Chapter 39

4.6K 273 15
                                        

Happy reading 📖




Setelah pesta tadi Galvin dan Della memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena Della sudah mengantuk.

Saat di perjalan ke rumah Della, Galvin mulai membuka obrolan.

"Sayang ada yang harus aku omongin sama kamu." Ujar Galvin melirik Della yang tengah berselfie.

"Mau ngomongin apa?" Tanya Della menaruh ponselnya kedalam tas lalu menatap Galvin yang tengah menyetir itu.

"Masalah kuliah aku." Della yang awalnya menatap Galvin semangat langsung berubah murung.

"Kenapa kuliah kamu?" Tanya Della dengan nada sedikit datar. Galvin menoleh kearah Della saat mendengar suara Della yang berbeda.

"Kata papa, dia udah nyiapin semua keperluan aku buat kuliah di Amerika." Galvin mulai menjelaskan.

"Kapan berangkatnya?" Tanya Della lagi.

"5 hari lagi." Jawab Galvin membuat Della terdiam, Galvin menoleh kearah Della.

"Baby." Saat Galvin akan menyentuh pipi Della, tapi malah di tepis oleh Della dan keluar dari mobil untungnya saat ini sudah sampai di rumah Della.

Galvin ikut keluar dari mobilnya lalu mengejar Della.

"Sayang hey tungguin aku." Galvin masuk kedalam rumah.

"Loh Galvin, kenapa main kejar-kejaran malem-malem gini?" Tanya Ariana menatap Galvin bingung.

"Bukan tante, kayanya Della marah."

"Marah kenapa?" Tanya Ariana penasaran.

"Tadi saya bahas tentang kuliah saya di Amerika."

"Oalah gitu, kamu pulang dulu nanti tante yang bujuk Dellanya biar ngertiin kamu." Suruh Ariana pada Galvin.

"Yaudah tante, kalau gitu saya pulang dulu." Galvin menyalami tangan Ariana dan berlalu meninggalkan rumah Della.

Sedangkan dikamar, Della tengah menangis entahlah ia merasa belum siap ditinggalkan oleh Galvin. Apalagi dengan waktu yang sangat lama. Walaupun Galvin pintar dan bisa lulus dengan cepat tapi sama saja itu pasti sangat lama bagi Della. Saat Della sibuk dengan pikirannya terdengar pintu yang di ketuk.

Tok... Tokk... Tokk

"Sayang mama boleh masuk?" Tanya Ariana.

"Masuk aja ma, nggak dikunci kok." Teriak Della.

Ceklek..

Pintu terbuka, muncullah Ariana.  Ia menghampiri putri kesayangannya itu.

"Sayangnya mama kenapa nangis?" Tanya Ariana mengelus rambut Della.

"Aku... Hikss... Belum siap ditinggalin sama Lano mama." Della memeluk perut Ariana.

"Sayang dengerin mama ya,  Galvin pergi ke Amerika kan buat belajar, bukan buat main-main. Kamu harus percaya sama Galvin." Ujar Ariana mengusap rambut Della.

She Is MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang