Sore telah tiba, namun Galvin masih tertidur dengan nyenyak. Tapi tidurnya itu terganggu dengan suara ketukan pintu.
Tok...tokk...tokkk
"Galvin sayang, bangun sayang udah sore," Ujar Alexandra mengetuk pintu kamar Galvin.
Galvin mengeliat dalam tidurnya, segera ia membuka matanya, "Iya ma Galvin udah bangun," Ujar Galvin.
"Yaudah, kamu mandi sekarang habis mandi langsung turun buat makan malam," Ujar Alexandra.
"Iya ma, nanti Galvin turun," Ujar Galvin, ia melupakan sejenak masalah yang di bicarakan oleh Gerald. Setelah nyawanya terkumpul Galvin berlalu menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi Galvin kembali mengecek ponselnya, ternyata ada beberapa pesan dari sahabatnya serta beberapa panggilan tak terjawab dari papa Della.
Galvin menaikan satu alisnya, kenapa om Fransisco menelfon nya. Apakah ada sesuatu penting? Galvin harus menelfon balik.
Galvin mencobaenelfon fransisco, tetapi tidak di angkat. Todak penting mungkin-batin Galvin. Segera dia keluar dari kamarnya dan pergi ke meja makan.
Di meja makan!
"Abang mau ke rumah sakit lagi?" Tanya Lauren menatap Galvin.
"Iya, kenapa?" Tanya Galvin balik.
"Ren mau ikut ya," Ujar Lauren dengan nada memohonnya.
"Gak boleh, besok kamu sekolah. Besok aja ke rumah sakitnya." Ujar Galvin membuat Lauren memanyunkan bibirnya.
"Abang mah," rengek Lauren, sedangkan Johnny sudah tertawa melihat muka memelas Lauren.
"Apa lo ketawa ketawa!" Sewot Lauren menatap Johnny tajam, namun Johnny tidak mengubrasinya.
"Ma pa Galvin pergi dulu ya, kemungkinan Galvin nginep di rs." Ujar Galvin menyalami kedua tangan orang tuanya dan mencium pipi mamanya.
"Iya, hati hati di jalan. Titip salam buat menantu mama." Ujar Alexandra.
"Iya ma, Galvin pergi." Ujar Galvin meninggalkan meja makan menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
Sampainya di rumah sakit, Galvin berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit untuk pergi ke kamar Della.
Dari luar kamar rawat Della Galvin mendengar keributan di dalam, siapa lagi kalau bukan teman-temannya. Saat Galvin masuk ke kamar rawat Della di sambut heboh oleh teman-temannya, Galvin hanya menatap teman-temannya datar.
"Vin lo lama amet ke sini, Della dari tadi nyariin lo. Sampe nangis pula." Ujar Dimas sambil memakan kacangnya.
"Nangis?" Tanya Galvin, menatap Dimas meminta penjelasan.
"Iya tadi Della nangis nyariin lo gara-gara lo kelamaan kesini, terus dia langsung tidur waktu selesai nangis."
"Bokap Della juga nelfon lo kan? Habis nelfon lo bokap nyokapnya Della pulang terus Della di titip ke kita." Jelas Raka panjang lebar.
"Ohh, thanks." Ujar Galvin singkat.
"Sabar ya bro ini ulangan." Ujar Dimas mengelus dada Raka.
"Najis lo, ngapain ngelus ngelus. Lo kira gue lucinta luna ape." Ujar Raka menepis tangan Dimas.
"Lo pada ribut dah." Leo yang sendari tadi diam pun angkat berbicara, karena ia merasa terganggu.
"Eh jam berapa nih?" Tanya Dimas panik.
"jam 7 ngapa lo panik gitu?" Tanya Galang.
"Pulang kuy, gue mau nonton anak bumi nih," Ujar Dimas.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Mine
RomantikSeiring berjalannya waktu orang bisa saja berubah begitupun Della. P.s: jangan di copy tolong:" Follow jg akun ini ya
