Mau apa kamu?" Bukannya menjawab pak Ahmad malah balik bertanya.

"Si bapak bukannya jawab malah nanya balik." Ujar Leo pelan.

"Penting pak, bapak tau Adella Anatasya? Yang pacarnya Galvin itu loh masa iya bapak gak tau." Cerocos Dimas.

"Oalah Adella, murid itu mah saya tau. Ada apa memangnya?" Kembali Pak Ahmad bertanya.

"Itu pak kita mau liat siapa yang ngunci Della di kamar mandi sampe pingsan pak terus Dellanya masuk rumah sakit pak." Cerocos Dimas lagi.
"Siapa yang melakukan itu?" Tanya Pak Ahmad.

"Kalo kita tau mana mungkin kita dateng kesini pak." Ujar Dimas menahan kekesalannya.

"Oalah, jadi kalian kesini mau liat siapa yang mencelakakan Della?" Tanya Pak Ahmad.

"IYA BAPAK!!!" teriak mereka ber-4 yang gregetan dengan pak Ahmad.

"Ya sudah, kalian saya perbolehkan masuk." Ujar pak Ahmad.

"Pak makasih pak makasih banget, bapak baik banget aduh." Ujar Dimas yang kelewatan lebaynya.

"Tapi dengan satu syarat." Ujar pak Ahmad membuat senyum mereka ber-4 menghilang.

"Syaratnya apa pak?" Tanya Raka lesu.
"Saya harus ikut masuk dan saya juga mau lihat." Ujar pak Ahmad.

"Yaelah pak saya kira syaratnya apaan, kalo gitu mah gak papa kalo bapak ikut masuk." Ujar Raka.

"Ya sudah kalo begitu, mari kita masuk." Ujar pak Ahmad memasuki ruangan tersebut, namun tiba-tiba ponsel Dimas berbunyi.

"Eh bentar, ini Galvin nelpon. Lu pada duluan aja nanti gue nyusul." Ujar Dimas mengangkat telepon dari Galvin.

"Halo vin, kenapa oi?" Ujar Dimas menyapa Galvin terlebih dahulu karena tidak mungkin Galvin menyapa duluan.

"Gimana?" Tanya Galvin to the point.

"Belum juga gue masuk ruangan cctv, nanti kalo udah gue kabarin." Ujar Dimas panjang lebar.

"Oke." Ujar Galvin mematikan sambungan telepon.

"Anjir ini orang, gue ngomong panjang-panjang di jawab oke doang." Ujar Dimas kesal lalu ia memasukan ponselnya ke kantongnya dan menyusul masuk kedalam ruangan cctv.

"Gimana? Siapa pelakunya?" Tanya Dimas namun tidak ada yang menyaut mereka ber-5 termasuk pak Ahmad sibuk memperhatikan layar yang menunjukkan kejadian dimana Della di kunci.

"Woy jawab ngapa, diem-diem bae. Jawab ngapa jawab." Ujar Dimas terlihat kesal karena tidak ada satu pun.

"Tonton makanya, jangan banyak bacot!" Ujar Raka kesal karena Dimas sendari tadi ribut.

"Yaudah sih maap." Ujar Dimas memanyun kan bibirnya. Galang yang melihat itu merasa jijik melihat Dimas sok imut.

"Gak usah so imut lu banci alun-alun." Ujar Galang menoyor kepala Dimas.

"Astagfirullah, salah mulu cogan."

"Lu pada berisik banget, bisa gak liat layar dulu. Kita disini nyari siapa pelaku yang ngunci Della tapi kalian malah ribut yang kaga penting." Ujar Leo akhirnya buka suara karena merasa kesal pada sahabatnya.

Seketika mereka terdiam dan memperhatikan layar bersama-sama dengan tenang.

"ANJIR, KAN BENER DUGAAN GUE KALO DIA EMANG PELAKUNYA. DASAR CABE KERING!!" Teriak Dimas saat melihat Puspita yang sedang mengunci Della.

She Is MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang